alexametrics

Puisi dengan Objek Langsung

Oleh: Puji Rahayu, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, MENURUT Semi (1988:84) Puisi dapat diumpamakan sebagai suatu pernyataan yang muncul dari suatu kemampuan, penyairnya melihat suatu secara antusias dengan jurus yang tepat.

Penyair mempertimbangkan secara matang apa yang dilihatnya, kemudian mengungkapkan hasil penglihatannya tanpa berkecenderungan mempermasalahkannya.

Sejalan dengan pendapat di atas, tepatlah jika pernyataan tersebut digunakan dalan pembelajaran puisi terutama pada menulis puisi.

Karena biasanya puisi diartikan karya sastra hasil dari ungkapan dan perasaan seseorang dengan bahasa yang indah yang terikat irama, rima, dan seterusnya.

Nah, inilah yang membuat pembelajaran puisi khususnya membuat puisi menjadi tidak bisa terlaksana dengan baik. Peserta didik hanya mengetahui kalau puisi itu menggunakan kata-kata yang cukup indah. Ini cukup rumit dan tentu saja sangat menyiksa bahkan menghambat bagi peserta didik yang tidak menyukai puisi.

Padahal dalam puisi modern sekarang, ada beberapa karya penyair yang mengesampingkan unsur kata-kata indah. Apalagi didukung ada yang namanya puisi diafan, yaitu puisi yang mirip menggunakan bahasa sehari-hari.

Baca juga:  Connection Stories Permudah Belajar Personal Recount Text

Beberapa hambatan yang sering dihadapi peserta didik dalam menulis puisi diantaranya adalah peserta didik tidak tertarik pada puisi dan tidak terbiasanya siswa membuat puisi untuk mengungkapkan perasaannya (harus menggunakan bahasa indah dan bermakna tadi).

Menurut Semi (1988:84) seperti di atas, membuat puisi dapat melihat sesuatu. Dapat diartikan bahwa membuat puisi dapat dibuat dengan melihat objek langsung baik peristiwa atau bendanya. Objek yang diamati bisa barada di lingkungan pesrta didik baik di rumah maupun di sekolah.

Objek yang akan dijadikan puisi adalah objek yang sederhana dulu. Kalau di sekolah misalnya tidak ke luar kelas ya bisa benda-benda dalam ruangan tersebut. Bisa lukisan, meja, kursi, tas yang mereka punya, teman-teman mereka, ruang kelas mereka sendiri dan sebagainya. Kalau ke luar kelas dengan tujuan supaya anak tidak jenuh bisa juga.

Baca juga:  Sukses Belajar Luas Lingkaran melalui Audio Visual

Objeknya bisa sekolah, ruang perpustakaan, beberapa gazebo yang dijadikan menjadi pojok litersi di luar kelas, dan sebagainya. Jika objeknya ada di rumah, mereka bisa mengamati ruang kamar tidur atau belajar mereka sendiri, ruang tamu, polah tingkah adik atau kakaknya, kegiatan ibu atau ayahnya sehari-hari dan sebagainya.

Hal ini dapat dikaitkan dengan puisi diafan.Yang artinya membuat puisi dapat melihat objek langsung kemudian mengungkapkan perasaan mereka dengan menggunakan bahasa yang mereka anggap mudah (bahasa sehari-hari) dan dapat dengan mudah pula diterima atau dimaknai oleh orang lain.

Itulah salah satu cara supaya peserta didik menyukai dan dapat membuat puisi. Yaitu dengan melihat langsung objeknya dan mengungkapkan perasaan mereka dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Cara ini dilakukan supaya peserta didik lebih fokus apa yang akan mereka tulis sesuai objeknya. Langkah selanjutnya adalah mendeskripsikan objek tersebut.

Jika peserta didik belum bisa menemukan bahasa yang tepat, maka bahasa-bahasa tersebut bisa dikumpulkan dan diurutkan dulu. Seperti kalau mereka membuat karangan, membuat kerangka karangan dahulu baru membuat karangan yang utuh, berbentuk paragraf. Demikian juga dengan puisi yang mereka buat.

Baca juga:  Pembelajaran PKN Efektif dengan Media Poster

Jika sudah menemukan bahasa yang tepat, maka peserta didik dapat menyusun bahasa tersebut ke dalam puisi yang akan mereka buat yang berbentuk bait.

Ditekankan bahwa puisi yang mereka buat adalah puisi yang sesuai dengan kemauan mereka sendiri baik bahasa ataupun bentuk baitnya. Jika kita membatasi jumlah bait, takutnya mereka kurang maksimal menuangkan ide-idenya. Jadi jumlah bait bebas.

Saya yakin dengan cara tersebut yang diterapkan di SMPN 1 Ambarawa, Kabupaten Semarang, peserta didik akan pelan-pelan menyukai dan suka membuat puisi. Waktu yang dibutuhkan pun tidak terlalu menyita waktu. Sehingga dalam benak mereka puisi yang mereka anggap sulit, pelan-pelan akan berubah. Puisi adalah mudah. (rn2/zal)

Guru SMPN 1 Ambarawa, Kabupaten Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya