alexametrics

Belajar Nilai-Nilai Kristiani dengan Model Blended Learning

Oleh: Dasino, S.Th

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN Jarak Jauh (PJJ) yang dilaksanakan pada masa pandemi Covid-19 sudah terjadi sekitar dua tahun.

Pembelajaran yang dilaksanakan mengalami masa-masa sulit yang tidak mudah dilewati, karena setelah melakukan berbagai kajian dan evaluasi ternyata ditemukan hal-hal berikut: Pertama, tingkat kejenuhan yang tinggi di alami para siswa.

Kedua siswa tidak mengikuti dengan seungguh-sungguh bahkan ada yang meningggalkan ruang atau bahkan tertidur ketika disampaikan materi. Ketiga, kurang maksimal dalam penyerapan materi yang disampaikan guru. Keempat, tidak adanya kontrol langsung dari guru, sekalipun sudah diberikan absensi kelas.

Berkaitan dengan keadaan semakin membaik, maka diperlukan inovasi pembelajaran yang lebih menarik dengan melibatkan semua siswa atau peserta didik yang secara langsung (PTM) maupun siswa yang di rumah.

“Nilai-nilai Kristiani Menjadi Pegangan Hidupku (Materi PAK & BP Kelas VII) adalah materi yang sangat penting dipahami dengan jelas. Itulah sebabnya diperlukan model pembelajaran yang tepat.

Terlebih nilai-nilai Kristiani seperti tentang mengasihi Tuhan dan sesama, kerendahan hati, kejujuran dan mengampuni orang lain perlu tanggapan atau pendapat para siswa. Sehingga hal ini sangat membutuhkan interaktif para siswa.

Dari masalah tersebut dibutuhkan kreativitas yang bisa menjadi sebuah solusi. Demikian yang dilakukan dengan siswa kelas 7F SMP Negeri 41 Semarang diadakan pembelajaran blended learning.

Terlebih sudah dimulainya pembelajaran tatap muka secara langsung yang dikuti dengan pembagian 50 persen dari kapasitas ruang yang ada. Model Blended Learning adalah pada dasarnya merupakan gabungan keunggulan pembelajaran yang dilakukan secara tatap-muka dan secara virtual.

Menurut Semler (2005) “Blended learning combines the best aspects of online learning, structured face-to-face activities, and real world practice. Online learning systems, classroom training, and on-the-job experience have major drawbacks by themselves. The blended learning approach uses the strengths of each to counter the others’ weaknesses.”

Blended learning adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran.

Blended learning juga sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online, tapi lebih daripada itu sebagai elemen dari interaksi sosial.

Pembelajaran blended learning memang perlu persiapan yang matang dan membutuhkan perlengkapan yang cukup.Karena selaian media dan alat-alat perlengkapan yang menunjang dibutuhkan kesiapan dari semua pihak.

Dari Sekolah yang bisa memfasilitasi alat dan media di ruang kelas, dari pihak guru perlengkapan media dan penggunaan media teknologi, dan dari pihak siswa maupun orang tua yang mendukung proses pembelajaran.

Dari semua persiapan selain didukung internet yang memadai juga tersedianya sarana dan prasarana yang ada seperti LCD, Laptop/Komputer, Hp, Camera, Micropon Cleep dan pengeras suara yang bisa didengar dengan jelas dari rumah.

Dengan pembelajaran blended learning sangat menguntungkan baik bagi guru maupun siswa. Bagi guru pastinya bisa mengontrol dan mengkondisikan kelas dengan baik dan memudahkan pencapaian materi yang diingikan.

Demikian bagi siswa blended learning bermanfaat: Pertama, menghilangkan kejenuhan atau kebosanan dalam belajar. Kedua, terjadi interiaksi sosial yang baik sekalipun beda ruang dan tempat (di sekolah dan di rumah). Ketiga, mereka bisa menangkap dengan mudah materi yang disampaikan itu berarti penyerapan materi bisa tercapai.

Keempat, mereka lebih serius dan bersungguh-sungguh dalam belajar karena terkondisikan baik yang tatap muka di sekolah maupun yang dirumah tak ubahnya ketika mereka bersama dalam satu ruangan kelas.

Dengan model pembelajaran blended learning diharapkan menjadi sebuah solusi di lingkungan SMP Negeri 41 Semarang di mana masa pandemi Covid-19 yang sangat membutuhkan kreativitas supaya tidak membosankan bagi para peserta didik. Ke depannya melalui pembelajaran blended learning akan menjadi pembiasaan dalam proses belajar mengajar tanpa harus dibatasi ruang dan waktu, di ruang kelas (PTM) maupun yang belajar dari rumah bisa mengikuti secara maksimal. (ra2/zal)

Guru SMPN 41 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Lainnya

Ngopi sambil Nonton Sepur di Kopi Susu Bu Lurah

Akses Jalan Alternatif Tertutup Longsor

Tiga Calon Berebut Kursi Ketua Hipmi Wonosobo

Sampah Menumpuk di TPS Pasar Borobudur

Wali Kota Hendi Pastikan Stok Vaksin Booster Aman

Populer

Artikel Menarik Lainnya