alexametrics

Membangun Efektivitas Pembelajaran Sosiologi dengan Blended Learning

Oleh : Sukaryo, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Konsekuensi sosial pandemi Covid-19 dalam bidang pendidikan ialah penggunaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebagai metode tunggal. Situasi ini menghasilkan kondisi yang kontradiktif. Di satu sisi metode ini memungkinkan terselenggaranya pembelajaran di tengah physical distancing, sementara disisi lain penggunaannya yang sangat cepat dan masif mengakibatkan cultural shock yang berpengaruh terhadap proses belajar mengajar.

Sementara itu, pembelajaran Sosiologi mensyaratkan proses interaksi sosial dalam proses pembelajaran (tatap muka). Hal ini karena masyarakat beserta fenomena sosialnya sebagai objek utamanya tidak mudah dijelaskan hanya dengan pembelajaran jarak jauh. Untuk itu, melalui verifikasinya pemerintah dan dinas pendidikan memutuskan proses pembelajaran dilakukan dengan tatap muka terbatas (PTM terbatas). Dengan keputusan tersebut SMA Negeri I Doro, Kabupaten Pekalongan juga melakukan pembelajaran tatap muka terbatas.

Pembelajaran tatap muka terbatas mengharuskan siswa masuk sekolah dengan segala aturan atau protokol kesehatan termasuk ketersediaan waktu yang tersedia tidak cukup dalam proses belajar mengajar.

Baca juga:  Belajar Pasar Modal Lebih Asyik dengan Pojok Bursa

Hal ini menjadikan ada tantangan besar dalam pelaksanaan pembelajaran Sosiologi karena materi yang banyak dan memerlukan penyampaian fakta-fakta sosial yang praktis pada peserta didik. Guna membangun efektivitas pembelajaran Sosiologi pada tatap muka terbatas perlu menggunakan model blended learning. Di dalamnya terdapat elemen kehadiran sosial dan interaksi melalui media.

Peserta didik dapat memanfaatkan berbagai fitur pembelajaran jarak jauh dengan model tatap muka yang menghasilkan interaksi dan kehadiran sosial.
Harapannya, imajinasi sosiologis sebagai kompetensi mata pelajaran Sosiologi senantiasa dapat berkembang dalam daya pikir, nalar, dan tindakan sosial peserta didik sehingga dapat mengatasi keterbatasan waktu yang tersedia dalam proses pembelajaran tatap muka terbatas ini.

Blended learning adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran dan gaya pembelajaran. Memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran. Dari konsep tersebut menerangkan bahwa blended learning juga sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face to face) dan pengajaran online, tapi lebih daripada itu sebagai elemen dari interaksi sosial antara guru dengan peserta didik. Dari penggunaan model ini pada dasarnya ada beberapa keuntungan yang dapat kita peroleh.

Baca juga:  Asesmen Nasional (AN): Cara Memotret Sistem Pendidikan secara Keseluruhan

Antara lain adanya interaksi antara guru dengan peserta didik secara langsung. Sehingga guru beserta siswa dapat melakukan tanya jawab sesuai materi yang dibahas atau berkaitan dengan fenomena-fenomena sosial sebagai objek sosiologi guna melengkapi pembahasan pembelajran tatap muka disekolah dengan waktu yang terbatas dalam model ini guru dapat juga memberikan referensi bahan ajar yang berupa file dan link materi, video pembelajaran serta tugas yang diharapkan dapat menambah wawasan siswa. Selain itu blended learning adalah bisa mencakup area yang lebih luas karena prosesnya dapat dilaksanakan di rumah atau tempat di manapun dengan waktu yang disepakati antara guru dengan siswa.

Namun yang perlu kita pahami dan diperhatikan bersama adalah ketika penggunaan media internet dihadapkan pada beberapa kendala. Yaitu tidak semua anak mempunyai kuota internet untuk mendukung proses pembelajaran, dan letak geografis yang kadang menjadikan jaringan atau signal yang lemah. Sehingga menjadikan kesulitan beberapa siswa untuk mengikuti pembelajaran dan harus mencari ketempat yang signal lebih mudah.

Baca juga:  Meningkatkan Mutu Pembelajaran Jarak Jauh Bahasa Indonesia dengan Schoology

Selain itu kondisi sekarang yang menjadikan semangat belajar siswa yang kurang maksimal karena pantauan yang kurang. Berkaitan dengan kendala tersebut pemerintah bekerja sama dengan sekolah berusaha membantu dalam bentuk bantuan kuota internet. Harapannya proses belajar tatap muka yang terbatas ini dapat terbantu dengan dilakukan pembelajaran dengan blended learning untuk ketercapaian proses pembelajaran. (bk1/lis)

Guru SMA Negeri I Doro, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya