alexametrics

Project Base Learning dan Pembelajaran Kolaborasi, Solusi Tepat di Era PTM Terbatas

Oleh: Juminem, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Di saat pandemi seperti sekarang banyak orang tua mengeluhkan sistem pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh, dengan alasan kuota, gaptek, tidak menguasai materi dan lain-lain. Di samping daring, pembelajaran tatap muka terbatas juga mulai dilaksanakan sejak kasus Covid-19 mulai melandai di Kota Semarang.

Di sisi lain perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat telah mengantarkan kehidupan modern memasuki revolusi industry 4.0 yang ditandai dengan berbagai aplikasi berbasis internet.

Salah satu keterampilan abad 21 adalah keterampilan berkolaborasi (collaboration skills) dimana peserta didik dapat belajar dan bekerja sama secara kolaboratif pada pembelajaran berbasis proyek yang autentik dan mengembangkan keterampilan melalui kolaborasi dalam kelompok.

Salah satu pembelajaran kolaborasi dilakukan agar peserta didik merasa nyaman dan senang tetapi tujuan dari pembelajaran juga tercapai. Sistem pembelajaran yang penulis terapkan adalah pembelajaran kolaborasi dengan model project based learning.

Menurut Fathurrohman (2016:119) pembelajaran berbasis proyek atau project based learning adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek atau kegiatan sebagai sarana pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Baca juga:  Membatik Upaya Cinta Budaya Bangsa dan Inovasi dalam Pembelajaran Mapel PKK

Sementara Isriani (2015:5) berpendapat project based learning merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada guru untuk mengelola pembelajaran di kelas dengan melibatkan kerja proyek.

Pendapat ini secara implisit menyatakan, project based learning merupakan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered) yang menetapkan guru sebagai fasilitator. Metode ini penulis terapkan pada peserta didik SMK Negeri 2 Semarang kelas XI AKL dan XI OTKP.

Pembelajaran secara kolaborasi merupakan aktivitas yang melibatkan dua guru atau lebih dalam sebuah tim yang secara bersama-sama melaksanakan aktivitas pembelajaran.

Penulis bekerja sama dengan beberapa guru mata pelajaran yang berbeda untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pembelajaran kepada peserta didik sesuai situasi dan kondisi dengan pencapaian pembelajaran yang akan dicapai.

Pembelajaran kolaborasi ini juga menekankan pada peningkatan kualitas peserta didik dalam belajar (student center). Pembelajaran kolaborasi memiliki beberapa manfaat, antara lain peserta didik mendapatkan pengalaman bekerja sama bukan hanya dengan teman satu kelas tetapi dengan peserta didik lainnya.

Baca juga:  Menumbuhkan Kewirausahaan melalui Market Day

Interaksi antarpeserta didik yang baru mereka kenal menjadi terarah karena mengikuti program pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Mendorong motivasi dan semangat kompetitif yang positif bagi siswa.

Kolaborasi pembelajaran yang penulis lakukan adalah mapel PKK, Akuntansi Keuangan, Administrasi Pajak, dan Bahasa Indonesia. Yaitu projek membuat bandeng presto.

Langkah-langkah dalam melakukan pembelajaran kolaborasi antarmata pelajaran adalah melakukan diskusi dengan guru antarmapel kelas XI AKL dan OTKP untuk mencari pencapaian pembelajaran yang lain yang dapat digabungkan dalam satu tim.

Masing-masing guru yang berkolaborasi mengomunikasikan secara langsung kepada peserta didik ampuan masing-masing, dalam pembelajaran tatap muka terbatas dengan tema yang telah disepakati sesuai capaian belajar masing-masing. Menjelaskan capaian pembelajaran kolaborasi berbasis project based learning dan memotivasi peserta didik. Menjelaskan waktu pelaksanaan pembelajaran kolaborasi antarmapel dan prosedur kerjanya.

Baca juga:  Dinamika Pembelajaran Daring

Pengorganisasian peserta didik dalam beberapa kelompok, membimbing peserta didik dalam pembelajaran kolaborasi berbasis projek. Penilaian tentang apa yang sudah dipelajari dan dalam menyelesaikan project yang disepakati. Pemberian penghargaan kepada kelompok yang menyelesaikan project dengan sangat baik.

Assesmen atau penilaian dalam project ini adalah pertama mapel PKK peserta didik menjelaskan penyiapan peralatan dan bahan sampai proses pembuatan bandeng presto, pengemasan dan penjualan. Kedua, mapel Akuntansi Keuangan peserta didik menghitung besarnya harga pokok penjualan dan menghitung laba rugi penjualan.

Ketiga, mapel Administrasi Pajak peserta didik menghitung besarnya pajak penghasilan orang pribadi dan pajak usaha. Keempat, mapel Bahasa Indonesia peserta didik membuat laporan projek.

Penerapan pembelajaran kolaborasi dengan project based learning sangat diminati peserta didik. Karena peserta didik mendapatkan pencapaian beberapa mapel, dan proses penyelesaian projek sangat mengasyikan bagi peserta didik. (mn1/lis)

Guru Administrasi Pajak SMKN 2 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya