alexametrics

Penguatan Nilai Moderasi Beragama dalam Literasi Digital

Oleh: Yuni Hasnidar,S.Pd. M.MPd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Krisis moral merupakan masalah yang melekat pada umat dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Tidak terkecuali, pada peserta didik. Usia milenial diakui sebagai pribadi yang sedang mencari jati diri. Mereka senang mencoba hal-hal baru. Keingintahuan tinggi. Muncul kekhawatirkan jika yang diadopsi tidak sesuai dengan keadaan dan kondisi budaya setempat.

Tren kekinian di media sosial sangat cepat mempengaruhi karakter seseorang. Fenomena ini menyasar pada peserta didik di Madrasah Aliyah Negeri Karimun, Kepulauan Riau.

Dalam Modul Membangun Karakter Moderat pada Madrasah MTs-MA, Direktorat KSKK Madrasah, Ditjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia, disebutkan lulusan madrasah tidak hanya pintar secara intelektual. Tetapi berkarakter kuat pada aspek moderasi beragama dan revolusi mental. Artinya peserta didik memiliki kecakapan yang sempurna. Berkemampuan akademik baik sekaligus memiliki akhlak terpuji.

Baca juga:  Temamihaci Wujudkan Madrasah Bersih dan Sehat

Merujuk pada Gurindam Dua Belas karya Sastrawan Kepulauan Riau bergelar Raja Ali Haji, bahwasanya makna yang terkandung di dalam tiap-tiap pasal berisi nasehat dan petuah hidup. Diksi yang digunakan sangat indah dan tertata. Diyakini pesan yang ingin disampaikan tersampaikan kepada sasaran dengan baik.

Literasi merupakan kemampuan membaca, menulis, menganalisis sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital dan auditori (Samsir, 2020). Kemampuan inilah yang sedang didorong kepala madrasah kepada pendidik, tenaga kependidikan. Terutama peserta didik di Madrasah Aliyah Negeri Karimun.

Di Era 4.0 dan dalam kondisi pandemi mengharuskan peserta didik di madrasah cerdas Literasi digital. Jika diabaikan atau menunda sebagai komunitas pengguna digital maka akan tertinggal informasi. Ruang digital membuat ruang gerak untuk praktik baik, berdakwah, berkolaborasi secara aktif serta kreatif, inovatif bertambah luas.

Baca juga:  Targetkan 12,5 Juta Orang Terliterasi Digital Pada 2021

Madrasah Aliyah Negeri Karimun, Kabupaten Karimun Kepulauan Riau merupakan satuan pendidikan tingkat MA/SMA yang melaksanakan kegiatan pembiasaan sebagai penguatan nilai-nilai moderasi beragama. Setiap hari diprogramkan 15 menit sebelum pukul 07.00. Tentunya ajakan yang ramah dan aplikatif sangat mudah diterima. Apalagi setelah didesain sesuai dengan kebutuhan milenial. Mengajak tidak boleh memaksa, mengajak jangan sampai melukai.

Akomodasi budaya lokal Gurindam dua belas menuangkan itu semua. Didesain kekinian menggunakan aplikasi wordpress berbasis mobile. Peserta didik dapat mengakses berbagai pasal dari gurindam dua belas yang menjadi kebutuhan mereka. Aplikasi ini sengaja dipilih karena ringan, kekinian dan nyaman (ekonomis).

Ghofur (2020) menyatakan Gurindam dua belas. Merupakan puisi lama yang memuat 12 pasal. Tiap-tiap pasal berisi sampiran. berisikan nilai-nilai beragama yang sangat tinggi. Nasehat akan pentingnya pendidikan, nasehat agama, nasehat sebagai makhluk sosial , nasehat menjaga moral serta menjaga seni budaya Indonesia.

Baca juga:  Pengaruh Gadget terhadap Karakter Anak

Sekarang cara mengimplementasikannya sedikit berbeda. Mengikuti era, yakni era digitalisasi. Peserta didik dapat belajar kapanpun dan dimanapun cukup dengan mengklik tautan yang telah diberikan. Tinggal pilih menu rekaman suara atau video. Inti dari semua itu adalah penguatan nilai-nilai beragama dalam literasi digital dapat diimplementasikan dengan baik. (rs2/fth)

Kepala MAN Karimun, Kepri

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya