alexametrics

Kegiatan Seni Rupa Penangkal Sindrum Nomofobia

Oleh: Purwanto, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEIRING dengan perkembangan teknologi gadget saat ini berkembang semakin canggih. Sehingga pada era pandemi ini dinilai sangat dibutuhkan untuk segala kegiatan, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata mulai terasa dampak dari kecanggihannya tersebut, terutama hubungannya dengan dunia pendidikan. Hal ini sangat terlihat untuk pendidikan dasar dan menengah.

Bermula dari sarana untuk mengikuti Pembelajaran dalam Jaringan (daring) kemudian kebablasan banyak waktu untuk bermain dengan alat tersebut, sehingga banyak siswa yang menderita sindrom kecanduan gadget yang dinamakan nomofobia atau sulit lepas dengan benda tersebut dan melupakan apa yang ada sekelilingnya.

Perhatian dan angan-angannya terbelenggu pada dunia maya. Generasi melenial memang mayoritas terjebak dalam kegiatan game, baik online maupun offline serta fitur lain yang memanjakan memiliki daya pikat untuk membukanya. Hal ini juga terjadi pada beberapa siswa di sekolah penulis, SD Negeri 2 Margosari, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal.

Baca juga:  Picture and Picture Mudahkan Siswa Memahami Materi Pembelajaran Tematik

Untuk menangkal sindrum nomofobia, ada cara yang dinilai efektif dengan biaya yang relatif kecil, yaitu dengan sedikit demi sedikit siswa diarahkan pada kegiatan berkreasi seni, terutama seni rupa. Karena berdasarkan fungsinya seni rupa meliputi: Fungsi Individual yaitu untuk kebutuhan fisik misalnya berbusana. Penyaluran emosi misalnya melukis, membuat patung.

Fungsi Sosial misalnya poster, rekreasi untuk memperoleh kepuasan batin dengan permainan warna dan komposisi. Komunikasi, misalnya membuat penunjuk arah suatu tempat. Di bidang pendidikan misalnya ilustrasi materi pelajaran. Keagamaan, misalnya membuat kaligrafi.

Senirupa merupakan wahana untuk mengekplorasi dan wahana performa individu. Sebagai media ekspresi sarana mengejawantahkan keinginan untuk mencapai suatu tujuan. Seringkali anak kurang mampu megeluarkan isi hatinya lewat bahasa lisan, melalui seni rupa salah satu cara yang lain. Media bermain, bagi anak- anak merupakan kehidupan spontan timbul dengan sendirinya. Pengembangan bakat seni, yang terpupuk sejak dini akan lebih baik perkembangannya. Sebaliknya, meskipun berbakat bila tidak dipupuk, maka pudarlah bakat tersebut.

Baca juga:  Menerapkan Konsep Penjumlahan dan Pengurangan dengan Media GMB

Untuk dapat manarik minat anak pada kebiasaan gemar beraktivitas seni rupa dapat dilakukan dengan cara: Sediakan sarana dan peralatan seni yang sederhana yang mudah didapat dan tanpa perlu menguras kantong. Biarkan anak bebas berekspresi. Jangan batasi kebebasan anak dengan mendikte bagaimana seharusnya suatu objek dibentuk dan diberi warna.

Jika membuat suatu hal tidak biasa jangan dipaksakan sesuai penilaian Anda agar tidak nganmbek karena merasa idenya tidak dihargai. Cobalah merangsangnya mengungkapkan cerita di balik hasil karyanya. Anak menjadi kotor karena kegiatan aktivitasnya. Biarkan bermain bebas bekreasi tanpa harus dibatasi larangan dan bentakan.

Janganlah sepihak melarang menggunakan gadget atau bahkan menyentuhpun tidak diperbolehkan, tapi sebaiknya secara bertahap dimulai menjauhi gadget tersebut. Arahkan penggunaan gadget hanya sekadar browsing mencari inspirasi tentang karya seninya. Dukung anak untuk berkarya seni,dengan memajang dan dokumentasikanlah hasil karyanya agar bangga bertambah rasa pencaya diri dan makin terpacu untuk lebih ekspresif dan kreatif dengan seni, Apabila layak dihargai secara materiil bantulah memasarkannya.

Baca juga:  Pengembangan Karakter Berbasis Pancasila pada Kurikulum Prototipe

Apabila anak telah menemukan daya apresiasi terhadap nilai nilai seni rupa, dengan sendirinya akan disibukkan untuk berimajinasi. Berkarya karena akan menemukan kepuasan yang selama ini belum dia rasakan dan tidak ada habisnya selalu ada inspirasi yang baru. Akhirnya sindrum nomofobia lama-lama akan sembuh dengan sendirinya. Menggunakan teknologi dengan bijaksana akan membantu kegiatan hidup kita menjadi mudah. Tapi jangan sampai kita diperbudak oleh tehnologi sampai lupa keberadaan diri sendiri. (fkp2/zal)

Guru SDN 2 Margosari, Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya