alexametrics

Belajar IPA Menyenangkan dengan Pembelajaran STAD

Oleh: Lindah Cintaningsih, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan Teknologi.

Pembelajaran IPA diharapkan bisa menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta pengembangan lebih lanjut dalam penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Metode pembelajaran IPA juga banyak variasinya. Di antaranya adalah dengan ceramah, tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, pemberian tugas, demonstrasi, eksperimen, simulasi, inkuiri, dan pengajaran unit.

Melalui model pembelajaran kooperatif, siswa dapat belajar lebih aktif mengeluarkan pendapatnya dengan suasana yang kondusif untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, keaktifan serta keterampilan sosial seperti keterampilan bekerjasama yang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat.

Baca juga:  Teks Laporan Hasil Observasi Semakin Dimengerti dengan Sekolah Adiwiyata

Banyak model pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran kooperatif pada penelitian ini penulis menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievment Divicion (STAD) untuk meningkatkan pembelajaran IPA materi sifat – sifat magnet dan penerapannya di kelas VI di SD Negeri 06 Tegalsari.

Menurut Slavin (dalam Nurasma, 2008 : 50), pada model STAD siswa di tempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat atau lima siswa yang merupakan campuran dari kemampuan akademik yang berbeda, sehingga dalam setiap kelompok terdapat siswa yang berprestasi tinggi, sedang, dan rendah atau variasi jenis kelamin, kelompok ras dan etnis atau kelompok sosial lainnya.

Langkah pembelajaran yang harus dilakukan pertama kali/tahap persiapan pembelajaran yaitu guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok secara heterogen dibagi sama rata.Artinya, setiap kelompok berisi anak yang penguasaannya cepat hingga lambat. Guru membagi kelompok – kelompok siswa yang masing-masing siswa berjumlah 6 siswa.

Baca juga:  Matematika Semakin Menarik dengan Media Tebak Angka

Yang kedua adalah guru menyampaikan materi secara klasikal antara 10-15 menit Ketiga, guru memberikan tugas yang harus dikerjakan secara diskusi kelompok. Hal ini dimaksudkan agar anak yang sudah menguasai materi bisa mengajarkan kepada anak yang penerimaan materinya lambat.

Guru memastikan jalannya diskusi kelompok berjalan dengan lancar dengan tujuan melihat bahwa anak yang lemah dalam penerimaan materi bisa mengikuti sama seperti temannya yang lain. Keempat, setelah siswa selesai diskusi, guru menyiapkan permainan kuis beregu sesuai dengan kelompok diskusi.

Guru menyiapkan 6 meja dan meletakkan soal kuis.

Setiap anggota kelompok maju bergantian untuk mengerjakan soal yang sudah di sediakan oleh guru. Setelah siswa mengerjakan, guru meminta siswa lain untuk menanggapi sehingga tercipta tanya jawab dan kelas menjadi ramai aktif.

Baca juga:  Tingkatkan Kompetensi Guru melalui Kegiatan IHT di Sekolah

Kelima, guru memberi hadiah bagi kelompok yang paling aktif. Tahap yang terakhir adalah anak diminta mengerjakan soal secara mandiri.

Dari hasil tugas/mengerjakan soal mandiri ini guru bisa melihat keberhasilan dari strategi dan model pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dengan dilaksanakannya pembelajaran dengan metode STAD menjadikan siswa termotivasi, untuk saling memotivasi dan saling membantu di antara siswa dalam menguasai keterampilan atau pengetahuan yang di sajikan oleh guru. (ra2/zal)

Guru SDN 06 Tegalsari, Pemalang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya