alexametrics

Tingkatkan Belajar Kimia dengan LC 5E Mandiri

Dra. Sri Sutarti, M.Si.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Belajar kimia tidak hanya dengan mengingat konsep dan fakta. Tetapi dituntut aktif dalam proses menemukan konsep dan fakta yang diperolehnya. Dalam pembelajaran ini siswa dikondisikan dalam suasana yang dapat mengembangkan keterampilan abad ke-21. Yaitu keterampilan berpikir kritis dalam memecahkan masalah, kreativitas, inovasi, kolaborasi, dan komunikasi. Dengan pendekatan dan variasi metode yang dipilih dan diterapkan guru selama PJJ harapannya hasil belajarnya meningkat.

Kenyataannya, ada beberapa kendala dalam mewujudkan pembelajaran kimia yang mendorong siswa kelas X SMK 7 Semarang untuk menguasai konsep dan fakta serta mengembangkan. Pertama, persepsi siswa bahwa kimia merupakan pelajaran yang sulit dipelajari. Akibatnya siswa kurang senang belajar kimia terutama di masa pandemi. Hasilnya, belajar kurang baik.

Kedua, siswa merasa kurang merasakan manfaatnya belajar kimia, terutama yang berhubungan dengan jurusannya. Ketiga, siswa SMK terbiasa dan sangat menyukai kegiatan praktik. Sehingga pembelajaran kimia jika tidak ada prakteknya siswa merasa kesulitan memahami konsepnya. Selain itu praktik juga sangat dibutuhkan untuk penilaian psikomotor atau keterampilan siswa yang selama PJJ.

Baca juga:  Real Activities Assesment, Alternatif Model Penilaian dalam Pembelajaran Daring

Salah satu model pembelajaran untuk meningkatkan belajar kimia di kelas X SMK 7 Semarang tersebut adalah Model Learning Cycle (LC) 5E Mandiri Melalui Praktikum Individu. Model Learning Cycle 5E merupakan salah satu model dalam pendekatan STEM. Yaitu rangkaian berbagai tahap kegiatan (fase) yang diorganisir sehingga siswa dapat menguasai kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif. (Ngalimun, 2014)

Kelima tahapan atau fase model Learning Cycle (LC) 5E meliputi: Engagement, Exploration, Explanation, Elaboration, dan Evaluation. Kelima fase tersebut diorganisir sehingga siswa dapat menguasai berbagai kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif secara mandiri.

Pada fase Exploration menggunakan praktikum kimia dengan alat-alat dan bahan-bahan yang dipilih dan dipersiapkan siswa sendiri. Proses praktikum juga dilaksanakan secara individu. Hal ini dilakukan untuk menghindari mobilitas siswa di masa pandemi dan menghindari kerumunan.

Baca juga:  Efektifitas Permainan Happy Kingdom pada Pembelajaran IPA

Sementara tahap implementasi Model Learning Cycle 5E Mandiri dalam pembelajaran kimia KD 3.1 di kelas X SMK 7 Semarang terbagi menjadi 3 tahap. Pertama, tahap persiapan. Meliputi pemilihan KD dan flavon pembelajaran, pembuatan RPPJ, LKPD, LKS tentang pemisahan campuran dan soal evaluasi. Kedua, tahap pelaksanaan. Yaitu penerapan model learning cycle 5E sesuai sintaknya dengan menggunakan praktikum kimia individu pada fase exploration. Ketiga, tahap evaluasi. Yaitu evaluasi penerapan model pembelajarannya praktikum serta LKS yang digunakan, serta soal-soal yang digunakan untuk evaluasi pengetahuannya.

Hasil Implementasi model learning cycle (5E) mandiri melalui praktikum kimia individu di masa pandemi kelas X SMK 7 Semarang selama 2 tahun pelajaran berturut turut memberi indikasi positif dalam peningkatan hasil belajar siswa dari ranah pengetahuan . Terbukti, rata – rata nilai LKPD dan ulangan harian siswa kian meningkat dari 87.9 dan 81.2 di tahun 2020/2021 menjadi 93.86 dan 81.8 di tahun 2021/2022.

Baca juga:  Pembelajaran Ikatan Kimia secara Kontekstual dengan Media Bahan Alam di Lingkungan Sekitar

Sedangkan dari ranah ketrampilan semakin meningkat dari 85.59 menjadi 86.03. Selain itu, dampak yang terjadi selama implementasi model ini adalah timbulnya rasa senang dan antusias dalam belajar kimia. (RN1/fth)

Guru Kimia SMK 7 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya