alexametrics

Home Visit Metode Alternatif Pembelajaran di Masa Pandemi

Oleh : Atik Supriyani, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Akhir 2019 lalu, virus korona muncul pertama kali di Wuhan, China. Kemudian menyebar ke lebih dari 200 negara di dunia termasuk Indonesia. Sektor pendidikan pun terdampak pandemi ini.

Sesuai Surat Edaran No 4 Tahun 2020 dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) menganjurkan seluruh kegiatan belajar mengajar di semua institusi pendidikan harus jaga jarak dan seluruh materi disampaikan secara online dari rumah masing masing.

Awalnya siswa ini kesempatan emas untuk tidak bersekolah dan berleha-leha di rumah. Namun, sudah satu setengah tahun korona belum juga hilang, sekolah belum juga dibuka membuat siswa terbebani. Banyak yang nilainya menurun karena tidak paham dengan materi yang diajarkan. Beban ini juga dirasakan guru.

Guru perlu menemukan solusi supaya ilmu yang dimilikinya dapat tersampaikan kepada siswanya. Salah satu solusinya adalah mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi daring. Pembelajaran daring menuntut guru kreatif serta inovatif pada penyampaian materi pembelajaran.

Baca juga:  Memegang Kerikil Tingkatkan Kemampuan Servis Bawah dalam Permainan Bola Voli

Hal ini dilakukan supaya siswa mampu memahami materi dan tidak bosan dengan metode yang digunakan. Tidak hanya metode, media pembelajaran yang digunakan pun wajib variatif.

Pembelajaran daring menggunakan bermacam-macam platform seperti Zoom, Google Meet, Google Classroom, WhatsApp, dan lainnya. Pemerintah mendukung pembelajaran daring ini dengan memberikan bantuan kuota internet pada siswa, mahasiswa, guru, serta dosen.

Tetapi apakah pembelajaran secara daring efektif bagi semua kalangan? Sebagai guru di SD Wonolelo 1, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang penulis merasa pembelajaran secara daring kurang efektif. Walaupun guru sudah berusaha memaksimalkan proses pembelajaran secara daring namun pembelajaran ini dirasa belum berhasil.

Setelah diteliti kendalanya banyak siswa tidak memiliki smartphone yang memadai untuk pembelajaran secara daring. Selain itu, akses internet yang terlampau sulit.

Baca juga:  Mengefektifkan Pembelajaran dengan Video Mind Mapping Prezi

Kendala tersebut mendorong guru menelaah cara-cara agar kegiatan belajar mengajar dapat terpenuhi. Yakni dengan kunjungan guru untuk mengajar dari rumah ke rumah atau home visit. Program home visit tetap dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan.

Menurut Tohirin (2007:219) home visit atau kunjungan rumah adalah kegiatan konselor berkunjung ke rumah siswa untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dan melakukan pembelajaran sesuai dengan situasi dan keadaan siswa.

Awalnya penulis meminta izin dan dukungan kepada kepala sekolah dan orang tua siswa untuk membuat kelompok belajar. Penulis membebaskan para siswa membuat kelompoknya sendiri. Hal ini dilakukan agar semua anak dapat nyaman dengan teman belajarnya. Setiap kelompok beranggotakan 5-6 orang.

Kemudian penulis membuat jadwal kunjungan bersama guru yang lain dan para siswa. Guru melaksanakan kunjungan ke rumah siswa sesuai jadwal yang telah ditentukan dan memberikan pembelajaran selama 2-3 jam.

Baca juga:  Hasil Belajar Matematika Meningkat dengan Pembelajaran Kooperatif

Di akhir pembelajaran kelompok, guru melakukan komunikasi dengan orang tua selama 5-20 menit untuk mengetahui kesulitan apa saja yang dialami siswa selama pembelajaran di rumah.

Dengan melaksanakan kunjungan ke rumah siswa, banyak manfaat yang diperoleh siswa, guru, maupun orang tua. Siswa lebih antusias dalam mempelajari materi yang dberikan guru. Dan akan lebih mudah bertanya jika ada materi yang dirasa sulit atau kurang dipahaminya dengan teknik tutor sebaya.

Selain itu, dalam satu kelompok para siswa saling membantu apabila terdapat kesulitan. Guru juga akan lebih mengenal karakteristik siswanya sehingga dapat mengetahui kelebihan dan kekurangannya.

Sedangkan orang tua dapat berkomunikasi langsung dengan guru dan dapat menyampaikan keluh kesahnya serta kesulitan dalam mendampingi belajar anak-anak. Sehingga akan diberikan solusi sesuai dengan gaya belajar anak mereka. (pm2/lis)

Guru SDN Wonolelo 1, Kec. Sawangan, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya