alexametrics

Metode Drama Tingkatkan Ikatan Emosional Siswa

Oleh: Fitriyah,S.Pd.I,M.MPd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik, dimana dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang berasal dari dalam individu, maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan. (Mulyasa, 2005: 110).

Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh guru dan siswa berupa aktivitas belajar mengajar. Dalam proses pembelajaran dilaksanakan dengan memanfaatkan metode pengajaran, waktu dan materi pembelajaran.

Siswa kelas V mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan, terutama dalam menentukan tema dan amanat dari cerita yang telah mereka dengar, sedangkan untuk menentukan tokoh dan latar cerita sebagian besar siswa sudah banyak yang menjawab dengan benar.

Hal ini penulis mengkaitkan mata pelajaran PAI dengan BI tentatang pemahaman materi suatu bacaan.

Siswa mengalami kesulitan saat harus mengkaji kembali sebuah cerita yang dari awal hingga akhir untuk menentukan tema dan amanat dengan benar. Penyebab rendahnya kemampuan menyimak karena siswa kelas V selama pembelajaran tidak memiliki minat yang besar, guru yang bercerita secara lisan serta siswa banyak yang tidak memperhatikan dan berbicara dengan temannya, pembelajaran yang dilakukan oleh guru kurang inovatif dan penggunaan media pembelajaran masih kurang.

Baca juga:  Metode Drill Tingkatkan Keterampilan Menulis Tegak Bersambung

Maka dari itu, peranan metode pembelajaran sebagai alat untuk menciptakan proses pembelajaran. Dengan metode pembelajaran diharapkan terciptalah interaksi edukatif.

Bentuk yang terpilih yaitu metode Drama, karya sastra yang menggambarkan kehidupan dan aktivitas manusia melalui akting dan dialog antar pelaku dan didesain untuk ditampilkan di panggung. Melalui metode drama anak diajak untuk mengekspresikan pikiran, penjiwaan karakter dan bergerak sesuai dengan peran yang diperoleh.

Bahkan, anak dapat menentukan musik atau jenis tarian tertentu untuk dipadukan dalam sebuah drama. Dalam metode ini anak masuk dalam situasi yang dipilih berdasarkan pengetahuan yang sedang dipelajari atau kurikulum.

Siswa menyukai metode pembelajaran dengan drama karena siswa dapat belajar sekaligus bermain dengan peran yang diperolehnya sehingga pemahaman siswa terhadap materi pelajaran semakin meningkat dan prestasi belajar yang tinggipun dapat tercapai.

Baca juga:  Talking Stick Buat Belajar ABK Asyik

Menurut Uno (2007), terdapat tujuh langkah dalam pelaksanaan model pembelajaran bermain peran, yaitu sebagai berikut: Pertama, Menghangatkan Suasana dan Memotivasi Peserta Didik. Motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk mengadakan perubahan demi mencapai tujuan tertentu.

Tahap ini lebih banyak dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik agar tertarik pada masalah karena itu tahap ini sangat penting dalam bermain peran dan paling menentukan keberhasilan. Kedua, Memilih Peran. Memilih peran dalam pembelajaran, tahap ini peserta didik dan guru mendiskripsikan berbagai watak atau karakter. Ketiga, Menyusun Tahap-Tahap Peran. Menyusun tahap-tahap baru, pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan.

Baca juga:  Jadikan Bekal Makanan Materi Pembelajaran Bangun Datar

Keempat, Menyiapkan Pengamat. Menyiapkan pengamat, sebaiknya pengamat dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua peserta didik turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif mendiskusikannya.

Kelima, Pemeran. Pada tahap ini para peserta didik mulai beraksi secara spontan, sesuai dengan peran masing-masing, pemeran dapat berhenti apabila para peserta didik telah merasa cukup. Keenam, Diskusi dan Evaluasi. Ketujuh, Membagi Pengalaman dan Mengambil Kesimpulan.

Penggunaan metode drama pada proses belajar mengajar akan meningkatkan perhatian anak dalam belajar. Perhatian tersebut timbul karena metode drama mampu menghasilkan ikatan emosional antara penonton dengan pemainnya. Anak menjadi terdorong untuk selalu memperhatikan yang diperagakan sehingga prestasi yang diperoleh anak meningkat. (ct4/zal)

Guru SDN 01 Wonorejo, Kab. Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya