alexametrics

Kartu Manis Membuat Pembelajaran Berbicara Semakin Runis

Oleh: Puji Rahayu, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Berbicara tak lepas dari pembelajaran setiap hari. Tapi kadang bagi para pendidik kebingungan mencari cara bagaimana supaya peserta didik dengan lancar menjawab pertanyaan guru atau tanpa ditunjuk siswa dengan suka rela menunjukkan tangannya menjawab.

Apalagi pada masa pandemi sekarang ini. Sepertinya peserta didik diibaratkan puasa. Puasa berbicara maksudnya. Nah, bagaimana caranya membangkitkan semangat peserta didik untuk bisa berbicara lagi dengan lancar?

Menurut Kartini (1985:7) yang mengungkapkan bahwa berbicara merupakan suatu peristiwa penyampaian maksud, gagasan, pikiran, perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan, sehingga maksud tersebut dipahami oleh orang lain.

Berdasarkan pengertian tersebut bahwa orang berbicara yang benar adalah antara pembicara dengan pendengar pada saat berbicara mengerti atau saling memahami. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang komunikatif. Bahasa yang mudah dimengerti oleh keduanya.

Membangkitkan semangat peserta didik untuk berbicara lagi dengan mudah dan lancar serta komunikatif tidaklah mudah. Apalagi diembel-embeli berbicara runtut menjadikan mereka eksis (diakui kalau dia ada dan bisa berbicara dengan baik) atau percaya diri.

Ada anak yang ingin berbicara tetapi bingung, apa yang harus diucapkan karena pikiran mereka kosong. Membaca buku jarang sehingga kosakata yang mereka miliki tidak banyak. Pada saat sekolah dibuka alias tatap muka, mereka hanya diam, pikiran mereka kosong, mulai dari mana mereka harus berbicara.

Menurut Iskandarwassid dan Sunendar (2009:55) pendekatan komunikatif ingin menekankan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dalam proses interaksi antarmanusia. Dari dua pendapat pakar tersebut semua dilakukan dengan berbicara (lisan) tidak tertulis.

Berhadapan langsung antara yang berbicara dan yang diajak berbicara serta mereka mengerti apa yang mereka bicarakan. Bagaimana menerapkan keduanya ke pembelajaran supaya siswa bisa aktif berbicara mengeluarkan pendapat atau berbicara di kelas dengan bahasa yang komunikatif?

Ada salah satu cara supaya peserta didik berbicara kembali tetapi secara pelan-pelan. Membangkitkan semangat berbicara mereka dengan kartu. Walaupun sederhana, cara ini efektif bahkan pembelajaran menjadi menyenangkan dan mengena.

Caranya gunting kertas (bisa kertas karton atau kertas lain yang berwarna atau bergambar yang banyak tersedia di toko buku supaya menarik). Ukuran bebas jangan terlalu besar. Kalau kertasnya polos dan tidak bergambar, bisa ditambah dengan gambar atau hiasan lain yang membuat penampilan kartu ini indah dan dilihat manis.

Tulisi kertas tadi dengan kata-kata, boleh kata kerja, kata benda, dan lain-lain. Atau kalimat. Bentuk peserta didik menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok yang maju diberi satu kertas dengan pembagian satu anak memandu teman-temannya dalam kelompoknya untuk menjawab seperti tulisan yang tertera dalam kertas tadi.

Nah, dalam proses menjawab tadi, ada kalimat-kalimat yang mereka keluarkan. Otomatis mereka harus berbicara untuk memenangkan permainan ini. Jadi tanpa disuruh, mereka spontan berbicara dengan semangat dan cepat untuk menebak kata atau kalimat yang ada dalam kertas.

Diharapkan pada saat mereka berbicara menebak kata atau kalimat, kalimat yang mereka gunakan sudah runtut. Tentunya bahasa yang digunakan adalah bahasa komunikatif karena pada saat menebak kata atau kalimat antara penanya dan penjawab mengerti dengan bahasa yang mereka lontarkan.

Walaupun perlu waktu karena ada pembatasan waktu untuk tiap kelompok, jika hal ini dilakukan secara berkala dan disesuaikan materi, penulis yakin peserta didik akan terbiasa berbicara secara runtut karena ada evaluasi dari guru sesudahnya.

Hal ini juga yang penulis terapkan di SMP Negeri 1 Ambarawa, Kabupaten Semarang. Sesuai dengan judul bahwa kartu manis membuat pembelajaran berbicara semakin runis. Kartu manis adalah kartu berwarna yang bergambar, sehingga terlihat manis jika dilihat.

Runis kependekan dari runtut dan eksis. Runtut artinya menggunakan kalimat dengan urut karena telah berlatih beberapa kali dan ada evaluasi dari guru. Eksis berarti keberadaan mereka diakui yaitu mereka dapat berbicara dengan baik di hadapan guru dan teman-tamannya. (rn1/lis)

Guru SMP Negeri 1 Ambarawa, Kabupaten Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya