alexametrics

Literasi Digital, Mengikis Budaya Malu Bertanya di Kelas

Oleh: Titik Sulistiyaningrum, S.Pd., M.A.P

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Bertanya kepada guru di kelas masih dianggap tabu oleh sebagian siswa. Padahal dengan bertanya akan menimbulkan diskusi tentang materi yang diajarkan. Bahkan dengan adanya siswa yang bertanya guru dapat mengetahui sejauh mana siswa dapat paham tentang materi yang akan diajarkan.

Mengajukan pertanyaan merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Seperti dijelaskan Jon Rimer dan Madeline Balaam dalam Class Participation and Shyness: Affect and Learning to Program (2011) bahwa pada perguruan tinggi dalam proses pembelajarannya harus berusaha memberi siswa kesempatan untuk terlibat secara kritis dengan mata pelajaran melalui diskusi. Itu artinya bahwa kelas yang ideal adalah kelas yang kritis melalui diskusi.

Budaya malu bertanya ini jika dibiarkan akan menjadi duri dalam daging pada kegiatan belajar mengajar. Kenapa demikian? Karena ini mengindikasi siswa tersebut kurang percaya diri (minder). Selain itu, siswa juga bisa dikatakan tidak bisa mengekspresikan diri sendiri.

Budaya malu bertanya juga di SMP Negeri 4 Sragi, Kabupaten Pekalongan khususnya pada siswa kelas VII. Karena ada pandemi yang membuat siswa tidak terbiasa bertatap muka secara langsung dengan guru dan siswa lain di kelasnya.

Baca juga:  Mengenal Cerita Rakyat Menyenangkan dengan Role Playing

Ini berbanding terbalik ketika pembelajaran jarak jauh (PJJ) masih diterapkan. Ketika PJJ siswa cenderung aktif bertanya. Namun setelah pembelajaran tatap muka (PTM) sudah mulai diterapkan keadaan berubah.

PTM membuat siswa malu bertanya dibandingkan ketika saat PJJ. Hal ini sangat mungkin terjadi karena siswa takut membuat dirinya malu. Ketakutan itu timbul karena ada dua kemungkinan. Takut menjadi bahan olok-olok teman sekelasnya, dan takut dimarahi guru.

Ketakutan tersebut sebenarnya bisa diobati dengan menambah khasanah bacaan (literasi). Literasi bukan hanya meningkatkan mintat baca tetapi juga daya kritis seseorang. Dengan meningkatnya daya kritis, siswa diharapkan lebih aktif ketika berada di kelas.

Di era seperti sekarang ini, yang paling cocok untuk siswa adalah literasi digital. Dikutip dari buku Peran Literasi Digital di Masa Pandemik (2021) karya Devri Suherdi, literasi digital merupakan pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet dan lain sebagainya.

Baca juga:  Mudah Mengelola Keuangan melalui Pembelajaran Akuntansi

Di SMP Negeri 4 Sragi, penggunaan literasi digital sudah mulai dihembuskan. Pertama pengunaan jurnal literasi online. Jurnal ini memungkinkan siswa untuk mengakses bahan bacaan secara daring.

Penggunaan jurnal literasi online juga mempermudah guru untuk memantau kegiatan literasi siswa karena guru bisa melihat seberapa banyak siswa yang sudah membaca artikel dengan cara melihat jawaban siswa di setiap artikel yang sudah disediakan.

Kedua mading online. Seperti umumnya, mading berfungsi sebagai media atau sarana penyampaian informasi dan penyaluran minat dan bakat siswa. Namun, media yang ditawarkan oleh mading online jauh lebih banyak ketimbang mading konvensional.

Mading online bisa menampilkan video tentang bakat siswa. Contohnya video siswa sedang membaca puisi atau video siswa sedang menari. Selain itu mading online juga bisa diakses di manapun dan kapanpun.

Ketiga memaksimalkan media sosial. Sejauh ini pemanfaatan media sosial belum begitu kentara. Contohnya media YouTube yang banyak mengandung konten edukatif sebagai bahan literasi. Sebut saja seperti film pendek, film dokumenter, podcas, yang tentunya akan menambah khasanah literasi siswa.

Baca juga:  Menjaga Motivasi Kerja Guru untuk Meningkatkan Kinerja Sekolah

Dari ketiga literasi digital tersebut, tentunya harus ada peran guru yang aktif. Peran guru bukan hanya memberikan bahan literasi semata namun juga harus mengawasi, membimbing serta mengevaluasi kegiatan literasi digital di sekolah.

Selain itu, guru juga harus menambah pengetahuan tentang literasi digital. Misalnya mencari konten yang pas untuk siswa, membuat artikel, serta guru juga wajib membaca lebih banyak daripada siswanya.

Di sisi lain guru juga harus kooperatif dalam menjawab pertanyaan dari siswa. Jangan sampai siswa malas bertanya karena jawaban dari guru tidak kooperatif.

Sinergi antara siswa, guru, kepala sekolah, dan wali murid tentunya juga harus dijaga. Bagaimanapun proses untuk mengikis budaya malu bertanya di kelas menjadi tanggung jawab bersama. (ms2/lis)

Kepala SMP Negeri 4 Sragi, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya