alexametrics

Menepis Habis Kesulitan dalam Menulis Puisi

Oleh : Drs. Hascaryono

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Banyak orang menganggap bahwa menulis puisi adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Padahal tidaklah demikian. Tentu menulis puisi sebagai salah satu keterampilan berbahasa, dapat dilakukan.

Bagi mereka yang sudah dan mau belajar ternyata menulis puisi itu asyik dan menyenangkan. Ada yang belum tahu bagaimana dan dari mana untuk mengawali menulis puisi itu?

Sebenarnya cukup sederhana, yaitu banyak membaca dan mau berlatih. Untuk mengawali dengan cara sisihkan sebagian waktu. Karena puisi salah satu jenis karya sastra maka perlu juga dikembangkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

Berdasarkan analisis penulis sebagai guru bahasa Indonesia, keterampilan menulis puisi termasuk masalah yang paling sulit bagi peserta didik SMPN 1 Kota Mungkid, sehingga perlu motivasi untuk menumbuhkan minat menulis.

Nurjamal dalam Sumirat, Darwis (2011:69) mengemukakan menulis sebagai sebuah keterampilan berbahasa adalah kemampuan seseorang dalam mengemukakan gagasan, perasaan, dan pemikiran-pemikirannya kepada orang atau pihak lain dengan menggunakan media tulisan.

Pendapat lain dikemukakan oleh Tarigan (1986: 15) menyatakan bahwa menulis dapat diartikan sebagai kegiatan menuangkan ide/gagasan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampai.

Memang tidak mudah menulis puisi dikarenakan belum tahu apa itu puisi. Waluyo (2002:1) berkata bahwa puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi rima dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif).

Pradopo (1995) mengatakan bahwa puisi adalah rekaman dan interpretasi dari berbagai pengalaman manusia yang penting, digubah dalam bentuk atau wujud yang paling berkesan. Sastra adalah hasil kreativitas pengarang yang bersumber dari kehidupan manusia secara langsung melalui rekaan dengan bahasa sebagai medianya (Retno Winarni, 2009: 7).

Baca juga:  Penerapan Sastra Cerita Fabel melalui Boneka Kertas

Salah satu teknik yang bisa dilakukan guru adalah memberikan pemahaman terhadap peserta didik bahwa menulis puisi itu mudah. Puisi adalah rekaman dan interpretasi dari berbagai pengalaman manusia yang penting, digubah dalam bentuk atau wujud yang paling berkesan.

Nah melalui pengertian ini, peserta didik diberikan motivasi untuk mengawali menulis dengan mengembangkan rekaman pengalaman yang telah dialami dan yang paling mengesankan.

Lado (lewat Suriamiharja, dkk. 1996/1997: 1) mengatakan to write is not put down the graphic sybols that represent a language one understands, so that other can read these graphic representation yang dapat diartikan bahwa menulis adalah menempatkan simbol-simbol grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dimengerti oleh seseorang, kemudian dapat dibaca oleh orang lain yang memahami bahasa tersebut besarta simbol-simbol grafisnya.

Menulis adalah kemampuan seseorang dalam melukiskan lambang grafis yang dimengerti oleh penulis bahasa itu sendiri maupun orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap simbol-simbol bahasa tersebut.

Jadi, dapat dilihat bahwa tujuan dari menulis adalah agar tulisan yang dibuat dapat dibaca dan dipahami oleh orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap bahasa yang dipergunakan. Dengan demikian, keterampilan menulis menjadi salah satu cara berkomunikasi. Karena dalam pengertian tersebut muncul satu kesan adanya pengiriman dan penerimaan pesan.

Baca juga:  Materi Penjumlahan Lebih Mudah dengan Abakus

Selain pendapat di atas, Atar Semi (2007: 14) menjelaskan hakikat menulis sebagai proses kreatif memindahkan gagasan dalam lambang tulisan. Menulis adalah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Dapat juga diartikan menulis adalah berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis.

Selanjutnya, juga dapat diartikan bahwa menulis adalah menjelmakan bahasa lisan, mungkin menyalin atau melahirkan pikiran atau perasaan seperti mengarang, membuat surat, membuat laporan, dan sebagianya (Suriamiharja, dkk, 1996/1997: 2).

Berikut adalah unsur-unsur pembangun puisi tersebut. Pertama, diksi. Diksi atau pilihan kata mempunyai peranan penting dan utama untuk mencapai keefektifan dalam penulisan suatu karya sastra khususnya puisi. Untuk mencapai diksi yang baik seorang penulis harus memahami secara lebih baik masalah kata dan maknanya, harus tahu memperluas dan mengaktifkan kosakata.

Diksi merupakan esensi penulisan puisi yang merupakan faktor penentu kemampuan daya cipta. Penempatan kata-kata sangat penting artinya dalam rangka menumbuhkan suasana puitik yang akan membawa pembaca pada penikmatan dan pemahaman yang menyeluruh atau total (Suminto A. Sayuti, 2008:143-144).

Kedua, pengimajian. Pengimajian berguna untuk memberi gambaran yang jelas, menimbulkan suasana khusus, membuat hidup gambaran dalam pikiran dan penginderaan, untuk menarik perhatian, untuk memberikan kesan mental atau bayangan visual penyair menggunakan gambaran-gambaran angan.

Baca juga:  Kembangkan Kompetensi Menulis Dongeng melalui Kartun Animasi

Cara membentuk kesan mental atau gambaran sesuatu biasa disebut dengan istilah citraan (imagery). Hal-hal yang berkaitan dengan citra ataupun citraan disebut pencitraan atau pengimajian.

Suminto A. Sayuti (2008:169-171) menjelaskan citraan adalah kata atau rangkaian kata yang mampu menggugah pengalaman keindahan atau menggugah indra dalam proses penikmatan (membaca dan mendengarkan).

Ketiga, kata konkret. Kata konkret adalah kata-kata yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca. Penyair berusaha mengkonkretkan kata-kata.

Maksudnya kata-kata itu diupayakan dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh. Dalam hubungannya dengan pengimajian, kata konkret merupakan syarat atau sebab terjadinya pengimajian. A word’s denotation is simply its dictionary meaning (Kenney, 60-61).

Keempat, bahasa figuratif . In short, Poetry is choosing his words primarily for their connotations, for their suggestive power. His method is, in itself, as legitimate as Swift’s and as suited to the demands of his story and his temperament (Kenney, 1966: 62-63).

Guru memberikan bekal pemahaman kepada peserta didik untuk menulis puisi dengan percaya diri, pengetahuan dan teknik menulis. Sehingga menulis puisi semakin diminati. (mk1/lis)

Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Kota Mungkid, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya