alexametrics

Meningkatkan Semangat Belajar dengan Metode C3T

Oleh: Endah Wiyarti, S.Pd.SD.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SESUAI namanya, metode C3T atau cerdas cermat cepat dan tepat adalah metode pembelajaran yang mengadopsi model kompetisi lomba cerdas cermat. Menurut Bernstein, Rjkoy, Srull, & Wickens mengatakan bahwa kompetisi terjadi ketika individu berusaha mencapai tujuan untuk diri mereka sendiri dengan cara mengalahkan orang lain sedangkan menurut Acks dan Krupat (1988) memberikan pengertian kompetisi sebagai suatu usaha untuk melawan atau melebihi orang lain.

Unsur pendidikan yang ditekankan adalah unsur kecerdasan, ketelitian, kecepatan, dan ketepatan dalam menjawab pertanyaan guru. Perbedaan Metode C3T dengan model lomba cerdas cermat pada umumnya adalah pada pola kerjanya. Lomba cerdas cermat umum terbatas pada 2, 3 atau 4 tim. Sementara itu pola kerja C3T dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk semua siswa di kelas.

Metode C3T adalah model pembelajaran yang menekankan peran aktif siswa untuk belajar mandiri di dalam maupun luar sekolah. Objek dasar kurikulum dan garis-garis besar pembelajaran diberikan pada awal proses belajar-mengajar. Setelah itu, diterapkan metode C3T. Bagi siswa yang berhasil menang berhak mengumpulkan 1 poin dan bagi siswa yang berhasil mengumpulkan 3 poin tidak boleh mengikuti lomba berikutnya. Ia berhak istirahat dan hanya boleh menjadi penonton dan pendengar. Dengan demikian, semakin lama semakin sedikit siswa yang tersisa dan akhirnya habis.

Baca juga:  Asyiknya Menulis dengan Metode Mengarang Beranting

Pada tahap berikutnya, Model C3T diterapkan untuk tiap kelompok yang terdiri dari 2–3 orang. Caranya sama, mengumpulkan 3 poin dan memperoleh hak istirahat sebagai penonton. Semakin tingkat tahapan yang dilalui, materi soal yang diberikan tentu juga lebih berat dibandingkan tahap pertama.Dari kondisi semacam itu, baik siswa yang cepat maupun lambat memperoleh poin sama-sama belajar. Siswa yang cepat mendapat 3 poin tetap belajar tetapi sebagai penonton. Sementara itu, siswa yang lambat mendapat poin juga melakukan aktivitas belajar dari membuat rangkuman selama proses C3T berlangsung.

Seperti yang penulis terapkan di kelas enam SD Negeri 01 Sumublor, Sragi Kabupaten Pekalongan, Langkah penggunaan metode C3T yaitu: guru menyiapkan pertanyaan sebanyak mungkin untuk beberapa materi muatan pelajaran yang diberikan pada siswa serta menyeleksinya berdasarkan tingkat kesulitan yang dimiliki. Guru meminta siswa belajar di rumah. Guru menentukan mekanisme pelaksanaan C3T.

Baca juga:  Pendidikan Cinta Lingkungan melalui Pembiasaan Jumat Bersih

Misalnya siswa yang cepat mengangkat tangan, yang berhak menjawab pertanyaan. Jika jawaban benar, mendapat 1 poin. Setelah terkumpul 3 poin, siswa tersebut boleh istirahat dan menjadi penonton sekaligus pendengar C3T di kelas. Jika soal yang diberikan tidak berhasil dijawab oleh semua siswa di kelas tersebut, pertanyaan diganti dengan pertanyaan yang lebih mudah. Cara yang sama dilakukan terus-menerus sampai semua siswa memperoleh nilai 3 poin.

Hari berikutnya, siswa diundi secara acak untuk membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 2–3 orang. Metode yang sama diterapkan, satu pertanyaan benar memperoleh 1 poin untuk satu kelompok. Jenis dan tipe soal yang digunakan untuk model pembelajaran C3T tahap kedua (untuk kelompok) berbeda dengan tahap pertama. Tahap kedua karena ditujukan untuk kelompok, tingkat kesulitannya lebih tinggi dibandingkan tahap pertama.

Baca juga:  Tingkatkan Pemahaman Matematika dengan Tutor Sebaya

Banyaknya tahapan C3T yang akan dilalui menyesuaikan tingkat penguasaan materi pelajaran siswa di kelas tersebut. Jika kemampuan siswa terbatas, pendalaman materi menjadi prioritas utama.Sebaliknya, jika kemampuan siswa berada di atas rata-rata, pengembangan materi menjadi pilihan terbaik.

Dengan metode C3T proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan semua siswa memiliki semangat belajar yang tinggi karena dituntut untuk berkompetisi menjadi yang terbaik di kelasnya, Selain itu siswa juga belajar untuk percaya diri dalam berbicara atau mengemukakan pendapatnya di depan kelas. Namun demikian metode ini tidak perlu terlalu sering digunakan karena akan menjadi kurang menarik dan siswa menjadi bosan. Cukup sekali dalam satu semester menjadi pilihan yang ideal misalnya saat jeda atau tengah semester. (pr2/zal)

Guru SDN 01 Sumublor, Sragi Kab. Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya