alexametrics

Model Pembelajaran PjBL pada BKTIK

Oleh : Sutarto Sapto Prasetyo, ST

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang berbasis kompetensi sekaligus berbasis karakter (competency and character based curriculum), yang dapat membekali peserta didik dengan berbagai sikap dan kemampuan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan tuntutan teknologi (Mulyasa. 2013).

Pada Kurikulum 2013 (K-13) peserta didik dapat lebih terlibat aktif dalam membangun pengetahuan melalui kegiatan belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna, sehingga diharapkan bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat, dan masyarakatnya memiliki nilai tambah (added value) dan nilai jual, untuk mampu bersaing, bersanding, bahkan bertanding dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan global.

Integrasi TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam pembelajaran merupakan salah satu syarat dalam penerapan K-13 (Kemendikbud. 2013). Untuk mengintegrasikan TIK dalam semua mata pelajaran, diharapkan baik pendidik maupun siswa memiliki kemampuan dalam bidang TIK.

Oleh karena itu, diperlukan sebuah pelatihan atau bimbingan TIK, yang salah satunya dilaksanakan melalui mata pelajaran TIK. Dalam K-13 ini, pelatihan dan bimbingan TIK yang sebelumnya disebut mata pelajaran TIK di Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diubah menjadi bimbingan konseling TIK (BKTIK) yang dapat dilakukan secara klasikal maupun individual.

Baca juga:  Belajar Cara Perkembangbiakan Tumbuhan dengan Kooperatif Tipe Jigsaw Tingkatkan Kreativitas dan Hasil Belajar

Salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan minat, kerja sama, pemahaman, dan hasil belajar siswa adalah dengan menerapkan pembelajaran berbasis proyek (PjBL) pada BKTIK kelas X semester 1 di SMA Negeri 1 Kesesi tahun pelajaran 2021/2022.

Integrasi TIK ke dalam mata pelajaran lain adalah untuk memberikan peluang bagi berkembangnya kreativitas dan kemandirian peserta didik. Pembelajaran dengan dukungan TIK memungkinkan peserta didik menghasilkan karya-karya baru yang orisinil, memiliki nilai tinggi, dan dapat dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan yang lebih bermakna.

Dengan terintegrasinya TIK dengan mata pelajaran lain maka beberapa manfaat yang diperoleh. Yaitu TIK sebagai gudang ilmu pengetahuan sebagai referensi ilmu pengetahuan terkini. TIK sebagai alat bantu pembelajaran. TIK sebagai fasilitas pembelajaran. TIK sebagai infrastruktur pembelajaran (Mawardi, Imam: 2013).

Tetapi dalam K-13 TIK itu sendiri tidak menjadi matapelajaran yang utuh, melainkan terintegrasi ke dalam mata pelajaran lain dan menjadi sebuah layanan bimbingan konseling TIK.

Layanan bimbingan yang dilakukan oleh guru TIK kelas X di SMA Negeri 1 Kesesi dalam implementasi Kurikulum 2013 berbeda dengan konselor seperti biasanya. Guru TIK beralih peran menjadi pembimbing atau fasilitator, yang akan membimbing atau memfasilitasi sesama guru dan tenaga kependidikan untuk meningkatan kompetensi-kompetensi yang berkaitan dengan TIK.

Baca juga:  Penguatan Karakter Kebangsaan dalam Pembelajaran Aksara Murda dengan Peta Candi Nusantara

Di dalam kegiatan BKTIK Kelas X semester 1 di SMA Negeri 1 Kesesi tahun pelajaran 2021/2022 tersebut dibagi menjadi klasikal dan individu. Salah satu metode pembelajaran yang dikenal memiliki beberapa keuntungan atau manfaat adalah project based learning.

Project based learning atau pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada guru untuk mengelola pembelajaran di kelas dengan melibatkan kerja proyek.

Kerja proyek memuat tugas tugas yang kompleks berdasarkan kepada pertanyaan dan permasalahan (problem) yang sangat menantang, dan menuntut siswa untuk merancang, memecahkan masalah, membuat keputusan, melakukan kegiatan investigasi, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja secara mandiri (Bender, William N. 2012). Tujuannya agar siswa mempunyai kemandirian dalam menyelesaikan tugas yang dihadapinya.

Langkah-langkah pembelajaran dalam Project Based Learning terdiri dari: pertama, dimulai dengan pertanyaan yang esensial diajukan untuk memancing pengetahuan, tanggapan, kritik dan ide siswa mengenai tema proyek yang akan diangkat.

Baca juga:  BKJJ dengan Video Inspiratif “Aku Bisa”

Kedua, perencanaan aturan pengerjaan proyek yang berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial.

Ketiga, membuat jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Jadwal ini disusun untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam pengerjaan proyek. Keempat, memonitoring perkembangan proyek siswa.

Kelima, penilaian hasil kerja siswa dilakukan untuk membantu pendidik dalam mengukur ketercapaian standar. Selain itu berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik.

Keenam, evaluasi pengalaman belajar siswa pada akhir proses pembelajaran. Pendidik dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan.

Penggunaan metode pembelajaran berbasis proyek pada pembelajaran umunya mengandung kegiatan pembelajaran yang bermakna, dapat meningkatkan keterampilan dan menambah pengetahuan.

Berdasarkan hasil dan pengalaman penulis, dapat disimpulkan metode pembelajaran project based learning (PjBL) pada BKTIK kelas X semester 1 di SMA Negeri 1 Kesesi tahun pelajaran 2021/2022 efektif untuk diterapkan pada pembelajaran BKTIK. (bk1/lis)

Guru BKTIK SMAN 1 Kesesi, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya