alexametrics

Teaching Factory, Upaya Menyiapkan Peserta Didik Memasuki Dunia Kerja

Oleh : Veronica Anik Minarsih, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Ketika Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) telah mampu menghasilkan lulusan yang siap kerja dalam hal skill atau keterampilannya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh dunia kerja. Berarti antara dunia pendidikan dan dunia kerja telah mencapai titik temu yang diharapkan.

Kebijakan pembelajaran di SMK berupa link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja ternyata belum mampu menjawab masalah dan tantangan yang ada. Keberhasilan sekolah mencetak tenaga kerja yang diharapakan dunia kerja masih jauh dari harapan.

Menurut Harianton dan Saefudin (2010:75) bahwa pada pembelajaran berbasis produksi, siswa seharusnya terlibat langsung dalam proses produksi sehingga kompetensi yang dimiliki siswa banyak dipengaruhi dari kasus produksi yang mereka hadapi.

Sedangkan menurut Herminarto Sofyan (2008:10) pembelajaran berbasis kompetensi menekankan pada pencapaian kompetensi peserta didik, dimana kompetensi peserta didik dapat dicapai melalui pembelajaran.

Baca juga:  Mengatasi Kejenuhan Belajar melalui Konseling Berbasis Solusi

Dari kedua definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa peserta didik harus mengalami secara langsung pembelajaran berbasis produksi dengan menggunakan peralatan yang disesuaikan dengan peralatan yang ada di industri sehingga peserta didik. Khususnya siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mampu memiliki kompetensi yang di harapkan oleh dunia kerja.

Di SMK Negeri 1 Jambu, dalam pembelajaran pembuatan busana industri, menggunakan model pembelajaran teaching factory untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam pembelajaran mata pelajaran produktif.

Model pembelajaran teaching factory adalah model pembelajaran yang bertujuan meningkatkan kompetensi produktif peserta didik SMK. Sehingga peserta mempunyai kemampuan seperti dengan apa yang diharapakan dunia industri.

Karena teaching factory adalah hal baru bagi peserta didik maka diadakan kesepakatan bersama untuk menciptakan iklim dan suasana industri di sekolah.

Baca juga:  Meningkatkan Penguasaan Vocabulary Siswa lewat Game

Pada Kompetensi Dasar membuat busana anak, membuat rok, membuat kemeja, membuat tunik, membuat gamis dan membuat celana wanita, peserta didik melakukannya sendiri dengan peralatan sesuai yang digunakan di industri.

Mulai dari proses cutting atau memotong bahan, peserta didik telah menggunakan gunting listrik rotary cutter atau round cutter yang merupakan alat potong industri yang mempunyai mata pisau berbentuk piringan dengan diameter 10 inchi yang mampu memotong hingga 100 helai kain sekaligus.

Pada proses penjahitan peserta didik menggunakan mesin jahit industri jenis High Speed yang mempunyai kecepatan tinggi sehingga peserta didik terbiasa menjahit cepat, untuk mesin obras digunakan mesin obras benang 4 yang fungsinya untuk merapikan ujung jahitan sehingga peserta didik terbiasa merapikan ujung jahitan sesuai dengan standar industri. Mesin jahit dan mesin obras yang digunakan sama persis dengan apa yang digunakan di industri garmen.

Baca juga:  Teaching Factory Implementasi Kerjasama Sekolah Mitra dengan Prodi Teknik Informatika UNW

Adapun hasil yang diperoleh dari teaching factory yang dilaksanakan di SMK Negeri 1 Jambu bagi peserta didik adalah peserta didik menjadi lebih bersemangat mengikuti pembelajaran. Peserta didik menjadi terampil menggunakan alat- alat industri, baik itu mesin potong kain, mesin jahit, mesin obras maupun mesin- mesin yang lainnya.

Peserta didik lulusan SMK Negeri 1 Jambu siap kerja dengan keterampilan yang dimiliki. Hal ini terbukti dengan lulusan SMK Negeri 1 Jambu khususnya jurusan tata busana hampir semuanya terserap di industri garmen. (fkp2/lis)

Guru Tata Busana SMKN 1 Jambu, Kabupaten Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya