alexametrics

Belajar Perkembangbiakan Hewan dengan Kooperatif Learning

Oleh: Budi Wiharti, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SALAH satu yang pembeda model pembelajaran kooperatif dengan metode pembelajaran kelompok. Pembelajaran kelompok, ada pada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem yang dilakukan dalam model pembelajaran kooperatif dengan benar, maka sangat memungkinkan guru dapat dengan mudah mengelola kelas agar lebih efektif. Dalam model pembelajaran kooperatif, sebenarnya proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada siswa.

Dengan memahami macam-macam model pembelajaran di atas, setidaknya akan meningkatkan efektivitas proses transfer ilmu yang kerap kali mengalami masalah karena kemampuan peserta didik yang tidak semuanya sama. Selanjutnya, salah satu macam-macam model pembelajaran ini juga tidak kalah penting dipahami. Model pembelajaran kooperatif dalam pengertian bahasa asing adalah cooperative learning. Seperti yang diterapkan di SDN 05 Kabunan, Pemalang.

Nah, hewan yang bisa melakukan hal tersebut adalah cacing pipih atau disebut juga planaria. Kok bisa, ya? Bisa dong, karena cacing pipih ini memang memiliki kemampuan untuk berkembang biak dengan cara fragmentasi. Fragmentasi merupakan salah satu bentuk perkembangbiakan hewan secara vegetatif. Selain fragmentasi, ada juga beberapa cara perkembangbiakan pada hewan yang lainnya. Nah, cara-cara perkembangbiakan pada hewan itu secara umum dibedakan menjadi dua golongan, yakni perkembangbiakan secara generatif (seksual) dan vegetatif (aseksual). Yuk, kita bahas satu per satu!

Baca juga:  Asyiknya Belajar Membaca melalui Video Call

Perkembangbiakan Generatif. Perkembangbiakan generatif atau bisa disebut dengan perkembangbiakan seksual terjadi jika sel kelamin jantan (spermatozoid) bertemu dengan sel kelamin betina (sel telur). Perkembangbiakan generatif dibagi menjadi tiga jenis, yaitu ovipar, vivipar, dan ovovivipar.

Ovipar (bertelur) merupakan perkembangbiakan dengan cara bertelur. Perkembangbiakan ini biasanya dilakukan oleh unggas dan reptil. Setelah terjadi pembuahan, embrio yang dihasilkan akan tumbuh dan berkembang di dalam cangkang telur. Beberapa ciri hewan ovipar yaitu tidak memiliki kelenjar susu dan tidak memiliki daun telinga. Contoh hewan ovipar atau bertelur adalah ayam, bebek, dan angsa.

Vivipar (melahirkan) merupakan perkembangbiakan yang dilakukan dengan cara melahirkan. Setelah terjadi pembuahan, embrio akan tumbuh dan berkembang di dalam rahim induk betina. Selama di dalam kandungan, embrio tersebut mendapatkan nutrisi dari makanan yang dimakan oleh induknya melalui plasenta. Beberapa ciri hewan vivipar yaitu memiliki kelenjar susu, memiliki daun telinga, dan tubuh dilindungi rambut. Contoh hewan melahirkan adalah kucing, anjing, dan singa.

Baca juga:  Pembelajaran IPS Berbasis Kearifan dan Budaya di Masa Pandemi Covid-19

Ovovivipar (bertelur dan melahirkan) merupakan kombinasi dari dua cara perkembangbiakan yang telah dibahas sebelumnya, yakni ovipar dan vivipar. Pada perkembangbiakan secara ovovivipar, setelah terjadi pembuahan, embrio yang dihasilkan akan tumbuh dan berkembang di dalam telur. Sekilas memang terdengar mirip ovipar. Tapi, pada ovovivipar, telur tersebut tidak akan dikeluarkan dari tubuh induknya, melainkan akan tetap berada di dalam tubuh induknya sampai menetas. Setelah menetas, barulah calon anak tersebut akan dilahirkan oleh induk betinanya.

Jumlah hewan yang berkembangbiak secara ovovivipar tidak sebanyak hewan yang berkembangbiak secara ovipar dan vivipar. Beberapa contoh hewan ovovivipar di antaranya adalah platypus, kuda laut, beberapa spesies hiu, dan iguana.

Baca juga:  Peningkatan Penguasaan Vocabulary Berbasis Lingkungan Sekolah

Perkembangbiakan vegetatif disebut juga sebagai perkembangbiakan aseksual, artinya tidak terjadi pertemuan antara sel kelamin jantan dengan sel kelamin betina. Perkembangbiakan vegetatif hanya terjadi pada hewan tingkat rendah. Hewan tingkat rendah adalah hewan yang tidak memiliki struktur tubuh sempurna. Mereka tidak memiliki tulang belakang (avertebrata) dan memiliki struktur anatomi yang lebih sederhana daripada hewan bertulang belakang (vertebrata).

Pembelajaran materi di atas dengan model pembelajaran kooperatif learning ternyata sungguh hebat sekali hampir semua siswa di sekolah penulis SD Negeri 05 Kabunan, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang sangat suka mengikutinya. Dan ketika diberi evaluasi hasilnyasungguh bagus sekali hampir semua siswa mendekati nilai sempurna. (pb1/zal)

Guru SDN 05 Kabunan, Pemalang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya