alexametrics

Pembelajaran Menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Daerah dengan Pembelajaran Project

Oleh : Rohzi, SE

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kompetensi keahlian akuntansi merupakan salah satu program keahlian pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kelompok Bisnis dan Manajemen. Animo masyarakat program keahlian ini dianggapnya paling keren dan berpeluang untuk bisa bekerja di kantor bagian keuangan.

Sehingga peserta didik baru yang mendaftar pada program keahlian ini selalu paling besar. Dampaknya, memberikan peluang kompetensi keahlian akuntansi untuk dapat memilih calon siswa dengan kemampuan akademis yang baik.

Namun yang terjadi di lapangan berbeda dengan yang dianimokan masyarakat. Kemungkinan peserta didik ketika mendaftar ambil program keahlian tersebut bukan karena keinginannya sendiri, melainkan terpengaruhi oleh faktor lain.

Seperti permintaan orang tua atau saudara, atau kemungkinan juga ikut-ikutan sama teman-temannyanya. Sehingga pada saat kegiatan belajar produktif akuntansi di kelas sering dijumpai anak-anak yang malas belajar, malas mengerjakan tugas dengan berbagai alasan.

Di dalam diskusi kelompokpun siswa ada yang cenderung diam, tidak aktif. Khususnya pada mata pelajaran praktikum akuntansi lembaga/instansi pemerintah.

Baca juga:  Ajak Siswa Berpikir Kritis dengan Metode Example Non Example

Selama kegiatan belajar mengajar guru sudah menerapkan beberapa metode pembelajaran tetapi hasilnya belum seperti yang diharapkan. Rendahnya minat serta hasil belajar siswa harus mendapat perhatian dan solusi, sebab dalam jangka panjang menyebabkan nilai siswa tidak tuntas yang pada akhirnya bisa mengakibatkan siswa tidak naik kelas atau tidak lulus dalam ujian.

Kelas yang ideal adalah yang penuh aktivitas dan jika dilihat secara hasil semua siswa seharusnya dapat menuntaskan standar kompetensi yang diajarkan dan memenuhi kriteria ketuntasan minimum sesuai yang ditetapkan. Maka, harus ada upaya untuk meningkatkan aktivitas belajar, bila aktivitas belajar meningkat diharapkan hasil belajar yang dicapai juga meningkat.

Menindaklanjuti rendahnya minat belajar dan hasil belajar siswa guru dituntut terus membuat inovasi yang menarik dalam pembelajarannya. Selama ini pembelajaran yang terfokus pada guru sebagai pentransfer pengetahuan dan siswa sebagai penerima pengetahuan, harus diubah menjadi pembelajaran yang memposisikan siswa sebagai subjek pendidikan.

Baca juga:  Belajar Kimia Unsur di Masa Pandemi Lebih Menarik dengan Google Sites

Berdasarkan rendahnya minat belajar dan hasil belajar siswa tersebut, guru harus menggunakan model pembelajaran yang bisa memberi rangsangan bagi siswa sehingga termotivasi untuk belajar, menelaah dan memecahkan permasalahan dalam situasi yang menyenangkan. Model tersebut adalah Project Based Learning (PjBL).

Project Based Learning (PjBL) adalah pembelajaran dengan menggunakan proyek nyata dalam kehidupan yang didasarkan pada motivasi tinggi, pertanyaan menantang, tugas-tugas atau permasalahan untuk membentuk penguasaan kompetensi yang dilakukan secara kerja sama dalam upaya memecahkan masalah (Barel, 2000 dan Baron, 2011, http://smpn2kalibawang.sch.id/7/mengenal-metode-dan-modelpembelajaran-kurikulum 2013/ 19 Nopember 2021).

Model ini merupakan metode yang mampu mendorong menerapkan pengetahuan dan keterampilan, dalam pelaksanaannya dilakukan dengan beberapa tahap. Antara lain : penentuan pertanyaan (start with the essential question), mendesain perencanaan proyek, menyusun jadwal (create a schedule), memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (monitor the students and the progress on the project), menguji hasil (assess the outcome), dan mengevaluasi pengalaman (evaluate the experience).

Baca juga:  Mind Mapping, Tingkatkan Hasil Belajar IPS

Dengan penerapan model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning), diharapkan minat belajar dan hasil belajar siswa SMK Negeri 1 Salatiga meningkat. Sehingga siswa dapat menguasai standar kompetensi menyusun laporan keuangan pemerintah daerah pada mata pelajaran praktikum akuntansi lembaga/instansi pemerintah, hasil yang dicapai dapat memenuhi kriteria ketuntasan minimal.

Rendahnya minat siswa dalam proses belajar mengajar bila tidak segera diselesaikan dapat mengakibatkan pembelajaran menjadi kurang optimal sehingga materi yang disajikan menjadi sia-sia dan tidak tuntas. (ms1/lis)

Guru Produktif Akuntansi di SMK Negeri 1 Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya