alexametrics

Metode Dakon pada Pembelajaran IPS untuk Kurikulum Prototipe

Oleh : Tsuwaibah, S.Pd.,M.Si

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kurikulum prototipe akan menjadi salah satu opsi pemulihan pembelajaran akibat tidak optimalnya pembelajaran selama pandemi Covid-19. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyebut kurikulum prototipe mempunyai sejumlah karakteristik utama yang dapat mendukung upaya tersebut.

Karakteristik utama yang dimaksud adalah pengembangan keterampilan nonteknis dan karakter, fokus pada materi esensial, dan fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai kemampuan murid. Bahkan diharapkan dapat membantu anak dalam mengembangkan potensi dan bakat yang mereka miliki.

Kurikulum prototipe ini bersifat pilihan tidak diwajibkan secara nasional dan sekolah diberikan kebebasan sehingga ini menjadi bagian dari Merdeka Belajar. Penggunaan prototipe ini untuk memunculkan ide-ide baru sehingga dapat diwujudkan dalam sebuah produk dalam pembelajaran yang menyenangkan dan memerdekakan belajar.

Pada pembelajaran IPS ini juga akan mencoba untuk bisa menerapkan kurikulum prototipe dengan mengembangkan metode pembelajaran yang diharapkan. Juga dapat memberikan perubahan paradigma baru yang lebih baik sesuai keinginan peserta didik, menyenangkan serta tidak ada penekanan dalam pembelajaran.

Baca juga:  Dengan Video Lebih Efektif dalam Pembelajaran Synchronous dan Asynchronous

Penulis akan memberikan metode pembelajaran dengan permainan yang dikembangkan melalaui filosofi Ki Hajar Dewantara dengan harapan dapat menerapkan paradigma baru. Metode ini adalah dakon atau congklak.

Dakon adalah permainan tradisional yang syarat manfaat dan filosofi, latih kesabaran dan ketekunan ana. Permainan dakon juga mengajarkan anak tentang ketekunan, ketetapan, kejujuran, berhitung hingga kesabaran.

Cara memainkan permainan ini yaitu dengan papan kayu dengan minimal 10 cekungan kecil dan 2 cekungan besar, serta minimal 50 biji dakon yang diganti dengan 25 soal dan 25 jawaban dan di campur acak.

Setelah habis dimainkan kelompoknya menjodohkan soal dan jawaban yang telah diperoleh. Pemenang atau skor nilainya yang didapat dari jumlah perolehan pasangan soal dan jawaban pada kelompok masing-masing yang telah bermain.

Baca juga:  Belajar Asyik Interaksi Antarruang dengan Media Atlas Tematik

Peraturan dari bermain dakon ini juga sederhana. Dilakukan 2 pemain dari wakil 2 kelompok. Cekungan 10 kecil diisi masing-masing 5 kertas soal dan jawaban yang sudah diacak dan dilipat kecil, maka permainan bisa dimulai dengan suit atau sut untuk menentukan yang lebih dulu bermain.

Permainan dimulai dengan bergantian mengambil kertas dicekungan tadi lalu dipindahkan dari cekungan kecil ke cekungan kecil yang lainnya dengan menaruh lipatan kertas pada cekungan besar (milik sendiri) dan mengabaikan cekungan besar kedua (milik lawan).

Ketika lipatan kertas yang diputar berhenti cekungan kosong, putaran berhenti. Bila cekungan kecil di depan lawan ada lipatan kertas tepat di cekungan yang kosong dan kertas terakhir maka merupakan give away bagi kelompok pemain yang memutar kertas tadi.

Baca juga:  Teknik Parafrase untuk Membangun Kualitas Hubungan dalam Konseling

Dakon merupakan bentuk permainan yang dapat diterapkan karena munculnya motivasi dan kebiasaan untuk senantiasa mencoba hingga berhasil. Bermain dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk berpikir dan bertindak imajinatif serta penuh daya khayal yang erat hubungannya dengan perkembangan kreativitas anak. Ambisi untuk memenangkan permainan tersebut akan memberikan nilai optimalisasi gerak dan usaha anak. Sehingga akan terjadi kompetisi yang fair dan beragam dari anak.

Beberapa manfaat bermain dakon dalam kurikulum prototipe bagi anak-anak anatara lain: meningkatkan keterampilan kognitif, meningkatkan keterampilan motorik halus, meningkatkan keterampilan sosial, koordinasi mata dan tangan. Melatih logika, kesabaran, ketekunan, ketetapan, kejujuran, dan memperluas pengetahuan.

Pembelajaran yang menyenangkan akan sangat membantu perkembangan kodrat anak sesuai kemampuan belajarnya. Mengajak bermain dan belajar dalam pembelajaran merupakan peran guru dalam memerdekakan peserta didik. (nov1/lis)

Guru IPS SMP Negeri 1 Gubug

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya