alexametrics

PBKH : Pembelajaran Bermakna di Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Etiek Yuliawati, S.Si

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Dunia dikejutkan dengan wabah penyakit yang disebabkan oleh virus korona atau biasa dikenal dengan istilah Corona Virus Diseases-19. Virus ini berdampak pada berbagai bidang, tak luput bidang pendidikan.

Dengan adanya pembatasan interaksi sosial (social distancing), maka sistem pendidikan di Indonesia secara mendadak juga berubah, yang semula pembelajaran dilakukan secara tatap muka di kelas berubah menjadi pembelajaran jarak jauh (daring).

Pembelajaran daring atau online merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara guru dan siswa, tetapi pembelajaran dilakukan melalui jaringan internet. Jaringan internet yang memadai, gadget serta paket data merupakan sarana utama yang harus terpenuhi dalam pembelajaran daring.

Sulitnya sinyal dan borosnya kuota merupakan problematika yang sering dikeluhkan peserta didik. Bukan hanya itu saja, banyaknya tugas yang diberikan guru dalam pembelajaran daring membuat siswa stress dan bosan.

Baca juga:  Mudahnya Belajar Matematika dengan Metode Reciprocal Theaching

Untuk mengatasi permasalahan ini, guru dituntut menguasai teknologi digital dan metode pembelajaran. Variasi dan ketepatan pemilihan model pembelajaran online menjadi penentu keberhasilan belajar peserta didik. Penggunaan model pembelajaran yang monoton cenderung membosankan. Dibutuhkan kreativitas guru dalam mengelola dan mendesain media pembelajaran online agar kebosanan peserta didik dapat dihindari.

Mengombinasikan pembelajaran online dengan pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi alternatif pilihan untuk menghindari kebosanan peserta didik dan mengurangi penggunaan kuota atau paket data yang selama ini dikeluhkan.

Pembelajaran Berorientasi Kecakapan Hidup (BPKH) dalam bentuk tugas proyek dapat dijadikan salah satu pilihan pembelajaran yang bermakna pada situasi pandemi saat ini.

Menurut tim Broad-Based Education (2002), kecakapan hidup atau life skills sebagai kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan. Kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya (Depdiknas, 2002:2).

Baca juga:  Bangkitkan Semangat Belajar Siswa melalui Pendekatan Konstruktivisme

Tujuan pendidikan kecakapan hidup adalah untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan di dalam kehidupan sehari-hari, seperti proses sosial, fungsi sosial serta masalah-masalah kehidupan. Dengan kecakapan hidup yang baik akan mampu menyelesaikan masalah-masalah melalui pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya.

Bagaimana mengintegrasikan kecakapan hidup (life skill) dalam mata pelajaran? Guru mengembangkan model pembelajaran yang dikaitkan dengan konteks kehidupan peserta didik, agar memungkinkan mereka belajar menerapkan isi materi belajar dalam memecahkan problema yang dihadapi dalam kehidupan keseharian.

Model pembelajaran life skill yang terpadu dengan mata pelajaran (integrated learning) dan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) atau CTL merupakan model pembelajaran yang mengarah pada pembentukan kecakapan hidup.
Pada model ini diberlakukan bentuk evaluasi yang berbeda yaitu evaluasi otentik (authentic evaluation) yaitu evaluasi dalam bentuk perilaku peserta didik dalam menerapkan apa yang dipelajarinya. Sebagai contoh guru dapat mengintegrasikan kecakapan hidup dalam materi pelajaran tentang perkembangbiakan vegatatif pada tumbuhan atau pada materi bioteknologi dengan cara praktik sebagai tugas proyek.

Baca juga:  Belajar IPA Menyenangkan dengan Picture and Picture

Hasil dari pembelajaran ini diharapkan peserta didik memiliki kecakapan hidup atau ketrampilan membiakan tanaman secara vegetatif atau membuat produk bioteknologi.

Melalui PBKH (Pembelajaran Berorientasi Kecakapan Hidup) ini, penulis menyimpulkan peserta didik perlu dibekali dan dilatih kecakapan hidup sejak dini, sehingga kelak mereka memiliki kemampuan untuk bertahan dan bersaing dalam kehidupan nyata. (ms1/lis)

Guru IPA SMPN 3 Sawangan, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya