alexametrics

Asyiknya Belajar Aksara Jawa dengan Model Scramble

Oleh: Siti Solikhatun, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Dalam pembelajaran khususnya mata pelajaran Bahasa Jawa tentang aksara jawa, siswa merasa kesulitan dalam menulis maupun membaca aksara jawa.

Hal ini dikarenakan pembelajaran aksara jawa tidak cukup dengan pemberian materi secara daring, kemudian siswa diberi tugas untuk mengerjakannya. Tetapi diperlukan latihan menulis aksara jawa secara langsung agar dalam penulisannya benar.

Dari hasil pekerjaan siswa kelas V SD Negeri Kapuhan 2 Kecamatan Sawangan dalam pembelajaran aksara jawa masih kurang memuaskan. Untuk itu, penulis mencoba menerapkan model pembelajaran yang cocok dalam pembelajaran aksara jawa agar siswa termotivasi dalam pembelajaran tersebut.

Berdasarkan penjelasan tersebut, model pembelajaran merupakan suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Peranan model pembelajaran itu sebagai alat untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif dan lebih bermakna.

Kali ini, model pembelajaran kooperatif tipe scramble menjadi salah satu alternatif yang diterapkan oleh penulis.

Model pembelajaran scramble menurut Patty (2015: 1-2) terdiri atas bermacam– macam bentuk yakni: pertama, Scramble kata, yakni sebuah permainan menyusun kata–kata dan huruf–huruf yang telah dikacaukan letaknya sehingga membentuk suatu kata tertentu yang bermakna, misalnya: Tpeain = petani Kberjae = bekerja.

Scramble kalimat, yakni sebuah permainan menyusun kalimat dari kata–kata acak. Bentuk kalimat hendaknya logis, bermakna, tepat, dan benar. Contohnya Pergi- aku-bus-ke-naik-Bandung = aku pergi ke Bandung naik bus.

Kedua, Scramble wacana, yakni sebuah permainan menyusun wacana logis berdasarkan kalimat–kalimat acak. Hasil susunan wacana hendaknya logis dan bermakna.

Dalam hal ini penulis menerapkan model pembelajaran scramble kata dan scramble kalimat, yaitu bermain menyusun huruf menjadi kata dan menjadi sebuah kalimat yang sederhana tapi bermakna dengan menggunakan aksara jawa.

Penulis menyiapkan bermacam-macam kartu aksara jawa dan sandhangan-nya yang dikemas dalam beberapa paket untuk dibagikan ke siswa dalam kelompok belajar di tiap dusunnya.

Di sini, siswa akan belajar sambil bermain kartu aksara jawa untuk dirangkai ke dalam kata, kemudian disusun menjadi sebuah kalimat sederhana yang mengandung makna secara bergantian.

Misalnya, kalimat yang sudah terbentuk itu berbunyi selalu cuci tangan, selalu jaga kesehatan, jangan lupa pakai masker, dan lain-lain. Dari hasil pantauan penulis melalui WhatsApp Group, siswa telah melakukan pembelajaran dengan antusias dan menyenangkan.

Hasil pekerjaan tiap siswa dikonsultasikan ke penulis melalui WhastApp untuk diberikan reward. Di luar dugaan, hasilnya sungguh bagus dan orang tua siswa juga merasa puas dengan pembelajaran seperti ini, karena siswa tidak ada alasan untuk mencari jawaban di google.

Menurut Shoimin (Patty, 2015: 4) model pembelajaran scramble mempunyai kelebihan yaitu: setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.

Setiap anggota kelompok harus mengetahui bahwa semua anggota mempunyai tujuan yang sama. Mereka harus berbagi tugas dan tanggung jawab, dikenai evaluasi, dan berbagi kepemimpinan.

Selain itu, setiap anggota kelompok membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama dan nantinya akan dimintai pertanggungjawaban secara individual tentang materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Maka dari itu, dalam teknik ini setiap siswa tidak ada yang diam karena setiap individu diberi tanggung jawab akan keberhasilan kelompoknya.

Model pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk saling belajar sambil bermain. Mereka dapat berkreasi sekaligus belajar dan berfikir, mempelajari sesuatu secara santai dan tidak membuat mereka stres atau tertekan.

Selain membangkitkan kegembiraan dan melatih keterampilan tertentu metode scramble juga dapat memupuk rasa solidaritas dalam kelompok.

Materi yang diberikan melalui salah satu metode permainan biasanya mengesankan dan sulit untuk dilupakan. Sifat kompotitif dalam metode ini dapat mendorong siswa berlomba–lomba untuk maju.

Dengan demikian model pembelajaran kooperatif tipe scramble ini dapat memperoleh tanggung jawab, belajar sambil bermain, membangkitkan kegembiraan dan melatih keterampilan, mengesankan dan sulit untuk dilupakan, dan mendorong siswa berlomba–lomba untuk maju. (pm2/aro)

Guru SD Negeri Kapuhan 2, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya