alexametrics

Pura-Pura Perlukah?

Oleh: Fauziah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, HARI itu banyak sekali masalah yang ada dalam diri ibu guru. Permasalahan keluarganya, permasalahan kegiatan di masyarakat yang belum kelar, permasalahan harus menyelesaikan administrasi tugas guru yang harus diselesaikan hari itu juga. Akhirnya ibu gurupun merasakan pusing di kepalanya. Keadaan jiwanya mempengaruhi fisiknya.

Bu Gurupun masuk ke kelas untuk menyampaikan materi hari itu. Tapi tidak seperti biasanya, kelas ternyata gaduhnya bukan main. Pusing di kepala bu guru pun bertambah parah, mendengar kebisingan-kebisingan dari para muridnya Tapi apa boleh buat, dalam benak bu guru “Murid adalah murid”.

“Jangan menelantarkan murid, karena akan merusak kepribadian murid secara permanen”. Anak-anak harus diberi kebebasan mutlak di kelas” Standar-standar yang ada dalam benak ibu gurupun menimbulkan sikap serba membolehkan yang keliru.

Ibu gurupun berusaha untuk tersenyum dan selalu mengangguk walau dalam hatinya ada rasa dongkol. Ibu guru memaksa dirinya sendiri agar murid merasa sebagaimana menurut mereka dengan menutupi rasa pusing dan kedongkolannya.

Padahal dalam hati ibu gurupun sebenarnya tidak setuju dengan sikap murid yang sangat gaduh di kelas itu. Apalagi membuat dirinya semakin parah sakitnya.

Baca juga:  Belajar Sistem Tata Surya lebih Bermakna dengan Kooperatif Jigsaw

Namun sebaliknya, kadang ada guru yang sebenarnya menyetujui aktifitas murid di kelas, namun dia sembunyi dalam kepura-puraannya dan memaksa dirinya untuk menyatakan tidak setuju. Jika seorang guru berpura-pura menerima suatu tingkah laku padahal sebenarnya tidak, atau berpura-pura tidak menerima sebab guru harus tidak menerima, hal itu akan menimbulkan penilaian dari murid-muridnya.

Sebenarnya anak-anak kita sangat sensitif dengan pesan-pesan non-verbal yang diisyaratkan gurunya. Mimik wajah seorang guru, gerakan tubuh yang bertentangan dengan pesan-pesan verbal akan sangat kelihatan. Hal ini membuat bingung anak-anak kita dalam menerima pesan yang kita sampaikan. Atau bahkan anak-anak kita akan merasakan adanya kepura-puraan.

Hampir tidak mungkin untuk menutupi perasaan hati yang sebenarnya. Murid-murid kita akan selalu melihat gurunya setiap hari, pada saat suka maupun duka, sehingga perasaan seorang guru akan selalu kelihatan oleh anak-anak kita.

Pesan yang didasari kepura-puraan antara hati dan tingkah laku yang berbeda bisa dinilai sebagai pesan palsu. Sebuah sekolah menerapkan peraturan, harapan, dan standar tentang tingkah laku yang dapat diterima.

Baca juga:  Etnomatematika Dalam Materi Bangun Ruang Tabung

Aturan untuk para guru dan aturan untuk murid. Ada beberapa sekolah yang membolehkan gurunya merokok dengan diberi ruang tersendiri.

Sementara guru harus menyampaikan aturan larangan merokok bagi murid-muridnya. Aturan ganda ini akan membingungkan murid-muridnya. Karena murid akan menilai pesan yang disampaikan gurunya adalah pesan palsu. Mengapa? Karena pesan itu tidak sesuai dengan apa yang guru lakukan.

Ada satu contoh peristiwa agar guru menyampaikan pesan “yang sebenarnya”. Pada suatu hari saya tiba-tiba merasa pusing, pegal, dan linu. Tiba-tiba pusing saya bertambah karena saya harus tetap tersenyum dalam menghadapi anak-anak di depan kelas.

Anak-anakpun tetap berisik dan banyak cerita dengan saya. Tapi ternyata berisik dan curhatnya mereka membuat tubuh ini makin sakit. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti tersenyum dan mengatakan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi dalam diri saya. “Anak-anak, mohon maaf bu guru baru capek, lelah, dan pusing.

Bu guru sudah mencoba berpura-pura untuk tersenyum seolah keberisikan kalian, curhatan kalian, tidak mengganggu bu guru. Tapi sebenarnya sangat mengganggu bu guru. Pusing bu guru bertambah. Bu guru sampaikan ini karena bu guru sudah tidak tahan.

Baca juga:  Meningkatkan Pemahaman Tayamum pada Siswa melalui WhatsApp

Mohon maaf ya anak-anakku.” Tiba-tiba murid-murid menjadi diam. Salah satu dari mereka malah ada yang membawakan segelas air minum, ada juga yang mijitin. Hari berikutnya ada murid yang menjemput saya di kantor guru hanya untuk memastikan apakah kondisi saya baik-baik saja.

Meskipun pikiran kita dapat berfantasi, berpura-pura, tapi raga kita tetap tidak bisa berfantasi. Pesan-pesan tubuh kita menunjukkan apa yang terjadi saat ini. Kecuali sangat terkontrol tubuh kita akan dapat mengkomunikasikan perasaan kita sekarang ini. Karena itu ketika di kelas cobalah kita selalu mencocokkan pesan verbal dengan pesan non verbal kita.

Bila kita merasakan tingkah laku murid tidak akseptabel bagi kita, coba kita berkata “Saya tidak suka apa yang kalian lakukan sekarang”. Setidaknya kita sudah jujur dengan murid, memberikan kesempatan untuk mengenal diri kita yang sebenarnya. Seperti yang diterapkan di MI Ma’arif Mangunsari, Salatiga. (bk2/zal)

Guru MI Ma’arif Mangunsari Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya