alexametrics

Belajar Teks Analytical Exposition dengan Metode Role Play

Oleh: Hadi Suprojo, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Belajar Bahasa Inggris sebenarnya mudah. Jika kita suka dan bersungguh sungguh. Tetapi terkadang masih banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran tersebut.

Pembelajaran bahasa inggris seharusnya bersifat gembira/ menyenangkan dan interaktif. Mata pelajaran ini mencakup kemampuan berkomunikasi lisan secara terbatas dalam konteks sekolah. Salah satunya berbicara/speaking yang menuntut partisipasi siswa secara aktif. Partisipasi siswa dalam pembelajaran adalah salah satu syarat sebuah pembelajaran dapat berlangsung.

Partisipasi siswa dalam hal ini adalah keaktifan siswa saat pembelajaran berlangsung. Seperti yang dijelaskan Nana Sudjana (1988) bahwa keaktifan siswa mendasari terjadinya proses belajar, karena itu hakikat dari pengajaran yang sebenarnya. Tapi tinggi rendahnya tingkat atau kadar keaktifan siswa itulah yang menjadi pokok permasalahan.

Dalam pembelajaran Bahasa Inggris yang dianggap sulit sebagian besar siswa, partisipasi siswa Kelas XI SMAN 1 Kesesi di dalam kelas sangat rendah. Terutama materi Analytical Exposition. Siswa kurang mampu mengungkapkan argumen atau opini berdasarkan situasi yang diberikan guru.

Baca juga:  Adipura Sekolah melalui Aktualisasi Gerakan BRI Mandiri

Masalah ini terus muncul jika guru tidak mampu memilih metode belajar yang baik. Ahmad Surjadi (1989) berpendapat seorang guru hendaknya mengajar dengan cara yang sedemikian rupa. Sehingga siswa menyadari dia dapat belajar efektif bila memiliki tanggung jawab dan aktif di dalam proses belajar mengajar.

Penggunaan konsep pembelajaran yang tergolong biasa, tidak akan meningkatkan partisipasi siswa dalam sebuah pembelajaran. Salah satu konsep yang dapat digunakan guru untuk meningkatkan partisipasi siswa terutama dalam mata pelajaran Bahasa Inggris materi Analytical Expositin dikelas XI adalah roleplay. Mel Silberman (2010) mengatakan, Roleplay merupakan salah satu metode yang sangat berguna untuk menggali sikap dan untuk melatih kemampuan. Metode ini mengajak siswa untuk aktif memerankan suatu tokoh atau mendemonstrasikan suatu situasi. Dimana dalam proses pembuatannya, antara satu aspek dengan aspek lain akan terhubung.

Baca juga:  Pembelajaran Bahasa Inggris Sing A Song Atasi Kejenuhan Siswa

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan. 1) Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok, 2) Guru memberikan topik kepada setiap kelompok, 3) Guru meminta siswa menyusun sebuah analytical exposition text sesuai dengan topik yang sudah diberikan, 4) Guru meminta siswa membuat skenario drama pendek sesuai dengan topik, 5) Dalam waktu satu minggu hingga pertemuan selanjutnya, siswa diminta membagi peran, konsultasi dan koordinasi antar peran, dan membuat video roleplay yang harus dipresentasikan melalui video pendek.

Setiap siswa diwajibkan memiliki porsi dialog yang rata di dalam roleplay yang mereka buat. Ini dimaksudkan agar siswa memiliki kesempatan berbicara. Setelah peran dibagi, dilakukan konsultasi dan koordinasi antar peran dengan mendiskusikan tiga aspek utama dalam roleplay. Yaitu role-taking, role-making dan role-negotiation.

Dalam role-taking, siswa bergantian mencoba memerankan tokoh yang mereka perankan di depan teman kelompoknya. Kemudian jika siswa salah memerankan suatu tokoh, siswa lainnya akan mengoreksinya dengan memberikan contoh bagaimana memerankan tokoh tersebut. Dalam hal ini, siswa melakukan role-making.

Baca juga:  Model Jigsaw Tingkatkan Minat Siswa Belajar PPKn

Setelah semua siswa menemukan cara memerankan bagian masing-masing, mereka melakukan role-negotiation untuk menempatkan bagaimana sebuah peran bisa dihubungkan dengan peran lainnya. Setelah itu, siswa mulai membuat video roleplay dengan merekam adegan drama dan diedit ke dalam sebuah video cerita pendek.

SMA N 1 Kesesi sudah melakukan pembelajaran materi Analytical Exposition Text kelas XI dengan metode pembelajaran Role Play. Metode ini terbukti bisa meningkatkan partisipasi siswa untuk mengemukakan sebuah argumen atau pendapat. Sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik, lebih aktif dan interaktif. Selain itu, menumbuhkan sikap positif terhadap materi dan proses belajar serta mengubah pola pikir siswa. Dari Bahasa Inggris adalah pelajaran yang sulit dan menakutkan menjadi Bahasa Inggris adalah pelajaran yang menyenangkan. (bk2/fth)

Guru Bahasa Inggris SMA N 1 Kesesi Kab. Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya