alexametrics

Penerapan Sistem Pembelajaran Daring dan Luring di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh : Binti Salbiyah, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Memasuki new normal era, masyarakat Indonesia mulai menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa. Namun, demi menjaga keselamatan dan kesehatan siswa, sekolah menerapkan sistem online atau virtual tanpa tatap muka langsung. Sistem ini juga dikenal dengan pembelajaran daring (PJJ).

Pembelajaran daring ialah pembelajaran yang dilakukan secara jarak jauh berbantuan media internet dan perangkat bantu lainnya seperti telepon seluler, laptop dan komputer (Putria, Maula,& Uswatun, 2020). Artinya, pelaksanaan pembelajaran daring memakai unsur teknologi sebagai sarana dan internet sebagai sistem (Fitriyani, Fauzi, & Sari, 2020).

Setyorini (dalam Handayani, 2020) menjelaskan keuntungan pembelajaran daring adalah waktu tidak terbatas. Masih banyak waktu luang dan menghemat biaya transportasi. Namun dalam praktiknya, pembelajaran daring tidak semaksimal pembelajaran di kelas, terutama pada pelajaran matematika.

Matematika ialah salah satu ilmu yang sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Karena melalui matematika ini siswa dilatih agar mampu berpikir dengan sistematis, logis, kritis, dan mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan nyata (Yunitasari, Sahrudin, Kartasasmita, & Prakoso, 2019).

Karena itu, pelajaran matematika sangat perlu diajarkan kepada seluruh siswa mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, agar siswa mempunyai kemampuan berpikir secara logis, sistematis, analitis, kreatif, serta bisa bekerjasama dengan baik.

Baca juga:  Flipped Classroom Solusi Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19

Astuti & Sari (2017) menyatakan matematika merupakan suatu keterampilan intelektual yang melibatkan kemampuan bernalar, berpikir sistematis, cermat, kritis dan kreatif.

Sedangkan menurut Annur & Hermansyah (2020) pembelajaran matematika adalah pembelajaran yang penting dalam upaya mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk berkompetensi di era global.

Tujuan mempelajari matematika di antaranya untuk mengembangkan kemampuan mengukur, berhitung, menganalisis dan menggunakan rumus (Hendra, 2018). Dalam kenyataannya matematika masih dianggap suatu pelajaran yang sulit dan rumit. Menurut Amallia & Unaenah (2018) masih banyak siswa yang menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit, sehingga menyebabkan siswa mudah menyerah sebelum mempelajari matematika.

Selain itu, adanya pembelajaran daring yang terkesan mendadak karena Covid-19 ini juga menyebabkan persiapan tidak optimal. Sehingga menyebabkan siswa merasa tidak siap dalam pelaksanaannya, terutama dalam mata pelajaran matematika. Penulis menganalisis kesulitan pembelajaran daring matematika saat pandemi Covid-19 pada siswa SMP Kelas IX di SMPN 3 Sawangan dengan pembelajaran secara luring.

Istilah luring adalah kepanjangan dari “luar jaringan” sebagai pengganti kata offline. Pembelajaran luring dapat diartikan sebagai bentuk pembelajaran yang sama sekali tidak dalam kondisi terhubung jaringan internet maupun intranet.

Baca juga:  Mudah Pahami Materi Genetik dengan Pembelajaran Berdiferensiasi

Sistem pembelajaran daring dan luring harus tetap dilakukan di tengah pandemi Covid-19. Sebab, tidak mungkin peserta didik dibiarkan libur panjang hingga virus korona pergi.

Dalam proses pembelajaran daring dan luring ada beberapa kesulitan yang dihadapi siswa, antara lain jaringan internet yang lemot. Sistem pembelajaran daring dan luring dapat berjalan efektif jika jaringan internetnya bagus. Sebaliknya, ketika jaringan internet jelek, otomatis proses kegiatan belajar mengajar (KBM) online terhambat.

Kuota internet terbatas. Orang tua yang terkena dampak Covid-19 pasti kesulitan membeli kuota internet. Selain itu, KBM tidak efektif. Sistem pembelajaran daring dan luring tentu tidak seefektif pembelajaran di sekolah. Hal ini terjadi karena beberapa faktor. Misalnya pengurangan jam mengajar.

Guru-guru yang biasanya mengajar 4 jam di sekolah, terpaksa hanya mengajar satu jam. Dampak lanjutnya, peserta didik akan kesulitan memahami materi yang banyak dalam waktu singkat.

Apalagi berhadapan dengan mata pelajaran program MIPA : Matematika, Fisika dan Biologi. Keempat pelajaran ini tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama karena banyak penurunan rumus. Itu artinya, waktu satu jam sangat tidak cukup. Kesulitan di atas harus segera dicarikan solusinya agar mutu pendidikan tidak menurun.

Baca juga:  Metode Pembelajaran yang Efektif di Masa Pandemi Covid-19

Berikut ini solusi yang dapat diterapkan untuk mengurangi tiga kesulitan di atas : terkait orang tua yang kesulitan mendapatkan kuota internet, pemerintah perlu memberikan suntikan dana.

Pemerintah harus menyediakan anggaran khusus untuk pembelian kuota internet bagi peserta didik yang orang tuanya tidak mampu. Di sekolah perlu ada bantuan khusus bagi orang tua yang secara ekonomi tidak mampu.

Masalah KBM yang kurang efektif, sekolah dan para stafnya perlu menemukan cara tersendiri agar materi yang dipelajari sebisa mungkin dapat dipahami peserta didik. Tidak harus memaksa peserta didik untuk memami materi pembelajaran 100 persen, 50-70 persen saja sudah cukup.

Sistem daring dan luring ini menuntut guru untuk kreatif dalam mendidik peserta didik. Semoga para guru tetap semangat dalam menciptakan sistem pembelajaran daring dan luring yang kreatif dan inovatif. Hidup guru. Hidup pendidikan Indonesia maju! (ms2/lis)

Guru SMPN 3 Sawangan, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya