alexametrics

Digital Parenting Perkuat Pendidikan Karakter di Era Digital Learning

Oleh : Bukhori S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, MASA pandemi Covid-19 adalah masa di mana pendidikan berada dalam atmosfer digital learning. Pendidikan harus memanfaatkan kemajuan bidang teknologi dengan sangat pesat. Pendidikan merupakan proses perubahan tingkah laku, penambahan ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup sehingga peserta didik menjadi lebih dewasa baik dalam pemikiran maupun sikap. Hakikat pendidikan adalah agar peserta didik sebagai penerus bangsa mempunyai karakter dan moral yang mulia sebagaimana disebut dalam Undang-Undang (UU) nomor 20 tahun 2003. Pembentukan karakter harus dimulai sedari dini sebagaimana yang telah diimplementasikan di SDN 1 Wonosari Kendal.

Peserta didik SD dan sederajat rata-rata berusia 7-12 tahun. Dalam usia tersebut, mereka mengalami tingkat perkembangan operasional konkret berdasarkan teori dari Piaget. Tingkat ini merupakan permulaan berpikir rasional. Anak usia ini memiliki operasi-operasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah-masalah yang konkret. Bila menghadapi suatu pertentangan antara pikiran dan presepsi, maka peserta didik usia ini akan mengambil keputusan logis bukan preseptual.

Baca juga:  Komik Bervisi SETS untuk Belajar IPA

Pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan pendidik, yang mampu memengaruhi karakter peserta didik. Pendidik membantu dan mendukung terbentuknya watak peserta didik. Pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang hal mana yang baik sehingga peserrta didik menjadi paham tentang mana yang benar dan mana yang salah, mampu merasakan nilai yang baik dan melaksanakan serta membiasakannya. Maka, pada periode peserta didik usia SD, metode yang dilakukan pendidik untuk mengembangkan karakter adalah pengarahan, pembiasaan, keteladanan, penguatan, dan hukuman.

Nilai-nilai yang digali dalam pembelajaran seperti nilai religius, jujur, kerja keras, disiplin, rasa tanggung jawab, cinta tanah air, peduli terhadap lingkungan sekitar, jiwa sosial yang kuat. Indonesia Heritage Foundation merumuskan sembilan karakter dasar yang menjadi tujuan pendidikan karakter, antara lain 1) cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya, 2) tanggung jawab, disiplin dan mandiri, 3) jujur, 4) hormat dan santun, 5) kasih sayang, peduli, dan kerjasama, 6) percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, 7) keadilan dan kepemimpinan, 8) baik, rendah hati, dan 9) toleransi, cinta damai dan persatuan.

Baca juga:  Visit To The Museum Tumbuhkan Rasa Nasionalisme Siswa SD

Pendidikan karakter menjadikan pengetahuan yang diterima peserta didik tidak hanya menjadi school of knowledge, tetapi dapat dipahami dan diresapi makna konsep-konsep keilmuan tersebut sampai dalam hatinya agar menjadi milik diri yang ia sebut inner of knowledge. Sehingga dengan diinternalisasikannya ilmu tersebut, diharapkan akan menjadi pegangan bagi peserta didik ketika bertindak dan berperilaku dalam kehidupan sebagai bentuk action of knowledge.

Seorang pendidik haruslah menjadi panutan dalam perbuatan dan perkataan, sehingga dari karakter pendidiklah, karakter peserta didik bisa berpengaruh ke arah yang lebih baik. Peran pendidik tidak hanya sebagai agent transfer of knowledge tetapi juga transfer of value dan transfer of skills. Menerapkan pendidikan karakter melibatkan orang dewasa di lingkungan sekolah, di lingkungan rumah harus jadi panutan, biasakan atau budayakan pendidikan karakter, penguatan pendidikan karakter di lingkungan sekitar pemerintah.
Keluarga sebagai orang terdekat peserta didik juga harus berpartisipasi dalam mengawasi dan membimbing peserta didik dalam pergaulan di lingkungan sekitar.

Baca juga:  Peningkatan Hasil Belajar IPA melalui Metode Inkuiry

Adapun yang harus dilakukan orang tua terhadap anak dalam pengasuhan digital atau digital parenting di antaranya seperti membatasi waktu pada anak dalam menggunakan gadget dan internet, memberikan pemahaman dan kesadaran bersama akan dampak negatif dari internet atau gadget, dan melarang sesegera mungkin jika ada yang tidak pantas ditonton dengan cara tegas, serta komunikasi secara dua arah. Karena keluargalah yang akan menjadi kiblat perjalanan dari dalam kandungan sampai tumbuh dewasa dan berlanjut di kemudian hari. (pb1/ida)

Guru SDN 1 Wonosari, Pegandon, Kabupaten Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya