alexametrics

Blended Learning sebagai Perwujudan Penerapan Filosofi Ki Hadjar Dewantara

Oleh: Triyana Yustikarini, S.Kom

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PENDIDIKAN adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Oleh karena itu pendidikan merupakan salah satu kunci untuk menciptakan manusia yang beradab.

Tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Saat ini saya sedang mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak dimana didalamnya diajarkan bagaimana cara mewujudkan merdeka belajar yang digaungkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju Nadiem Anwar Makarim.

Pada bagian awal saya belajar tentang filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah memerdekakan dan berpusat pada murid, mengikuti perkembangan zaman yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, pembangunan budi pekerti dan terfokus pada proses bukan hasil.

Pemikiran atau filosofi Ki Hadjar Dewantara dapat terwujud jika guru itu bersifat among sesuai dengan semboyan atau Trilogi Ki Hadjar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani. Guru mampu memberikan pembelajaran sesuai dengan kodrat alam dan zamannya. Guru memiliki kemerdekaan dalam memilih metode pembelajaran evaluasi dan yang lainnya.

Baca juga:  Belajar Pecahan dengan Tutor Sebaya

Contoh penerapan di kelas yang saya lakukan disini adalah mengikuti perkembangan zaman dengan melakukan pembelajaran Informatika kelas IX di SMP Negeri 15 Surkarta dengan menggunakan metode blended learning melalui model pembelajaran discovery learning.

Secara etimologi istilah Blended Learning terdiri dari dua kata yaitu Blended yang berarti campuran dan Learning yang berarti pembelajaran. Dengan demikian sepintas lalu blended learning mengandung makna pola pembelajaran yang mengandung unsur pencampuran atau penggabungan antara satu pola dengan pola yang lainnya dalam pembelajaran.

Sedangkan pengertian discovery learning menurut Buana (2017), merupakan metode belajar yang menitikberatkan pada peserta didik, di mana mereka diharapkan bisa mengumpulkan informasi yang dibutuhkan secara mandiri, untuk menambah pengetahuan atau meningkatkan keterampilan guna mencapai tujuan pembelajaran.

Baca juga:  Presentasi Siswa dengan WPS Office pada Smartphone

Dengan model pembelajaran ini siswa bisa bekerjasama, saling berbagi informasi serta mendengarkan atau menggunakan ide-ide orang lain dan lebih mandiri dalam mencari materi pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Langkah-langkah pembelajaran discovery learning: Pemberian Rangsangan, Identifikasi Masalah, Pengumpulan Data, Pengolahan Data, Pembuktian, Menarik Kesimpulan.

Dalam pembelajaran ini peserta didik yang PJJ mengikuti pembelajaran melalui google meet. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan, kegiatan pembukaan: peserta didik berdoa, bergabung dengan kelompok, membaca materi ekstensi file yang ada di google classroom maupun sumber belajar lainnya.

Kegiatan inti: Pemberian Rangsangan, diskusi tentang ekstensi file (peserta didik yang PJJ melakukan diskusi mandiri melalui aplikasi whatsapp/google meet). Identifikasi Masalah, peserta didik melakukan identifikasi ekstensi file. Pengumpulan Data, Guru meminta peserta didik untuk ekstensi file berdasarkan klasifikasinya.

Baca juga:  Pembelajaran Berbasis Permasalahan Sosial Tingkatkan Kemampuan Berpikir Analitis

Pengolahan Informasi, penyusunan tugas peserta didik. Pembuktian, presentasi hasil pencarian ekstensi file. Generalisasi, peserta didik lain dan guru memberikan tanggapan terhadap presentasi (peserta didik yang PJJ melakukan presentasi melalui google meet). Kegiatan penutup: guru melakukan refleksi dan mengakhiri kegiatan pembelajaran.

Dengan menerapkan metode blended learning melalui model pembelajaran discovery learning maka penerapan filosofi Ki Hadjar Dewantara sudah terwujud dengan adanya keaktifan peserta didik dan pembelajaran blended learning sudah memenuhi kodrat zaman. Penerapan filosofi Ki Hadjar Dewantara diharapkan bisa diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah pada umumnya dan di kelas khususnya, sehingga akan mewujudkan merdeka belajar yang sesungguhnya. (fkp2/zal)

Guru SMPN 15 Surakarta

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya