alexametrics

Meningkatkan Belajar Menulis dengan Membaca

Oleh : Siti Khulmiatun, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Bahasa sudah merupakan hal yang tak akan terpisahkan dengan kehidupan manusia. Bahasa tercipta seiring lahirnya manusia itu sendiri. Menurut Tarigan (2013) dalam bukunya yang berjudul Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, berbahasa terdiri dari 4 keterampilan yang harus dikuasai. Yaitu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Dan keempat keterampilan tersebut saling terkait satu sama lain.

Di masa pandemi ini, merupakan masa yang sulit bagi para pelaku pendidikan di Indonesia. Dimulai dari tahun 2020, pendidikan di Indonesia mengalami perubahan yang radikal.

Tatap muka mulai dilarang dan sebagai gantinya pembelajaran daring diberlakukan. Tak sedikit masalah yang dihadapi, pembelajaran daring menimbulkan miskomunikasi antara guru dan murid, dan membatasi praktik pembelajaran yang seharusnya dijalani.

Dalam berbagai hal permasalahan pembelajaran daring saat ini, yang paling menonjol dan sering dialami adalah menurunnya keterampilan berbahasa dari siswa. Terutama kesulitan dalam membaca dan menulis. Pembelajaran daring gagal menarik minat belajar siswa terkait berbahasa.

Baca juga:  Empat Cara Agar Pembelajaran Daring Optimal

Permasalahan ini bahkan ditemukan pada kelas tinggi dimana keterampilan berbahasa menjadi pengantar utama dalam belajar. Dan permasalahan ini membuat siswa gagal memahami materi apa yang disampaikan.

Membaca dan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling sering digunakan di kelas tinggi dibandingkan keterampilan berbahasa yang lain. Menurut Dadan Suwarna (2012) dalam bukunya Trik Menulis, menulis merupakan menguasai beragam jenis wacana yang berupa rangkaian paragraf yang disusun dalam satu kesatuan maksud.

Wacana menurutnya adalah teks bacaan. Siswa akan lebih mudah dalam menulis jika menguasai keterampilan membaca. Bisa membaca dan bisa menulis, diharapkan akan membuat siswa menangkap materi yang disampaikan.

Membaca akan lebih mudah dilatih melalui pembiasaan dan latihan sehari-hari. Berdasarkan teori Behavioristik menurut Thorndike (Semium, 2020), belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indra.

Baca juga:  Pembelajaran Interaktif Keberagaman Masyarakat Indonesia melalui Chennel YouTube

Melalui pendekatan behaviorisme banyak cara untuk memulai berlatih membaca. Berlatih membaca dapat diawali dari keseharian, mulai dari membaca iklan, majalah, tulisan yang tertempel, maupun gadget dan games. Tak sekadar membaca, lanjutkan asah keterampilan seperti membaca cepat dan menghafal.

Hafalkan setiap kata dan setiap huruf dalam bacaan, lalu ambil pena dan kertas, mulailah tuliskan kata dan huruf atau simbol apapun itu, baik yang diingat maupun yang dilihat. Sembari membaca, sembari menulis, ulangi hal itu terus menerus sampai benar-benar hafal dan lihai dalam memegang pena.

Dalam kegiatan tersebut, kita melalui dua kegitan sekaligus, yaitu membaca dan menulis. Namun perlu diperhatikan, membaca merupakan kegiatan dasar dalam menulis. Maka dari itu porsi membaca haruslah diberikan lebih dalam menulis.

Setelah tercapainya keterampilan menulis dasar, siswa perlu mengembangkannya ke tingkat yang lebih lanjut dengan merangkai kata menjadi sebuah kalimat. Lalu kalimat disusun menjadi paragraf, dan secara berlanjutan berdasarkan apa yang ada dibenaknya sendiri tanpa terpaku dengan apa yang dibaca.

Baca juga:  Pembelajaran Keterampilan Membaca Anekdot dengan Metode Pagu

Dalam hal ini, siswa masuk ke tingkat menulis kreatif. Dalam menulis kreatifpun penguasaan kosakata menjadi faktor utama dalam penyusunan tulisan, dan lagi keterampilan membaca kembali mengambil andil yang besar. Membaca lebih banyak, perbendaharaan kata bertambah pula, menulis kreatifpun akan lebih leluasa.

Menyadari betapa erat kaitan kedua keterampilan berbahasa ini, guru sebagai pendidik dapat mengajari peserta didiknya hanya dengan pembiasaan sederhana sehari-hari.

Literasi merupakan langkah awal yang paling mudah. Dalam pembelajaran daring, berikan paling tidak satu bacaan untuk peserta didik. Baik berupa cerita dan berita. Lalu berikan refleksi tentang bacaan yang telah diberikan. (pb1/lis)

Guru SDN 1 Sokawera, Padamara, Kabupaten Purbalingga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya