alexametrics

Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Menyenangkan dengan Model Konstruktivisme

Oleh: Yarniwati Zebua, S.Th

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Permasalahan pendidikan selalu muncul bersamaan dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan siswa, situasi, dan kondisi lingkungan yang ada. Juga pengaruh informasi dan kebudayaan serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kondisi di lapangan saat ini menunjukkan masih diberlakukannya sistem guru kelas di SD. Hal ini dinilai sebagai cara pendekatan konvensional yang tidak efektif, dan menimbulkan kejenuhan siswa di dalam kelas.

Menghadapi situasi ini, guru perlu untuk melakukan pembaharuan menyangkut cara mengajarnya. Guru berada pada titik sentral untuk mengatur, mengarahkan, dan menciptakan suasana kegiatan belajar-mengajar yang dapat merangsang minat, motivasi, dan prestasi belajar siswa. Untuk itu, guru dituntut untuk lebih profesional, inovatif, dan proaktif dalam melaksanakan tugas pembelajarannya.

Begitu pula dalam pelajaran Pendidikan Agama Kristen, guru agama perlu terus-menerus berupaya untuk secara kreatif mencetuskan ide-ide dan cara-cara baru dalam pembelajarannya. Sehingga pencapaian kompetensi Pendidikan Agama Kristen dalam hal ini penanaman nilai-nilai ajaran kekristenan dapat tercapai.

Pembelajaran konvensional-tradisional dalam bentuk ceramah dan atau tanya-jawab untuk pelajaran Pendidikan Agama Kristen tentu tidak cukup lagi. Karena akan menimbulkan verbalisme dalam pembelajaran. Model pembelajaran konstuktivisme dapat menjadi salah satu model yang dapat dikembangkan dalam pelajaran Pendidikan Agama Kristen.

Dengan model ini, akan menjadikan kebiasaan guru yang bersifat otoriter menjadi fasilitator. Mengubah kegiatan pembelajaran ego-involment menjadi task-involment. Sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif, menggembirakan, dan menyenangkan.

Model pembelajaran konstruktivisme dalam pelajaran Pendidikan Agama Kristen dapat diwujudkan dengan pembelajaran konstruktivisme (constructivist Theories of Learning) adalah model pembelajaran yang mengutamakan siswa secara aktif membangun pembelajaran mereka sendiri secara mandiri dan memindahkan informasi yang kompleks.

Inderanya seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungannya dengan melihat, mendengar, menjamah, mencium, dan merasakannya. Hal itu penulis terapkan di SD Swasta Yayasan Nupela, Desa Lolozasai, Kecamatan Gido, Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara.

Adapun karakteristik perspektif konstruktivisme, antara lain: pertama, mengembangkan strategi alternatif untuk memperoleh dan menganalisis informasi, siswa perlu dibiasakan untuk dapat menemukan (mengakses) informasi dari berbagai sumber, seperti buku, majalah, koran, pengamatan, wawancara, dan dengan menggunakan `internet; yang sekarang sedang giat dikampanyekan oleh pemerintah.

Kedua, dimungkinkannya perspektif jamak (multiple penspective) dalam proses belajar sebagai suatu proses dialogis baik antara siswa dengan guru maupun dengan siswa yang lain, dalam belajar akan muncul pendapat, pandangan, dan pengalaman yang beragam.

Ketiga, siswa mempunyai peran utama dalam proses belajar, baik dalam mengatur atau mengelola proses berpikirnya sendiri maupun ketika berinteraksi dengan lingkungannya. Keempat, dalam usaha untuk menyusun pemahaman, siswa harus aktif dalam kegiatan belajar bersama. Dalam hal ini siswa perlu terlatih untuk `mendengarkan’ dan mencerna dengan baik pendapat siswa lain dan guru.

Kelima, penggunaan scaffolding dalam proses pembelajaran. Scaffolding merupakan proses memberikan tuntunan atau bimbingan kepada siswa untuk mencapai apa yang harus dipahami dari apa yang sekarang sudah diketahui.

Keenam, peranan pendidik/guru lebih sebagai tutor, fasilitator dan mentor untuk mendukung kelancaran dan keberhasilan proses belajar siswa. Dalam hal ini terjadi perubahan paradigma dari `pembelajaran berorientasi guru’ menjadi `pembelajaran berorientasi siswa.

Sedangkan keunggulan pembelajaran dengan model kontruktivisme antara lain: pertama, pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.

Kedua, pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena. Sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa. Pembelajaran konstruktivisme memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasanpada saat yang tepat.

Ketiga, pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar.

Murid yang belajar secara konstruktivisme diberi peluang untuk membina sendiri kefahaman mereka tentang sesuatu. Ini menjadikan mereka lebih yakin kepada diri sendiri dan berani menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru.

Keempat, pembelajaran konstruktivisme mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan merka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.

Kefahaman murid tentang sesuatu konsep dan idea lebih jelas apabila mereka terlibat secara langsung dalam pembinaan pengetahuan baru. Seorang murid yang memahami apa yang dipelajari akan dapat mengaplikasikan pengetahuan yang baru dalam kehidupan dan situasi baru.

Kelima, pembelajaran konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar.

Keenam, murid yang berkemahiran sosial boleh bekerja sama dengan orang lain dalam menghadapi sebarang cabaran dan masalah. Kemahiran sosial ini diperoleh apabila murid berinteraksi dengan rekan-rekan dan guru dalam membina pengetahuan mereka. (*)

Guru SD Swasta Yayasan Nupela, Desa Lolozasai, Kecamatan Gido, Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya