alexametrics

Menulis Teks Deskriptif Upacara Adat dengan Teknik Singa Lodra

Oleh : Dra. Anatri Endras Sumekar

Artikel Lain

RADARSEMARNG.ID, Menulis teks deskriptif upacara adat merupakan salah satu kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Jawa kelas IX semester ganjil. Materi tersebut termasuk salah satu keterampilan menulis yang harus dipraktikkan oleh peserta didik.

Pudiastuti (2014:52) mengemukakan menulis merupakan keterampilan. Keterampilan butuh praktik. Semakin banyak praktik, kemahiran menulis akan semakin baik. Ketika masa pandemi Covid-19, hasil pengamatan penulis sebagai guru bahasa Jawa di SMP Negeri 1 Mungkid ternyata peserta didik mengalami kesulitan pada materi menulis teks deskriptif upacara adat, terlebih jika menggunakan basa ragam krama.

Misalnya : Lare kala wau dibopong tiyang sepuhe tumuju dhampir kencana. Kalimat tersebut harusnya Lare kala wau dipunbopong tiyang sepuhipun tumuju dhampir kencana. Kesalahannya pada ater-ater di- dan panambang -ipun karena masih bahasa ngoko. Seharusnya diubah menjadi bahasa krama menjadi dipun-, kemudian panambang -e menjadi -ipun.

Selain itu permasalahan ejaan dalam menuliskan kata-kata juga masih banyak yang keliru. Misalnya menulis kata nggowo yang harusnya nggawa, ojo yang seharusnya aja, ono seharusnya ana, podho harusnya padha. Dan masih banyak kata-kata lain yang keliru. Kesulitan tersebut menjadikan peserta didik tidak menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna.

Baca juga:  Metode Tutor Sebaya Tingkatkan Semangat Belajar Matematika

Penulis memandang perlu memberikan solusi untuk memecahkan permasalahan kesulitan peserta didik dalam menulis teks deskriptif upacara adat. Walau masa pandemi belum berakhir tetapi kegiatan pembelajaran sudah dilaksanakan secara tatap muka. Kebijakan sekolah ada perubahan terutama penggunaan handphone (HP). Karena teknik yang akan disampaikan penulis berkaitan dengan internet, maka peserta didik ketika mengikuti kegiatan pembelajaran diwajibkan membawa HP.

Adapun teknik menulis deskriptif upacara adat berbahasa Jawa adalah teknik Singa Lodra, singkatan dari browsing, menganalisis, men-download, dan mentranslit. Sebelum melaksanakan teknik tersebut guru menayangkan atau memberikan satu contoh teks adat istiadat. Kemudian membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari 3 sampai 4 anggota.

Salah satu anggota ditunjuk sebagai ketua dan bertugas membuat grup WhatsApp (WA). Agar saat diskusi tetap melaksanakan prokes dengan menghindari kerumunan. Selanjutnya ketua mengambil undian berisi tugas menulis adat istiadat tertentu. Masing-masing anggota kelompok mendapat tugas yang berbeda. Ada yang mendapat tugas tentang pendahuluan yang berisi pengertian, waktu, dan tujuan adat tertentu, ubarampe dan lumakune adat.

Adapun sintak dari teknik Singa Lodra sebagai berikut: masing-masing anggota kelompok melakukan tahap pertama, browsing tugas. Menurut Halpiddin (2009) browsing merupakan kegiatan melihat-lihat atau membaca-baca informasi melalui internet, seperti berita olahraga, ekonomi, sejarah bahkan berita hiburan.

Baca juga:  Pasang Target Menang Pilkada

Tahap-tahap jika hendak browsing menurut Halpiddin, yaitu membuka halaman utama dari internet browser, bisa dengan Internet Explorer dan Mozilla Firefox. Membuka situs web yang hendak di-browse dengan cara menuliskan alamat situs web di address bar. Melakukan browsing. Anggota kelompok juga bisa browsing gambar-gambar adat yang mendukung untuk menambah kelengkapan tugas mereka.

Tahap kedua menganalisis. Kegiatan ini merupakan suatu cara mengamati, mencermati materi yang telah dilihat ataupun dibaca. Kegiatan ini dilakukan agar apa yang dilihat atau dibaca sesuai tugas yang diberikan oleh ketua.

Tahap keempat download atau mengunduh. Menurut Solihat (2009), download adalah proses pengambilan sebuah file oleh computer user dari sebuah server di internet. Setiap anggota kelompok setelah menganalisis materi yang ada di internet kemudian mengambil materi tersebut untuk disimpan. Diharapkan saat men-download peserta didik mencantumkan alamat website, untuk menghindari plagiarisme.

Tahap kelima mentranslit. Kegiatan tersebut merupakan cara untuk mengubah teks dari suatu bahasa ke bahasa lain. Anggota kelompok mentranslit teks upacara adat dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa melalui aplikasi yang sudah tersedia. Kemudian anggota kelompok mencermati kembali setiap kata-kata dalam teks tersebut.

Baca juga:  Pembelajaran Sebuah Teks Ilmiah Fakta pada Masa Pandemi Covid-19

Masing-masing anggota mengirimkan tugasnya ke grup WA kelompok. Salah satu dari mereka menyalin dan merangkai menjadi satu teks utuh dengan urutan yang benar. Setiap kelompok mendiskusikan hasil kerjanya yang berwujud teks upacara adat.

Selanjutnya mempresentasikan hasil kerja mereka. Kelompok lain dan guru diberi kesempatan memberikan tanggapan. Selesai presentasi setiap kelompok mengirimkan tugasnya kepada guru lewat WA. Tugas individu bisa diberikan setelah kegiatan belajar.

Menulis teks deskriptif upacara adat menggunakan teknik Singa Lodra membuat peserta didik senang karena bisa browsing tugas-tugas mereka dengan mudah dan cepat. Teknik Singa Lodra bisa dipakai pada mata pelajaran lain karena sintaknya mudah dan peserta didik dengan cepat dapat melakukannya.

Memang ada kendala bagi peserta didik jika kuota habis. Tetapi hal tersebut bisa diatasi dengan wifi sekolah atau berbagi koneksi seluler melalui tethering atau hospot. (mk1/lis)

Guru Bahasa Jawa SMPN 1 Mungkid, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya