alexametrics

Asyiknya Belajar Membaca Menulis Aksara Jawa dengan Pohon Kata

Oleh : Siti Mustafiah S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, BAHASA daerah harus tetap terjaga dan berkembang. Salah satu bentuk pelestarian, pemeliharaan, pembinaan, pembiasaan, dan pengembangannya adalah dengan dimasukkannya mata pelajaran bahasa Jawa ke dalam kurikulum pendidikan dan pengajaran lewat sekolah-sekolah. Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang dijadikan mata pelajaran muatan lokal wajib pada Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan di Sekolah Menengah Atas (SMA).

Ada empat aspek yang harus diterapkan dalam kemampuan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis (Tarigan, 1986:1). Keempat kemampuan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, dan bisa diperoleh oleh anak didik secara berurutan dan teratur. Dimulai dari menyimak, berbicara, membaca, dan terakhir adalah menulis.

Kegiatan menulis tidak akan datang dengan tiba-tiba, namun harus dengan latihan secara berulang dan terus menerus. Salah satu contohnya adalah menulis aksara Jawa. Sama halnya di pelajaran bahasa Indonesia, dalam bahasa Jawa pun siswa dituntut lima standar kompetensi yaitu menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berapresiasi sastra.

Salah satu kompetensi yang harus dikuasai anak didik kelas VI SD adalah membaca dan menulis aksara Jawa. Padahal tidak semua anak kelas VI sudah bisa membaca dan menulis aksara Jawa. Apalagi anak pindahan dari luar daerah.

Baca juga:  Pengintegrasian Permainan Kuis Berantai dalam Pembelajaran Biologi

Maka dari itu, guru harus mampu merancang pembelajaran yang dapat membangkitkan minat siswa, bervariasi, dan dibuat menarik. Selain itu mengajarnya juga tidak sekaligus, namun bertahap.

Berdasarkan latar belakang anak didik belum memahami aksara Jawa, pasangan, juga sandangan Jawa, yang seharusnya dari kelas 3, anak didik sudah hapal dan paham aksana Jawa yang 20, di kelas 4 seharusnya sudah mengenal pasangan dan sandangan.

Namun demikian, anak didik kelas VI belum bisa membaca dan menulis karena terkendala dari beberapa faktor. Faktor guru dan faktor anak didik sendiri. Terlebih sejak kelas empat, pembelajaran tidak bisa dilaksanakan secara optimal karena adanya Covid-19.

Berdasarkan hasil observasi di kelas VI SDN 1 Kalijaran, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, ditemukan berbagai masalah dalam pembelajaran bahasa Jawa, khususnya dalam pembelajaran membaca dan menulis aksara Jawa. Belum bisa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan di SDN 1 Kalijaran.

Baca juga:  Peningkatan Aktivitas Belajar Tentang Diagram Lingkaran melalui Model PBL

Untuk itu, penulis sebagai guru kelas 6 SDN 1 Kalijaran menerapkan pembelajaran membaca dan menulis aksara Jawa secara bertahap, serta menggunakan alat pembelajaran sesuai penjelasan. Alat pembelajaran yang saya gunakan adalah pohon kata yang mengandung nilai pendidikan, menarik, serta aman digunakan. Bahkan bahan yang digunakan mudah didapat dan murah.

Di antaranya menyiapkan kertas manila, krayon, spidol, dan pensil. Cara mempraktikkannya juga mudah. Awal mula guru membuat gambar pohon lengkap dengan ranting dan daunnya. Agar lebih menarik, gambar tersebut dikasih warta dengan krayon. Di setiap ranting ditulis aksara yang akan diajarkan.

Jumlah ranting yang digambar sejumlah kata yang akan ditulis. Adapun di daun, ditulis kata yang ada di ranting. Jumlah daun disesuaikan dengan jumlah kata dalam kalimat yang akan dirangkai.

Misalnya guru akan menjelaskan membaca aksara Jawa dalam kalimat unggah-ungguh basa “Ibu kalih Bapak tindhak jagong” berarti di pohon tersebut ada 3 ranting. Di ranting pertama ditulis kata “Ibu” ada 2 daun, yang tiap daunnya ditulis aksara “ha diwulu, ba disuku”.

Baca juga:  Mudahnya Menulis Teks Eksemplum Menggunakan Media Gambar

Ranting kedua tulis “kalih” ada 3 daun, tiap daun ditulis aksara “ka, la diwulu, dan wigyan”. Ranting ketiga ditulis “Bapak tindak jagong” ada 13 daun, tiap daun ditulis aksara “ba, pa, ka, pasangan ta, wulu, na, pasangan da, ka, pasangan ja, taling, ga, tarung, dan cecak”.

Kemudian guru memberikan contoh membaca aksara-aksara yang ada di ranting, siswa menirukan. Kemudian siswa diminta untuk menyebutkan aksara-aksara/pasangan/sandangan yang ada di ranting. Lalu siswa belajar maju satu persatu membaca kata-kata yang ada di ranting dan menyebutkan aksara, pasangan, dan sandangan yang ada di daun.

Berdasarkan hasil observasi di kelas VI, dengan alat peraga berupa pohon kata beraksara Jawa tersebut bisa meningkatkan motivasi dan minat baca tulis anak didik dalam belajar membaca dan menulis aksara Jawa. Realitanya anak didik semakin semangat belajar dan merasa senang belajar sambil bermain. (pb1/ida)

Guru SDN 1 Kalijaran, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya