alexametrics

Belajar Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti Efektif dengan Discovery Learning

Oleh: Ros Oktina Zebua, S.Th

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan di Indonesia banyak perubahan. Perubahan-perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan dalam pendidikan. Dengan demikian pengaruh itu mengakibatkan pendidikan semakin mengalami kemajuan. Sejalan dengan kemajuan tersebut, maka dewasa ini pendidikan di sekolah-sekolah telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat.

Perkembangan itu terjadi karena adanya pembaharuan tersebut, sehingga di dalam pengajaran pun guru selalu ingin menemukan metode/model pembelajaran dan peralatan baru yang dapat memberikan semangat belajar bagi semua peserta didik.

Bahkan secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa pembaharuan dalam sistem pendidikan yang mencakup seluruh komponen yang ada. Pembangunan di bidang pendidikan akan ada artinya apabila dalam pendidikan dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat bangsa Indonesia yang sedang bertumbuh dan berkembang.

Kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan peserta didik dalam satuan pembelajaran. gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan. Karena itu, guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebih efektif, kreatif juga menarik, sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan membuat peserta didik merasa termotivasi dan merasa ingin tahu tentang materi yang akan disampaikan oleh guru tersebut.

Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor, di antaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan peserta didik.

Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, kegagalan dalam belajar yang dihadapi oleh sejumlah peserta didik yang tidak memiliki motivasi atau dorongan belajar. Sehingga nilai rata-rata mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti tidak mencapai KKM.

Hal ini disebabkan karena guru dalam proses belajar mengajar hanya menggunakan metode ceramah, tanpa menggunakan alat peraga, dan materi pelajaran tidak disampaikan secara sistematis sesuai dengan RPP. Maka seorang pendidik perlu meningkatkan motivasi dan prestasi belajar Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning pada peserta didik. Hal itu juga penulis terapkan di SD Negeri 071001 Fadora Tanoseo, Kecamatan Hiliduho, Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara.

Teknik penemuan adalah terjemahan dari discovery learning. Menurut Sund (dalam Suryasubrata, 2002:193) discovery learning adalah proses mental di mana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksudkan dengan proses mental tersebut, antara lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur membuat kesimpulan dan sebagainya.

Suatu konsep misalnya: segi tiga, panas, demokrasi dan sebagainya, sedang yang dimaksud dengan prinsip antara lain: logam apabila dipanaskan akan mengembang. Dalam teknik ini peserta didik dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi.

Dr. J. Richard dan asistennya mencoba self-learning siswa (belajar sendiri) itu, sehingga situasi belajar mengajar berpindah dari situasi teacher learning menjadi situasi student dominated learning. Dengan menggunakan discovery learning adalah suatu cara mengajar yang melibatkan peserta didik dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri agar anak dapat belajar sendiri.

Penggunaan model pembelajaran discovery learning ini guru berusaha meningkatkan aktivitas peserta didik dalam proses belajar mengajar. Maka model pembelajaran ini memiliki keuntungan sebagai berikut: pertama, teknik ini mampu membantu peserta didik untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif/pengenalan peserta didik.
Kedua, peserta didik memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi individual sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat kokoh/mendalam tertinggal dalam jiwa peserta didik tersebut, serta dapat meningkatkan semangat belajar para peserta didik.

Ketiga, teknik ini mampu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkembang dan maju sesuai dengan kernampuannya masing-masing. Keempat, mampu mengarahkan cara peserta didik belajar, sehingga lebih memiliki motivasi yang kuat untuk belajar lebih giat.

Kelima, membantu peserta didik untuk memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri. Keenam, strategi itu berpusat pada peserta didik tidak pada guru. Guru hanya sebagai teman belajar saja, membantu bila diperlukan.

Ketujuh, memungkinkan perkembangan keterampilan-keterampilan belajar sepanjang hayat dari peserta didik. Dapat menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik.

Metode pembelajaran discovery learning juga memiliki kelemahan yang perlu diperhatikan: pertama, kadangkala terjadi kebingungan pada para peserta didik ketika tidak disediakan semacam kerangka kerja, dan semacamnya.

Kedua, peserta didik yang lemah mempunyai kecenderungan untuk belajar di bawah standar yang diinginkan, dan guru seringkali gagal mendeteksi peserta didik semacam ini (bahwa peserta didik membutuhkan remedial).

Ketiga, dengan teknik ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini terlalu mementingkan proses pengertian saja, kurang memperhatikan perkembangan/pembentukan sikap dan keterampilan bagi peserta didik.

Keempat, hubungan motivasi dan prestasi belajar terhadap metode pembelajaran penemuan (discovery learning).

Motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertetntu. Siswa yang termotivasi untuk belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik (Nur, 2001:3).

Sedangkan prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh peserta didik dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah peserta didik itu melakukan kegiatan belajar.

Model pembelajaran penemuan (discovery learning) adalah suatu metode pembelajaran yarg memberikan kesempatan dan menuntut siswa terlibat secara aktif di dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan menberikan informasi singkat (Siadari, 2001:7). Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan akan bertahan lama, mempunyai efek transfer yang lebih baik dan meningkatkan siswa dan kemampuan berpikir secara bebas.

Secara umum belajar penemuan ini melatih keterampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain. Selain itu, belajar penemuan membangkitkan keingintahuan siswa, memberi motivasi untuk bekerja sampai menemukan jawaban (Syafi’udin, 2002: 19).

Kegiatan belajar bersama dapat membantu memaju belajar aktif. Kegiatan pembelajaran di kelas pembelajaran berbasis penemuan atau discovery learning adalah metode belajar yang mengatur tentang pengajaran sedemikian rupa, sehingga peserta didik memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya, tidak melalui pemberitahuan akan tetapi ditentukan sendiri (Agus 2013:100).

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya motivasi dalam pembelajaran model penemuan tersebut, maka hasil-hasil belajar akan menjadi optimal. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Dengan motivasi yang tinggi maka intensitas usaha belajar peserta didik akan tinggi pula. Jadi, motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar peserta didik, sehingga hasilnya akan dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik. (*)

Guru SD Negeri 071001 Fadora Tanoseo, Kecamatan Hiliduho, Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya