alexametrics

Pembelajaran Sejarah dengan Metode Flipped Classroom

Oleh : Titiek Rahayu, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pandemi sudah mulai terkendali. Meski demikian, kewasapadaan masih diperlukan agar kondisi kembali ke normal ini bisa stabil. Implikasinya dalam pendidikan adalah mulai dibukanya kembali sekolah untuk proses pembelajaran tatap muka. Beberapa daerah sudah mengizinkan tatap muka dengan pembatasan kuota 50 persen peserta didik.

Dengan regulasi ini, guru harus menyiapkan desain pembelajaran yang dapat mengakomodasi proses pembelajaran siswa melalui kombinasi proses daring dan luring (blended learning). Staker & Horn (2012) mendefinisikan blended learning sebagai pembelajaran yang mengkombinasikan antara pembelajaran online dengan pembelajaran konvensional (tatap muka).

Pada pembelajaran model ini, peserta didik difasilitasi untuk dapat belajar dan mengulang materi secara mandiri untuk satu bagian sesi menggunakan bahan dan sumber belajar online dan satu bagian sesi lainnya dilakukan secara tatap muka di dalam ruangan kelas. Salah satu bentuk pembelajaran blended learning adalah flipped classroom (kelas terbalik).

Dr. Ali Muhtadi, M.Pd. dalam Modul 3 Pembelajaran Inovatif menerangkan biasanya dalam suatu pembelajaran yang konvensional, peserta didik mempelajari suatu materi dalam kelas. Kemudian peserta didik akan mendapatkan tugas yang berkaitan dengan materi tersebut untuk dikerjakan setelah jam pelajaran selesai. Namun, yang sering terjadi adalah peserta didik sering mengalami kebingungan karena tidak tersedianya sumber dan bahan ajar yang dapat membantu mereka menyelesaikan tugas rumahnya.

Baca juga:  Kenalkan Keaksaraan Awal melalui Bermain dengan Media Gambar

Model pembelajaran flipped classroom membalik siklus yang biasanya terjadi. Sebelum peserta didik memulai kelas, mereka akan mendapatkan pengajaran secara langsung melalui video secara online. Sehingga ketika kelas dimulai, peserta didik dapat mulai mengerjakan dan menyelesaikan tugasnya serta dapat meminta bantuan melalui kegiatan diskusi di kelas.

Wulandari (2020) mengaitkan flipped classroom dengan taksonomi Bloom, di mana pada kegiatan belajar di rumah sebelum masuk kelas, siswa akan belajar secara mandiri terkait kompetensi tingkat rendah C1 dan C2 yang termasuk pada kategori low order thinking (LOT), yaitu mencakup kompetensi mengingat dan memahami. Sedangkan pada pertemuan tatap muka di kelas, siswa akan meningkat pada kompetensi C3 dan C4, yaitu menerapkan dan menganalisis yang termasuk kategori high order thinking (HOT).

Dalam pembelajaran sejarah, siswa diarahkan untuk berfikir historis dan kronologis sehingga dalam pembelajarannya diharapkan mampu mengkontruksi ingatan historis dan kronologis siswa. Mengingat lingkup dari mata pelajaran sejarah yang sangat luas. Target kompetensi ini dapat dilakukan melalui metode flipped classroom dimana peserta didik dapat belajar secara maksimal dalam situasi pembelajaran yang memadukan antara proses tatap muka dan daring dari rumah.

Baca juga:  Metode RPL Gairahkan Pembelajaran Sejarah Zaman Pra Aksara di Indonesia

Dalam model pembelajaran ini, guru dapat merekam video mereka sendiri menyampaikan materi ajar menggunakan berbagai aplikasi video recorder maupun screenrecorder yang dapat dibuat melalui smartphone.

Video tersebut kemudian diunggah ke platform LMS (Learning Manajemen System) yang dipakai misalnya Google Classroom agar dapat diakses siswa dari rumah. Strategi ini tentunya efektif digunakan karena siswa akan mengeksplore pengetahuannya terlebih dahulu sebelum mengikuti pembelajaran tatap muka di kelas.

Misalnya dalam pembelajaran materi pers dan peranannya dalam pergerakan nasional dan sumpah pemuda yang diajarkan di kelas XI MIPA SMAN 2 Slawi. Guru menyusun media pembelajaran berupa kisah mengenai RM Tirto Adhi Suryo, pelopor pers pribumi yang menginspirasi kesadaran bangsa akan pentingnya perjuangan melalui kemerdekaan nasional.

Kisah ini dapat didukung melalui media fiksi berupa film Bumi Manusia yang diangkat dari novel historiografi terkenal karya Pramoedya Ananta Toer yang terinspirasi dari kisah tokoh pers tersebut. Meskipun dalam balutan fiksi, namun peserta didik dapat memiliki gambaran yang lebih realistis dan rinci mengenai masa awal pergerakan nasional pada medio awal 1900-an.

Baca juga:  Pembelajaran Asyik Menulis Anekdot melalui Teknik Parafrase

Melalui stimulus film dan materi yang disusun oleh guru tersebut, peserta didik diarahkan menyiapkan bahan diskusi yang kemudian dibahas di dalam pertemuan tatap muka.

Peserta didik dapat menyiapkan terlebih dahulu poin-poin menarik, pertanyaan-pertanyaan, serta topik kontroversial yang dapat dijadikan bahan diskusi bersama guru dan rekan sekelasnya. Guru dapat menyiapkan pertanyaan-pertanyaan pancingan yang nantinya dilontarkan di dalam forum diskusi untuk memantik beragam tanggapan dari peserta didik.

Melalui pembelajaran flipped classroom ini, ruang bagi pembelajaran tidak lagi terlalu dibatasi waktu. Peserta didik dapat menentukan sendiri kapan waktu yang paling nyaman untuk menyimak materi yang diberikan oleh guru.

Selain itu, proses diskusi pun dapat lebih leluasa karena peserta didik sudah bersiap terlebih dahulu dengan materi yang sudah disimaknya di rumah.

Flipped classroom memungkinkan proses pembelajaran menjadi lebih menarik, meminimalisasi dominasi ceramah guru. Memberikan ruang yang luas bagi peserta didik untuk mengeksplore dan mengembangkan sendiri cakupan materi yang ingin dipelajarinya.

Proses penilaian pun dapat tetap dilakukan pada saat tatap muka untuk mengukur ketercapaian kompetensi, perkembangan psikomotorik, maupun menilai sikap yang ditunjukkan peserta didik. (bk2/lis)

Guru Sejarah SMA Negeri 2 Slawi

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya