alexametrics

Asyiknya Belajar Gagasan pada Teks dengan Scramble

Oleh : Dra Suwiyah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN yang mudah dipahami siswa dan membuat siswa semangat menggali informasi dan pengetahuan menjadi indikator sebuah proses pembelajaran berhasil. Meskipun penerapannya banyak kendala, sebagaimana dialami penulis pada siswa kelas IV SDN 01 Siwalan, Kabupaten Pekalongan, masih terdapat siswa yang kebingungan dan bosan dalam mengikuti pembelajaran.

Hal ini menjadi bahan pemikiran penulis dalam menciptakan pembelajaran yang berkesan dan mudah dipahami siswa. Penulis menerapkan metode Scramble pada materi pembelajaran gagasan teks tulis.

Shoimin (Patty, 2015:1) berpendapat, metode Scramble merupakan model pembelajaran yang mengajak siswa menemukan jawaban dan menyelesaikan permasalahan yang ada dengan cara membagikan lembar soal dan lembar jawaban yang disertai dengan alternatif jawaban yang tersedia. Scramble dipakai untuk jenis permainan anak–anak yang merupakan latihan pengembangan dan peningkatan wawasan pemikiran kosakata.

Model pembelajaran scramble akan disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa untuk menemukan jawaban dan menyelesaikan permasalahan yang ada dengan cara membagikan lembar soal dan lembar jawaban disertai alternatif jawaban yang tersedia dalam suasana menyenangkan.

Baca juga:  Bangkitkan Motivasi Belajar dalam Memahami Materi dengan Bergambar

Model pembelajaran scramble terdiri atas beragam bentuk yakni scramble kata, yakni permainan menyusun kata–kata dan huruf–huruf yang telah dikacaukan letaknya sehingga membentuk suatu kata tertentu yang bermakna, misalnya: Tpeain=petani, Kberjae = bekerja.

Scramble kalimat, yakni sebuah permainan menyusun kalimat dari kata–kata acak. Bentuk kalimat hendaknya logis, bermakna, tepat, dan benar. Contohnya Pergi-aku-bus-ke-naik-Bandung=aku pergi ke Bandung naik bus. Scramble wacana, yakni sebuah permainan menyusun wacana logis berdasarkan kalimat–kalimat acak. Hasil susunan wacana hendaknya logis dan bermakna.

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe scramble pada materi pembelajaran menentukan gagasan pada teks lisan sebagai berikut, pertama, guru melakukan apersepsi dan memberikan motivasi yang membakar semangat siswa dan memberikan kesan baik sebelum masuk pada materi pembelajaran. Kemudian, guru menyiapkan bahan dan media yang akan digunakan dalam pembelajaran.

Baca juga:  Mudah Belajar PKn dengan Penerapan Model Scramble di SD

Media yang digunakan berupa kartu soal dan kartu jawaban, yang sebalumnya jawaban telah diacak sedemikian rupa. Setelah itu, masing–masing kelompok melakukan diskusi untuk mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok terkait isi teks yang disediakan.

Setelah itu, dilakukan tindak lanjut, yang mana kegiatan ini tergantung dari hasil belajar siswa. Contoh kegiatan tindak lanjut antara lain, kegiatan pengayaan berupa pemberian tugas serupa dengan bahan yang berbeda.

Kegiatan menyempurnakan susunan teks asli, jika terdapat susunan yang tidak memperlihatkan kelogisan. Kegiatan mengubah materi bacaan (memparafrase atau menyederhanakan bacaan). Mencari makna kosakata baru di dalam kamus dan mengaplikasikan dalam pemakaian kalimat.

Membetulkan kesalahan–kesalahan tata bahasa yang mungkin ditemukan dalam teks wacana latihan. Satu hal yang penting dalam model ini, siswa tidak sekadar berlatih memahami dan menemukan susunan teks yang baik dan logis, tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis analitis. Terakhir, guru memberikan evaluasi dan refleksi pembelajaran.

Baca juga:  Belajar Menyenangkan dengan Picture and Picture

Kelebihan model pembelajaran ini memungkinkan siswa saling belajar sambil bermain. Mereka dapat berkreasi sekaligus belajar dan berpikir, mempelajari sesuatu secara santai dan tidak membuat mereka stres atau tertekan. Selain membangkitkan kegembiraan dan melatih keterampilan tertentu, metode scramble juga dapat memupuk rasa solidaritas dalam kelompok.

Materi yang diberikan melalui salah satu metode permainan biasanya mengesankan dan sulit untuk dilupakan dan sifat kompotitif. Metode ini dapat mendorong siswa berlomba–lomba untuk maju. Meskipun pembelajaran ini terkadang sulit dalam merencanakannya karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar. Ini menjadi tugas guru agar bisa diminimalisasi. (cd1/zal)

Guru SDN 01 Siwalan, Kab. Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya