alexametrics

Blended Learning Solusi Pembelajaran di saat PTM Terbatas

Oleh : Riyono S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, MULAI dilaksanakannya pertemuan terbatas dalam proses pembelajaran sekarang ini memotivasi guru untuk lebih kreatif lagi dalam mengembangkan metode pembelajaran. Awal pandemi Covid-19 kebijaksanaan pemerintah mengacu pada pembelajaran secara daring, namun sekarang tidak lagi dengan menurunnya tingkat persebaran Covid-19.

Metode pembelajaran secara daring bukan lagi satu-satunya metode dalam proses pembelajaran, tapi juga dengan metode tatap muka langsung walaupun belum sampai seratus persen. Hal ini mengisyaratkan adanya pembelajaran dengan metode campuran atau blended learning.

Lebih lanjut, John Merrow (2012) menyatakan “blended learning is some mix of traditional classroom instraction (which in itself varies considerably) and instraction mediated by technology.” Dengan kata lain, pembelajaran campuran atau blended learning merupakan perpaduan pembelajaran kelas tradisional dengan pembelajaran berbasis teknologi (modern).

Kompleksitas permasalasan guru di SMA Negeri 1 Kajen untuk dicarikan solusi dan alternatif pemecahannya menjadi tujuan kenapa pembelajaran campuran atau blended learning ini dikembangkan.

Baca juga:  Efektivitas Blended Learning MS Teams 365 Materi Komposisi Fungsi

Strategi yang dapat dilakukan adalah, pertama, pembelajaran langsung atau tatap muka (instructor-led instruction) secara sinkronous dalam waktu dan tempat yang sama (classroom) ataupun waktu sama tapi tempat berbeda (virtual classroom). Bagi beberapa orang tertentu, pola pembelajaran langsung seperti ini masih menjadi pola utama. Namun demikian, pola pembelajaran langsung inipun perlu didesain sedemikian rupa untuk mencapai tujuan sesuai kebutuhan. Pola ini, juga bisa saja mengombinasikan teori behaviorisme, kognitivism, dan konstructivism, sehingga terjadi pembelajaran yang bermakna.

Kedua, self-paced learning. Yaitu mengombinasikan dengan pembelajaran mandiri (self-paced learning) yang memungkinkan peserta belajar kapan saja, dimana saja, dengan menggunakan berbagai konten (bahan belajar) yang dirancang khusus untuk belajar mandiri baik yang bersifat text-based maupun multimedia-based (video, animasi, simulasi, gambar, audio, atau kombinasi dari kesemuanya).

Bahan belajar tersebut, dalam konteks saat ini dapat disampaikan secara online (melalui web maupun melalui mobile device dalam bentuk streaming audio, streaming video, dan e-book) maupun offline (dalam bentuk CD, dan cetak).

Baca juga:  Media Online Solusi Pembelajaran Masa Pandemi Covid-19 di SMPN 3 Tuntang

Ketiga, collaboration. Mengkombinasikan baik guru maupun siswa yang kedua- duanya bisa lintas sekolah. Dengan demikian, perancang blended learning harus meramu bentuk-bentuk kolaborasi, baik kolaborasi antarteman sejawat atau kolaborasi antarsiswa dan guru melalui tool-tool komunikasi yang memungkinkan seperti chatroom, forum diskusi, email, website/webblog, dan mobile phone. Tentu saja kolaborasi diarahkan untuk terjadinya konstruksi pengetahuan dan keterampilan melalui proses sosial atau interaksi sosial dengan orang lain, bisa untuk pendalaman materi, problem solving dan project-based learning.

Keempat, Assessment. Dalam blended learning, perancang harus mampu meramu kombinasi jenis penilaian baik yang bersifat tes maupun non-tes, atau tes yang lebih bersifat otentik (authentic assessment/portfolio). Di samping itu, perlu mempertimbangkan ramuan antara bentuk-bentuk assessment online dan assessment offline. Sehingga memberikan kemudahan dan fleksibilitas peserta belajar mengikuti atau melakukan penelitian tersebut.

Baca juga:  Problem Solving Meningkatkan Daya Kritis Siswa pada Materi Ketenagakerjaan

Kelima, performance support materials. Jika ingin mengombinasikan antara pembelajaran tatap muka dalam kelas dan tatap muka virtual, perhatikan sumber daya untuk mendukung hal tersebut siap atau tidak, ada atau tidak.

Bahan belajar disiapkan dalam bentuk digital, apakah bahan belajar tersebut dapat diakses oleh peserta belajar baik secara offline (dalam bentuk CD, MP3 dan DVD) maupun secara online. Jika pembelajaran dibantu dengan suatu Learning/Content Management System (LCMS), pastikan juga aplikasi sistem ini telah terinstal dengan baik dan mudah diakses.

Tercapainya strategi yang sesuai dalam pemilihan blended learning akan memudahkan terlaksananya pembelajaran yang diharapkan. Oleh karena itu, peran guru untuk dapat menerapkan strategi yang tepat akan menjadi penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Blended learning merupakan solusi yang tepat untuk proses pembelajaran terutama dalam Pelaksanaan Tatap Muka Terbatas. (cd2/ida)

Guru SMAN 1 Kajen, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya