alexametrics

Tingkatkan Hasil Belajar Matematika Perkalian dengan Metode Jaritmatika

Oleh: Ulfa Umami

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Matematika adalah ilmu yang berkaitan dengan ide-ide yang abstrak yang tersusun hirarkis (Hudojo, 1988). Artinya konsep-konsep matematika saling berhubungan dengan dan berdasarkan pada konsep yang telah ada sebelumnya.

Pembelajaran matematika adalah suatu kegiatan memberi materi yang berbentuk ide-ide abstrak sehingga siswa mampu mengartikan dan mempergunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan benar.

Matematika adalah ilmu pasti. Penalaran yang digunakan dalam matematika adalah penalaran deduktif. Dasar dari penalaran deduktif adalah kebenaran, jadi penalaran deduktif berperan besar dalam matematika. Kebenaran suatu pernyataan haruslah didasarkan pada kebenaran pernyataan-pernyataan sebelumnya.

Dengan teori matematika tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam mempelajari konsep matematika tidak dapat hanya semata-mata menghafal definisi, aksioma dan lainnya namun ditekankan pada kemampuan mencerna, mengolah kembali konsep-konsep matematika.

Salah satu cara meningkatkan kualitas manusia adalah belajar. Belajar adalah sebuah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.

Baca juga:  Pembelajaran Daring Materi Pantun melalui Kartu Kata

Keberhasilan dalam pembelajaran adalah tergantung guru menyampaikan materi kepada siswanya. Penulis tergugah untuk mengubah sistem yang selama ini kurang berhasil dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi perkalian terutama penguasaan konsep.

Berdasarkan pada teori tahapan penguasaan suatu konsep, bahwa siswa SD masih membutuhkan benda konkret (nyata) sebagai alat Bantu. Misalnya dengan menggunakan suatu alat peraga. Alat peraga adalah salah satu bentuk dari media pembelajaran. Manfaat dari penggunaan alat peraga bagi siswa adalah pembentukan konsep, pemahaman konsep, latihan dan penguatan.

Dari kompetensi dasar “Menjelaskan perkalian dan pembagian yang melibatkan bilangan cacah dengan hasil kali sampai dengan 100 dalam kehidupan sehari-hari serta mengaitkan perkalian dan pembagian” pada tema 2 kelas II, guru pasti sering mengalami kesulitan dalam menanamkan konsep perkalian. Yaitu perkalian dua bilangan satu angka.

Baca juga:  Hilda Himawati Bernyanyi Sepenuh Hati

Dalam pengertian selama ini guru menjelaskan bahwa perkalian adalah penjumlahan berulang, itu memang benar. Tetapi kenyataan di lapangan jika angka itu masih mampu dihitung dengan jari maka siswa kelas dua kemungkinan masih bisa mengikuti konsep tersebut. Misalnya menghitung 2 x 4 dibaca dua kali empat yang artinya 2+2+2+2, 3×5 dibaca tiga kali lima yang artinya 3+3+3+3+3, dan lain sebagainya.

Tetapi jika angka tersebut sudah mulai dari 9 x 8 siswa mulai malas berfikir karena deret angka yang begitu panjang. Dari permasalahan tersebut penulis berusaha mengatasinya. Dengan menerapkan suatu strategi pembelajaran yang mudah, cepat,tepat dan menyenangkan yaitu menggunakanmetode jarimatika.

Kehadiran jarimatika sebagai teknik berhitung cepat memang sudah lama, sudah sejak dari tahun 2006 teknik tersebut sudah booming di indonesia. Jarimatika merupakan singkatan dari jari dan aritmatika. Jari adalah jari-jari tangan dan aritmatika adalah keterampilan berhitung.

Baca juga:  Study Komparatif: Indonesia Bercermin dari Pendidikan di Finlandia

Jadi, jarimatika adalah suatu teknik menghitung matematika dengan menggunakan alat bantu jari. Metode pengajaran ini menarik peserta didik untuk tetap semangat dalam belajar matematika dan menepis anggapan bahwa matematika itu sulit dan menjengkelkan.

Perkalian merupakan penjumlahan secara berulang. Pada perkalian dasar dapat dilakukan dengan cara melihat tabel dan memahami konsep dasar perkalian, tetapi pada bilangan sepuluh ke atas peserta didik pasti sulit menghafal. Ada beberapa teknik formasi jarimatika. Yaitu yang pertama perkalian dengan 5, kedua perkalian dengan 8. Ketiga perkalian dengan 9, keempat kelompok dasar bilangan 6 – 10, kelima kelompok bilangan 11 – 15. (nov1/lis)

Mahasiswi Universitas Ngudi Waluyo, Ungaran

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya