alexametrics

Menjadikan Kelas Menyenangkan di Masa PTM Terbatas

Oleh : Eshia Monica Tilova, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN tatap muka telah dimulai kembali sejak Agustus 2021. Termasuk di sekolah penulis SD Negeri Tambakaji 05, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Meski masih dalam suasana pandemi PTM dilaksanakan secara terbatas dengan kehadiran 50% dari jumlah siswa.

Nyatanya hal ini belum memicu semangat peserta didik untuk hadir dan mengikuti kegiatan PTM di sekolah. Hal ini dapat dilihat dari kedatangan peserta didik, dikarenakan proses pembelajaran dilaksanakan secara bleanded learning ada yang lebih memilih untuk mengikuti pembelajaran melalui google meet atau zoom di rumah. Beberapa alasan diantaranya pelaksanaan pembelajaran di sekolah belum dapat kembali normal atau hanya berlangsung terlalu singkat yaitu 2 jam saja.

Tampaknya semangat dan motivasi peserta didik untuk kembali ke sekolah yang merupakan rumah kedua masih kurang. Peserta didik yang selama setahun lebih melaksanakan pembelajaran secara daring sudah seperti di ninabobokan dengan kenyamanan, kecepatan informasi melalui kemajuan teknologi yaitu pembelajaran secara daring.

Baca juga:  Menumbuhkan Budaya Membaca dengan Pojok Baca

Disisi lain bagi peserta yang selalu hadir mengikuti PTM terbatas di sekolah cenderung kurang aktif selama mengikuti pembelajaran. Hal ini terbukti saat berlangsung diskusi, peserta didik enggan untuk menjawab.

Beranjak dari permasalahan yang ada di kelas di awal masa PTM terbatas, guru mesti berputar otak untuk dapat melakukan inovasi, gerakan, hal yang baru yang membuat peserta didik tidak sabar untuk berangkat sekolah, nyaman saat berada di sekolah serta aktif mengikuti pembelajaran di kelas.

Gebrakan yang dapat dilakukan yaitu dengan menjadikan kelas menyenangkan di masa PTM terbatas. Senang berarti perasaan puas, lega, tidak kecewa ataupun susah. Saat peserta didik merasa senang di kelas pasti akan timbul semangat, tercipta energi positif yang menjadi peserta didik akan melakukan hal yang positif pula. Peserta didik kemudian menjadi betah, terbangun rasa kepemilikan di kelas dan rindu ingin kembali berangkat ke sekolah.

Ruang kelas didesain dengan menampilkan profil diri siswa melalui foto mereka, terdapat juga zona kedatangan yang dapat mencerminkan karakter kedisiplinan anak dalam ketertiban hadir di sekolah. Selain itu peserta didik jika ada yang berulang tahun dapat dirayakan bersama.

Baca juga:  Degradasi Budaya Sekolah di Masa Pandemi

Tak kalah menarik susunan meja dan kursi peserta didik dan guru dapat diubah setiap minggunya sehingga tercipta suasana dan kehangatan baru di kelas. Guru juga menfasilitasi peserta didik juga dapat menceritakan perasaannya yang sedang senang, sedih, gundah dan sebagainya sebagai bentuk curahan emosi di hadapan teman-temannya, maka saat itu warga kelas akan terbangun empati, kebersamaan dan kerjasama.

Dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kelas, peserta didik diberikan kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya, hal ini dapat dilakukan dalam circle time dimana peserta didik duduk bersama, melingkar dan berdiskusi untuk membicarakan sesuatu. Misalnya saja memutuskan kesepakatan mengenai dekorasi kelas. Peserta didik akan merasa dihargai karena pendapatnya didengar dan tentu hal ini sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran.

Baca juga:  Asyiknya Belajar Membaca Menulis Aksara Jawa dengan Pohon Kata

Selanjutnya hal yang tak kalah penting adalah pemberian penghargaan berupa bintang kebaikan yang bisa dilakukan dalam jangka mingguan. Penghargaan ini diberikan kepada peserta didik yang melakukan kebaikan seperti inisiatif mengembalikan buku bacaan dengan rapi, memungut sampah di kelas, menutup jendela, mematikan kipas dan merapikan kembali kursi yang telah digunakan.

Interaksi yang terjalin di kelas akan berkolerasi dengan pembentukan karakter positif pada anak. Dimana guru bukan hanya penghubung pengetahuan saja namun sebagai sahabat, teman curhat dan orangtua di kelas. Sehingga proses belajar mengajar tercipta saling mendukung peduli dan dapat menaikkan sisi akademik peserta didik. Dengan kata lain kelas yang menyenangkan menjadi tempat terbaik bagi peserta didik untuk mengeks¬presikan bakat, minat, dan prestasi yang dimilikinya, bukan menjadi tempat yang mengasingkan. Mereka pun menjadi bagian dari kelas itu karena telah memberi ruang bagi perkembangan peserta didik. (ra1/zal)

Guru SDN Tambakaji 05, Kota Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya