alexametrics

Rendahnya Konsentrasi Belajar Siswa Akibat Tontonan Masa Kini

Oleh : Destiana Vidya Prastiwi, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, BANYAK faktor yang mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam belajar. Salah satunya adalah kemampuan peserta didik dalam berkonsentrasi. Dari kegiatan pembelajaran di kelas, penulis mengamati beberapa peserta didik di SD Negeri 1 Purbalingga Wetan, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, ada yang sering melamun, mengantuk, bahkan ada yang tidak bisa menjawab pertanyaan tentang materi pembelajaran yang sedang berlangsung.

Kejadian seperti itu sangat mempengaruhi peserta didik dalam berkonsentrasi saat kegiatan pembelajaran. Padahal konsentrasi belajar sangat penting dilakukan agar kegiatan pembelajaran berhasil.

Konsentrasi dikenal oleh sebagian besar orang sebagai suatu proses pemusatan pikiran kepada suatu objek tertentu (Thursan Hakim 2003, 1). Melakukan konsentrasi secara penuh dirasakan sulit oleh sebagian peserta didik karena dalam melakukannya peserta didik harus benar – benar berusaha keras untuk fokus pada objek yang dituju tanpa mempedulikan objek lain disekitarnya. Konsentrasi yang dimiliki oleh peserta didik tingkat SD hanya sekitar 5-10 menit saja (Gentong Ilmu, 2010).

Baca juga:  Penerapan Media Youtube dalam Pembelajaran Drama

Bagi peserta didik SD yang sedang melakukan kegiatan pembelajaran didalam kelas untuk berkonsentrasi pada apa yang dipelajarinya merupakan hal yang cukup sulit dilakukan. Khususnya peserta didik kelas II SD yang masih ingin bermain.

Teknologi yang sangat pesat perkembangannya di dunia anak khususnya internet menjadi faktor yang memberikan pengaruh cukup besar terhadap rendahnya konsentrasi belajar peserta didik. Akses internet yang bebas dan membuka peluang anak usia SD untuk menjelajah semua informasi dengan leluasa. Dari tontonan yang mendidik maupun tidak, anak usia SD lebih sering melihat tontonan yang bukan disajikan untuk usianya.

Mereka rela begadang demi menonton Youtube, sosial media, bermain game online, konten game dewasa yang tidak semestinya diakses oleh anak usia SD. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan mengoprasikan Smartphone sejak usia dini yang kurang adanya kontrol dari orang tua.

Generasi abad 21 adalah generasi yang harus siap menghadapi berbagai tantangan dimasa depan yang semakin sulit dan mampu menguasai IT. Namun pada kenyataannya anak lebih sering mengakses informasi yang bukan untuk mendukung bidang pendidikan. Anak sudah terbiasa mengenal dan memiliki smartphone, TV kabel atau komputer.

Baca juga:  Pembuatan Diary Perawatan Tanaman Hidroponik Kurangi Kejenuhan Belajar IPA dari Rumah

Mereka lebih memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mandiri, dan modern. Bahayanya mereka menggunakan Smartphone dan komputer untuk bermain game hingga larut malam bahkan bisa mengakses tontonan dewasa tanpa adanya pendampingan.

Bahasa yang tidak layak dan gambar – gambar tanpa sensor dengan leluasanya dipertontonkan. Kebiasan seperti ini sangatlah sulit dihentikan. Ketika mereka ditegur untuk berhenti atau mengurangi kegiatan tersebut, mereka akan cenderung mengamuk, menangis, meronta bahkan sampai memukul dan memecahkan benda-benda disekitarnya.

Jika waktu mereka habiskan hanya untuk menonton konten / tontonan masa kini, maka ketika di sekolah akan mempengarungi daya konsentrasi belajar. Mereka menjadi malas belajar dan kecepatan berpikirnya akan terus menurun. Mereka cenderung terus memikirkan keinginannya segera pulang untuk kembali menjelajah dunia maya.

Baca juga:  Penjumlahan Bilangan Bulat dengan Alat Peraga Sewa Kupu

Kemungkinan solusi yang dapat dilakukan dengan permasalahan diatas; Sekolah bisa membuat konten-konten menarik bagi peserta didiknya agar perhatian anak teralih pada informasi di bidang pendidikan Guru menyajikan pembelajaran yang menarik sesuai karakteristiknya, misalnya dengan menyajikan soal dengan bentuk game.

Menerapkan model pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara langsung sehingga anak lebih aktif mengikuti pembelajaran. Membiasakan usia dini untuk belajar dengan benda konkret di rumah maupun di sekolah. Bekerja sama dengan orang tua peserta didik dalam mengontrol kegiatan peserta didik di rumah.

Penulis berharap seorang guru dapat menjadi orang tua, sahabat bagi peserta didik yang mampu membaur dengan karakteristik mereka. Sehingga anak bisa lebih dekat dan merasa senang pada apa yang sedang dipelajarinya serta bisa meningkatkan konsentrasi belajarnya. Seperti di SDN 1 Purbalingga Wetan. (pb1/zal)

Guru SDN 1 Purbalingga Wetan, Purbalingga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya