alexametrics

Memakai Masker Solusi Pelajaran Tematik di Masa Pandemi

Oleh : Rifayati, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Sejak pertengahan semester 2 tahun 2020 pandemi Covid-19 yang melanda dunia telah mengubah sistem kehidupan manusia di segala bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Selama pandemi Covid-19, sekolah tidak boleh melaksanakan pembelajaran tatap muka langsung.

Sekolah pun mencari alternatif sesuai peraturan pemerintah yaitu melaksanakan pembelajaran secara daring atau online atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). Namun sekolah yang berada di daerah pedesan kerap mengalami kesulitan sinyal internet. Akibatnya, sekolah mengambil kebijakan untuk melakukan blended learning atau pembelajaran kombinasi antara online dan offline.

Dalam pelaksanaannya, pembelajaran online memunculkan masalah. Di antaranya siswa kurang memahami materi, timbul kejenuhan, dan malas belajar karena beberapa siswa hanya mengerjakan tugas, dalam bentuk word atau PPT, gambar, form atau soal dari guru.

Ini yang terkadang membuat siswa kurang tertantang kreativitasnya serta ketidaksesuaian antara pemahaman siswa dengan apa yang dimaksud dari materi yang diberikan guru. Pada materi pelajaran tematik yang banyak berkaitan dengan kondisi sosial di sekitar lingkungan siswa pun mengalami kendala dalam proses pembelajarannya.

Baca juga:  Mengembangkan Keterampilan Menulis melalui Mading

Guru mencoba melakukan inovasi dan mengembangkan model pembelajaran PBL (Problem Base Learning) yang dikombinasikan dengan tayangan video untuk meningkatkan kreativitas dan semangat belajar siswa secara mandiri dalam pelaksanaan PJJ.

Memakai MASKER merupakan solusi model pembelajaran yang bisa dilaksanakan dalam pelajaran tematik pada materi Sub Tema 1 Kegiatan Pagi Hari kelas 1 semester ganjil pada masa pandemi. Memakai MASKER merupakan pengembangan dari kondisi MEmahami, Satukan dan KERjakan. Menurut Widiasworo (2017: 81) memahami merupakan kemampuan untuk menghubungkan atau mengasosiasikan informasi-informasi yang dipelajari menjadi “satu gambar” yang utuh di otak kita.

Sebagaimana dikatakan Bloom dalam Djali (2009: 77) memahami adalah kemampuan untuk menginterpretasi atau mengulang informasi dengan bahasa sendiri.

Baca juga:  Belajar Menyenangkan dengan Pembelajaran Model Kooperatif STAD

Langkah-langkah pelaksanaannya yaitu tahap awal guru membagi kelas dengan 2 kelompok besar. Tiap kelompok terdiri atas 6 dan 7 orang karena jumlah siswa 13 orang. Kemudian guru memecah lagi menjadi empat kelompok kecil sehingga jumlah anggota tiap kelompoknya tiga atau empat orang. Kemudian guru menginformasikan di WhatsApp grup (WAG) tentang video pembelajaran yang harus diamati oleh tiap-tiap kelompok.

Setelah itu mereka melakukan tahapan yang pertama, MA yaitu mengamati video yang di-share guru sesuai materi masing-masing kelompok dan dilakukan secara individual. Kedua, melakukan S yaitu saling menyatukan pendapat atau apa yang mereka peroleh dari mengamati tayangan video tersebut sesuai lembar pengamatan yang di-share guru.

Ketiga, melakukan tahapan KER yaitu kerjakan apa yang menjadi tugas selama pengamatan dilakukan yang diberikan oleh guru. Dari melakukan kegiatan tersebut kemudian siswa berkolaborasi untuk mendiskusikan hasil pengamatannya dan mereka mempresentasikan secara mandiri dengan persiapan dalam kelompok tersebut, moderator, penyaji, pembahas, dan notulen serta dibukanya kesempatan bagi kelompok lain yang ingin bertanya, menyanggah atau memberi kritik, dan saran atas hasil presentasi.

Baca juga:  Pahami Teks Hikayat melalui Media Boardgame Masif

Dari model yang diterapkan tersebut, pembelajaran tematik pada siswa kelas 1 SDN Blongkeng 1, Kecamatan Ngluwar, Magelang di masa pandemi dengan PJJ menjadikan siswa lebih bersemangat dan kreatif. Pengamatan siswa pada tayangan video tentang interaksi antar-ruang memunculkan kolaborasi, yang pengamatan tersebut harus dilakukan secara berulang, akan menguji daya ingat.

Kemudian menyatukan hasil pengamatan masing-masing individu dalam kelompok tersebut. Dengan demikian menimbulkan perbincangan atau perdebatan positif yang muncul karena perbedaan persepsi antar anggota kelompok. Pada akhirnya mereka akan menyatukan dalam bentuk hasil presentasi dari masing-masing kelompok. (ms1/lis)

Guru SDN Blongkeng 1, Kec. Ngluwar, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya