alexametrics

Penerapan Pembiasaan 5S dalam Pembelajaran di Era New Normal

Oleh : Dra. Sri Puji Rahayu, M.Si

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID,Pendidikan Kewarganegaraan atau sekarang namanya Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) merupakan bagian yang utuh dari pendidikan. Oleh karena itu PPKn diwujudkan dalam berbagai kurikulum tingkat rendah dan tinggi.

Ruang lingkup materi PPKn pada SMP/MTs kelas VII, yaitu sebagai berikut : Perumusan dan Penetapan Pancasila sebagai Dasar Negara. Norma-Norma dalam kehidupan bermasyarakat. Sejarah perumusan dan pengesahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Keberagaman Suku, agama, ras, dan antargolongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Kerja sama dalam berbagai bidang kehidupan. Karakteristik tempat tinggal dalam kerangka NKRI. Karakteristik Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran penyempurnaan dari mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang semula dikenal dalam Kurikulum 2006.

Selama satu tahun di masa pandemi Covid-19 seluruh siswa melakukan pembelajaran secara daring. Lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Sehingga selama satu tahun ini interaksi dengan orang lain secara tatap muka berkurang. Anak-anak condong pada gadget yang dimiliknya dari pada harus berinteraksi dengan orang lain.

Baca juga:  Guru PPKn Mendorong Siswa Menjadi Tokoh Kebangkitan

Hal ini menjadi salah satu tugas dari mapel PPKn yang ikut berperan dalam membentuk karakter siswa yang sesuai dengan norma terutama norma kesopanan.

Dalam ruang lingkup PPKn kelas VII sendiri terdapat materi tentang norma-norma di dalam masyarakat. Siswa diharapkan menerapkan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Di masa pandemi satu tahun terakhir ini mapel PPKn yang dapat membentuk karakter siswa yang bertanggung jawab, sopan santun, disiplin, dan lain-lain yang sesuai norma mengalami sedikit kehilangan karakter itu pada siswa.

Terbukti pada saat pertama kali PTM dilaksanakan yaitu 31 Agustus 2021, siswa tidak ada satupun yang menyapa guru maupun teman sekelasnya. Bahkan di saat guru menyampaikan materi di kelas siswa pasif. Tidak ada yang menjawab salam ataupun pertanyaan guru.

Melihat permasalahan seperti ini sebagai guru PPKn, penulis mengajarkan materi norma kesopanan melalui pembelajaran langsung setiap hari. Yaitu menggiatkan atau membiasakan kembali program 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun) di SMPN 38 ke dalam pembelajaran.

Baca juga:  Menanamkan Nilai-Nilai Demokrasi pada Siswa di Sekolah

Sebelumnya 5S sudah diterapkan sebelum pandemi, maka saat pandemi seperti ini 5S tetap diterapkan yaitu senyum. Tetap tersenyum meski kita tidak saling dapat melihat karena tertutup masker sebagai patuh pada protokol kesehatan. Salam yang biasanya dilakukan siswa mencium tangan guru saat bertemu, karena new normal tidak diperkenankan berjabat tangan maka cukup dengan mengatupkan kedua tangan ke dada.

Sapa, biasanya siswa yang terlebih dahulu menyapa bapak ibu guru. Karena sudah satu tahun lebih anak-anak tidak bertemu dengan gurunya, maka tugas kita mengajarkan kembali dan membiasakan kembali untk menyapa siswa terlebih dahulu.

Sopan dan santun salah satu yang dapat kita ajarkan ke siswa saat pembelajaran yaitu berbicara yang sopan kepada guru. Kepekaan terhadap lingkungan (contoh kecil yaitu tanpa diminta jika papan tulis sudah kotor harus segera dihapus, menjawab salam ataupun pertanyaan dari guru, memimpin doa bersama, menyapa guru saat di kelas, dll).

Baca juga:  Peningkatan Kecakapan Akademik Matematika dengan Reciprocal Teaching

Hal-hal seperti di atas yang diterapkan sebagai pembiasaan pada mapel PPKn terutama di materi norma karena siswa seperti belajar langsung dan mempraktikkan di kehidupan sehari-hari. Dengan pembelajaran tatap muka (PTM) dan pembiasaan 5S yang diterapkan setiap hari lama-kelamaan dapat membentuk karakter siswa yang sesuai dengan norma kesopannan yang sempat terkikis sedikit.

Terbukti sekarang siswa di SMPN 38 sudah tidak lagi seperti waktu awal PTM. Tanpa kita menyapa terlebih dahulu, anak-anak saat masuk menyapa dan salam. Ketika di kelas pun demikian, tidak perlu meminta atau menyuruh siswa memberi salam, siswa sudah dengan sendirinya menyapa atau memberi salam kepada bapak/ibu guru yang masuk kelas.

Kemudian memimpin doa tanpa diminta. Saat ini siswa sudah mulai aktif bergantian memimpin doa bersama. Begitu juga dengan membersihkan papan tulis yang sudah kotor, mereka dengan senang hati dan sigap melakukan sendiri. (ra1/lis)

Guru SMP Negeri 38 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya