alexametrics

Serat Wulangreh Membentuk Siswa Berkarakter

Oleh: Fauziah Yuniarti, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Dalam proses pembelajaran di sekolah tidak terlepas dengan adanya pendidik, siswa, media, metode, tujuan maupun materi. Dan salah satu materi pembelajaran Bahasa Jawa di SMP di wilayah Jawa Tengah untuk kelas VIII adalah Serat Wulangreh.

Serat Wulangreh merupakan salah satu karya sastra pujangga dari keraton Surakarta Hadiningrat yang bernama Sri Susuhunan Pakubuwana IV. Beliau lah yang menciptakan Serat Piwulang yang sangat terkenal yaitu Serat Wulangreh.

Serat Wulangreh terdiri dari beberapa pupuh tembang yang bermacam – macam, di antaranya : Dhandhanggula, Kinanthi, Gambuh, Pangkur, Asmarandana, Maskumambang, Megatruh, Durma, Wirangrong, Pucung, Sinom, Mijil dan juga Girisa.

Tembang dalam Serat Wulangreh tersebut terdiri atas 283 bait. Tembang Dhandhanggula terdiri dari 8 bait, Kinanthi terdiri atas 16 bait, Gambuh terdiri atas 17 bait, Pangkur terdiri atas 17 bait, Maskumambang terdiri atas 34 bait, Megatruh terdiri atas 17 bait, Durma terdiri atas 12 bait, Wirangrong terdiri atas 27, Pucung terdiri atas 23 bait, Mijil terdiri atas 26 bait, Asmarandana terdiri atas 28 bait, Sinom terdiri atas 33 bait dan Girisa terdiri atas 25 bait.

Baca juga:  Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan Siswa SD dengan Flash Card dan Video Flash Card

Untuk memahami isi dari tembang Kinanthi harus mengerti kata – kata yang digunakan, karena kata – katanya jarang terdengar. Agar bisa memahami kata – kata itu diperlukan kamus (bausastra). Dengan cara ini, isi dari tembang akan lebih mudah dipahami. Oleh karena itu mengartikan kata – katanya harus hati – hati supaya tidak salah.

Tembang Kinanthi merupakan tembang Macapat yang dalam Serat Wulangreh terdiri atas 16 bait. Kinanthi berasal dari kata kanthi, kekanthen, dikanthi yang mempunyai arti digendhong, dibimbing, diajari berjalan oleh orang tua. Tembang ini ditujukan kepada anak – anak muda yang masih perlu untuk dibimbing supaya mengerti tentang budi pekerti.

Baca juga:  Pengaruh Penguasaan Konten dalam Bimbingan Belajar Kemandirian

Serat Wulangreh khusus pupuh Kinanthi isinya pitutur luhur tentang cara bergaul atau memilih teman. Teman yang baik dan teman yang buruk yang berguna kepada manusia sehingga manusia bisa membedakan hal yang baik dan yang buruk.

Bila manusia memilih teman sembarang anak akhirnya akan rugi. Teman bisa membawa berkah dan juga celaka. Bila celaka diri sendiri yang rugi, bila rugi akan menyesal selama hidupnya, mumpung belum terlanjur maka harus berhati – hati.

Selain itu, Serat Wulangreh pupuh Kinanthi juga memberi petunjuk bahwa anak harus menghormati kepada kedua orang tua. Serat Wulangreh juga berisi tentang anjuran berbakti kepada kedua orang tua.

Ada juga anjuran untuk melatih diri agar mengurangi makan (berpuasa) dan mengurangi tidur (betah melek malam), hidup dengan sederhana, tidak suka berpesta pora (boros) karena kebiasaan berpesta pora akan mengurangi kepekaan batin.

Baca juga:  Membentuk Karakter Peserta Didik melalui Pendidikan Spiritual dan Sosial

Kita juga dianjurkan untuk menjauhi orang – orang yang perilakunya kurang baik dan mendekati orang – orang yang berperilaku baik. Sebagai pemuda seharusnya rajin berkomunikasi dan berembug dengan orang tua dan berbakti kepada kedua orang tua lahir maupun batin.

Dengan mempelajari Serat Wulangreh, siswa penulis di SMP Negeri 1 Kemusu, Boyolali, diharapkan bisa menerapkan dalam kehidupan sehari –hari baik dalam keluarga, lingkungan sekitar, maupun di sekolah. (fkp2/ton)

Guru SMP Negeri 1 Kemusu Boyolali

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya