alexametrics

SAVI Bermedia ‘Vibar Perto’ Tingkatkan Kemampuan Menulis Descriptive Text

Oleh : Esti Sulistyowati S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SALAH satu materi dalam pelajaran bahasa Inggris yang dianggap sulit bagi peserta didik adalah menulis teks deskriptif (descriptive text writing). Penyampaian materi dengan metode ceramah yang selama ini dilakukan menyebabkan hasil yang diperoleh peserta didik menjadi rendah. Karena itu, penulis berupaya mencari solusi demi meningkatkan hasil yang dicapai peserta didik.

Dengan memperhatikan tipikal peserta didik yang masih suka aktif ke sana kemari menginspirasi penulis untuk menggunakan model pembelajaran yang total melibatkan keaktifan peserta didik. Adalah model pembelajaran SAVI.

Miratus (2013) dalam makalanya ‘Model Pembelajaran SAVI’ menyatakan, pendekatan SAVI diperkenalkan pertama kali oleh Dave Meier. SAVI merupakan singkatan dari somatis(S) yang berarti tubuh, auditori(A) atau pendengaran, visual (V) atau penglihatan, dan intelektual (I) atau pemikiran. Dalam model pembelajaran ini, guru menciptakan kegiatan untuk peserta didik yang melibatkan aktivitas tubuh, pendengaran, penglihatan, dan pemikiran.

Guru dituntut untuk sekreatif mungkin membuat kegiatan pembelajaran yang menjadikan peserta didiknya bukan hanya bergerak tubuhnya, namun juga melihat, mendengarkan, dan menggunakan pikiran mereka untuk menyimpulkan sesuatu atas apa yang telah mereka pelajari. Demi mendukung suksesnya penggunaan model pembelajaran tersebut, penulis menggunakan media ‘vibar perto’ yang merupakan singkatan dari video, gambar, power point, dan foto.

Baca juga:  Belajar Teks Narrative dengan Media Wayang

Penulis menerapkan dua siklus. Pertama, guru atau penulis menggunakan media ‘vibar’, atau video dan gambar. Di sini guru menampilkan video yang berupa penjelasan tentang descriptive text, struktur teks, dan ciri–ciri kebahasaannya. Di dalamnya terdapat pula penjelasan guru tentang aturan bermain dalam pelaksanaan siklus satu.

Setelah mengamati dan memahami video tersebut (tahap visual dan auditory), peserta didik dibagi menjadi kelompok-kelompok beranggotakan tiga atau empat. Tiap kelompok mewakilkan satu orang untuk mengambil undian, Wakil kelompok mengambil satu paket soal diskusi sesuai dengan nomor undian yang diperoleh (dalam tiap paket soal ada gambar orang, dan paragraph yang tidak lengkap/teks rumpang).

Kemudian mereka mencari kata–kata yang sesuai di seluruh penjuru kelas untuk mengisi rumpang teks. Lalu mereka menempelkan kata–kata tersebut ke dalam rumpang teks (tahap somatic dan intelektual). Setelah itu, tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi, sementara peserta didik yang lain boleh bertanya atau mengomentari (tahap intelektual).

Baca juga:  Mengenal Proses Rotasi dan Revolusi Bumi dengan Bermain Peran

Setelah pelaksanaan siklus pertama dan diadakan penilaian, telah tampak peningkatan keaktifan dan hasil yang diperoleh. Namun, karena masih ada enam peserta didik yang terlihat pasif dan hasilnya belum maksimal, maka penulis memutuskan untuk melakukan siklus kedua.

Pada kegiatan di siklus kedua, guru menggunakan media ‘perto’, yaitu power point dan foto. Guru menayangkan power point yang memuat foto para pesohor di negeri ini beserta deskripsinya. Setelah peserta didik mengamati, memahami, dan menirukan kalimat–kalimat yang diucapkan oleh sang guru (tahap visual dan auditory), mereka kembali ke kelompok pada siklus I.

Mereka diminta untuk mengambil soal atau teks rumpang sesuai dengan nomor undian yang diperoleh masing–masing kelompok. Kemudian mereka mencari foto yang sesuai dengan deskripsi pada teks dan jawaban untuk mengisi rumpang teks di seluruh penjuru kelas (tahap somatik dan intelektual).

Baca juga:  Berlatih Berbahasa Inggris dengan Menulis Caption di Medsos

Setelah itu mereka menempelkan jawaban yang benar pada teks rumpang yang diperoleh. Kelompok yang tercepat akan memperoleh tambahan nilai dari guru. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi mereka. Guru bersama–sama dengan peserta didik membahas hasil diskusi, mengonfirmasi, dan menarik simpulan (refleksi pembelajaran).

Dari hasil siklus kedua diperoleh peningkatan hasil dan keaktifan peserta didik. Dari yang semula ada enam peserta didik yang pasif, tinggal dua peserta didik.

Dengan model pembelajaran ini, peserta didik lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran bahasa Inggris karena mereka tak lagi duduk terpaku mendengarkan penjelasan guru. Tentunya dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Kompetensi yang diharapkan guru pun tercapai. (bk2/ida)

Guru Bahasa Inggris di SMPN 4 Ungaran, Kabupaten Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya