alexametrics

Meningkatkan Kemampuan Speaking melalui Metode Story Telling

Oleh : Tantiasih

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Dalam mempelajari bahasa Inggris, kita tidak bisa lepas dengan istilah “speaking”. Bagi beberapa kalangan, menganggap bahwa speaking adalah pelajaran bahasa Inggris paling membosankan setelah grammar. Namun, ada juga yang menganggap speaking adalah pelajaran terpenting dalam mempelajari bahasa pada umumnya, khususnya bahasa Inggris. Salah seorang ahli bahasa yang menganggap pentingnya mempelajari speaking adalah Scott Thornbury. Ia mengungkapkan pentingnya speaking dalam kehidupan sehari-hari sehingga ia menyarankan untuk mempelajarinya jika ingin menguasai suatu bahasa.

Menurut Malan (1991) stor ytelling merupakan usaha yang dilakukan oleh storyteller dalam menyampaikan isi perasaan, buah pikiran, atau sebuah story kepada anak-anak secara lisan. Story telling menggunakan kemampuan penyaji untuk menyampaikan sebuah cerita dengan gaya, intonasi, dan alat bantu yang menarik minat pendengar.

Teknik ini bermanfaat melatih kemampuan mendengar secara menyenangkan. Orang yang ingin menyampaikan story telling harus mempunyai kemampuan public speaking yang baik, memahami karakter pendengar, meniru suara-suara, pintar mengatur nada dan intonasi serta keterampilan memakai alat bantu. Dikatakan berhasil menggunakan teknik story telling, jika pendengar mampu menangkap jalan cerita serta merasa terhibur. Selain itu, pesan moral dalam cerita juga diperoleh. Dikatakan berhasil saat pendengar mampu menangkap jalan cerita serta merasa terhibur. Selain itu, pesan moral dalam cerita juga diperoleh.

Baca juga:  Belajar Narrative Text dengan Thumb Character Dialogues

Di kelas X semester genap SMA N 1 Wiradesa pada Kompetensi Dasar 3.8 yaitu membedakan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan beberapa teks naratif lisan dan tulis dengan memberi dan meminta informasi terkait legenda rakyat, sederhana, sesuai dengan konteks penggunaannya.

Penulis mencoba untuk menerapkan story telling untuk pengambilan nilai speaking. Agar memperoleh hasil yang maksimal, guru telah mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan. Dari perencanaan yaitu siswa menentukan judul fabel apa yang mereka ingin dongengkan, kemudian mempersiapkan cerita tersebut selama satu minggu.

Untuk urutan maju pun sudah dipersiapkan dengan cara mengambil undian agar siswa merasa adil. Yang dinilai dalam storytelling yang pertama kontak mata, di sini pendongeng harus melakukan kontak mata dengan audiens.

Dengan melakukan kontak mata audiens akan merasa dirinya diperhatikan dan diajak untuk berinteraksi. Selanjutnya mimik wajah. Pada waktu story telling sedang berlangsung, mimik wajah pendongeng dapat menunjang hidup atau tidaknya sebuah cerita yang disampaikan. Pendongeng harus dapat mengekspresi wajahnya sesuai dengan yang di dongengkan. Selanjutnya gerak tubuh. Gerakan tubuh pendongeng waktu proses story telling berjalan dapat turut pula mendukung menggambarkan jalan cerita yang lebih menarik.

Baca juga:  Menggugah Antusiasme Siswa melalui Drama dalam Pembelajaran Teks Naratif

Cerita yang di dongengkan akan terasa berbeda jika mendongeng akan terasa berbeda jika mendongeng melakukan gerakan-gerakan yang merefleksikan apa yang dilakukan tokoh-tokoh yang didongengkannya. Dongeng akan terasa membosankan, dan akhirnya audiens tidak antusias lagi mendengarkan dongeng. Selanjutnya adalah suara. Tinggi rendahnya suara yang diperdengarkan dapat digunakan pendongeng untuk membawa audiens merasakan situasi dari cerita yang didongengkan.

Pendongeng akan meninggikan intonasi suaranya untuk mereflekskan cerita yang mulai memasuki tahap yang menegangkan. Pendongeng profesional biasanya mampu menirukan suara-suara dari karakter tokoh yang didongengkan. Misalnya suara ayam, suara pintu yang terbuka. Selanjutnya kecepatan. Pendongeng harus dapat menjaga kecepatan atau tempo pada saat story telling.

Baca juga:  Mudah Balajar Speaking dengan Metode Guess The Word

Yang terakhir adalah alat peraga, untuk menarik minat anak-anak dalam proses story telling, perlu adanya alat peraga seperti misalnya boneka kecil yang dipakai ditangan untuk mewakili tokoh yang menjadi materi dongeng.

Tujuan yang diharapkan dalam story telling adalah menciptakan suasana senang, memberi pengalaman baru dan mengembangkan wawasan pendengar. Dapat memberikan pemahaman yang baik tentang diri mereka sendiri dan orang lain di sekitar mereka. Dapat memberi pengalaman baru termasuk di dalamnya masalah kehidupan yang ada di lingkungan. Menanamkan nilai-nilai budi pekerti.

Kendala yang muncul adalah siswa terkadang lupa dengan apa yang akan mereka dongengkan. Pemahaman anak akan menjadi sulit ketika cerita itu telah terakumulasi oleh masalah lain. Karena bersifat monolog, pendengar menjadi jenuh. Kadang terjadi ketidakselarasan isi cerita dengan konteks yang dimaksud sehingga pencapaian tujuan sulit diwujudkan. Tetapi siswa merasa sangat tertantang untuk bisa berbicara dengan baik di depan teman-temannya. (bk1/lis)

Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Wiradesa

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya