alexametrics

Cepat Pahami Volume Bangun Ruang melalui Pendekatan Konstruktivisme

Oleh: Supiyah, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SALAH satu tujuan mata pelajaran matematika adalah menggunakan penalaran terhadap pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun sebuah bukti atau menjelaskan gagasan dan pernayataan matematika. Oleh sebabitu disini penulis menyajikan metode pendekatan Konstruktivisme dengan didasari oleh penelitan Maniar (2007) yang menerapkan pendekatan konstruktivisme pada pembelajaran matematika materi pokok volume bangun ruang di kelas V SDN 02 Yosorejo Kecematan Siwalan Kabupaten Pekalongan.

Penulis memandang perlu melakukan sebuah pendekatan pada penyampaian materi. Yaitu dalam bentuk pendekatan konstruktivisme, merupakan suatu pendekatan yang memandang siswa sebagai individu yang secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dengan mengalami dan bekerja dengannya dalam proses yang berkesinambungan memasuki dunia nyata terhadap fakta dan keterampilan yang dipelajari secara utuh dan terdapat proses menghubungkan pengetahuan baru dan keterampilan ke dunia nyata dalam pengetahuan serta keterampilan yang sudah ada sebelumnya.

Baca juga:  Metode Drill Membaca Surah Pendek, Siswa Tak Lagi “Liar”

Salah satu peneliti mengemukakan bahwa konstruktivisme adalah suatu pendekatan pendidikan dan pembelajaran yang didasarkan pada asumsi bahwa kognisi disebakan oleh perkembangan mental dengan kata lain bahwa siswa belajar dengan memberikan pernyataan baru dengan pengetahuan yang sudah ada.

Begitu pun selama pemelajaran matematika untuk mempelajari materi matematika baru pengalaman belajar sebelumnya (desain asli) sebagai pengetahuan awal siswa akan mempengaruhi proses pemelajaran matematika, jadi langkah pertama yang perlu dilakukan guru ketika mengajarkan materi baru adalah sesuatu yang baru dengan keutuhan materi berkaitan dengan konsep yang sudah ada dalam struktur pengetahuan siswa.

Siswa sekolah dasar biasanya berusia 7 sampai 12 tahun usia tersebut berada pada tahap aktivitas spesifik sehingga untuk memudahkan siswa menyerap materi matematika baru dalam proses pemelajaran perlu diletakkan dalam konteks (situasi nyata) termasuk ojek fisik yang didukung hubungkan pengetahuan dan keterampilan yang sudah mereka miliki dengan materi baru untuk dipelajari. (Mulyati, 2016).

Baca juga:  Perlunya Perhatian Khusus Pendidikan Karakter di Masa setelah Pandemi Covid -19

Sedangkan tahapan penjelasan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivism dijelaskan oleh Yager (Hamzah 2001) adalah seagai berikut : Tahap persepsi (mengungkap konsepsi awal dan membangkitkan motivasi belajar siswa), pada tahap ini siswa didorong untuk mempresentasikan pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan diahas. Jika perlu guru mengajukan pertanyaan prolematik tentang fenomena yang dihadapi siswa sehari-hari dan menghuungkannya dengan konsep yang akan diahas setelah itu siswa memiliki kesempatan untuk erkomunikasi dan mendemonstrasikan pemahaman mereka tentang konsep terseut.

Kedua, tahap eksplorasi, Pada titik ini siswa memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi dan menemukan konsep dengan mengumpulkan mengatur dan menafsirkan data sebagai bagian dari aktivitas yang dirancang guru. Secara umum pada tahap ini rasa ingin tahu siswa tentang fenomena lingkungan akan terpuaskan. Ketiga, Tahap diskusi dan penjelasan konsep, pada titik ini siswa melakukan rainstorming penjelasan dan solusi berdasarkan pengamatan siswa ditambah penguatan guru.

Baca juga:  Pianica Melodica Menyenangkan untuk Pembelajaran Musik Sederhana

Selanjutnya siswa mengembangkan pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipertimbangkan. Ketika siswa memerikan penjelasan dan solusi berdasarkan hasil pengamatan mereka serta dengan penguatan guru siswa dapat memperoleh wawasan baru tentang konsep yang dipelajari. Hal ini memungkinkan siswa untuk tidak lagi meragukan desain mereka.

Keempat, tahap pengembangan dan aplikasi konsep, pada langkah terakhir ini guru berusaha untuk menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan siswa menerapkan pemahaman konseptual mereka baik melalui kegiatan maupun melalui pemecahan masalah yang terkait dengan masalah di lingkungan siswa.

Hasilnya setelah penerapan pendekatan konstruktifisme menunjukkan bahwa adanya peningkatan minat, aktivitas, serta hasil belajar siswa, terlihat dari peningkatan rerata skor kelas. (cd2/zal)

Guru SDN 02 Yosorejo, Kab. Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya