alexametrics

Benda Cagar Budaya, Media Pembelajaran Lokal

Oleh: Hadi Siswanto, S.S., M.Hum.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Belajar peristiwa masa lalu merupakan tindakan yang menunjukkan seseorang ingin menjadi lebih baik dari masa sebelumnya. Dalam dunia Pendidikan mempelajari peristiwa masa lalu pada masa kini merupakan kajian pelajaran sejarah. Belajar sejarah membutuhkan semangat khusus karena biasanya sering membosankan. Sehingga perlu dukungan media atau alat dan sumber sejarah yang mendukung.

Sumber sejarah dapat dibedakan dua. Sumber tertulis (records), berupa dokumen, arsip, surat, catatan harian, foto, file, dan lain-lain, serta sumber benda (remains) berupa (artefact) contohnya, tombak, jalan, istana, dan lain-lain. (Suhartono W. Pranoto, Teori dan metodologi Sejarah, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006: 34).

Peran guru menjadi penting untuk mengajak peserta didik memahami jiwa zamannya materi yang sedang dipelajari. Guru memiliki peran strategis dalam memperoleh hasil belajar peserta didik. Salah satu peran guru memberikan motivasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran sehingga rajin mengikuti pembelajaran.

Baca juga:  Belajar Menyenangkan dengan Pembelajaran Discovery Berbantukan Nyanyian

Untuk mendukung minat belajar sejarah diperlukan model pembelajaran. Model pembelajaran adalah kerangka kerja yang memberikan gambaran sistematis untuk melaksanakan pembelajaran agar membantu belajar peserta didik dalam tujuan tertentu yang ingin dicapai. Artinya, model pembelajaran merupakan gambaran umum namun tetap mengerucut pada tujuan khusus.

Salah satu model pembelajaran dengan menggunakan sumber artefact dalam kajian sumber cagar budaya. Model pembelajaran kontekstual dengan konsep yang mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata.

Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas peserta didik, melakukan dan mengalami, tidak hanya monoton dan mencatat. Model mengajar ini juga dapat mengembangkan kemampuan sosial peserta didik karena dihadapkan pada situasi dunia nyata.

Dengan cara ini diharapkan proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Model pembelajaran ini memberikan pengalaman langsung melihat dan mengetahui sejarah yang sedang dipelajari.

Peserta didik diajak berwisata sejarah secara langsung ke berbagai tempat peninggalan sejarah di sekeliling. Terutama tempat bersejarah yang ada di sekitar lingkungan masing-masing. Biasanya objek wisata sejarah ini sudah dimasukkan dalam cagar budaya wilayah.

Baca juga:  Layanan Mediasi Atasi Konflik Siswa

Belajar sejarah dengan model pembelajaran kontekstual dengan berwisata sejarah untuk mengajak peserta didik tidak bosan. Sebab, tidak hanya duduk membaca, melihat buku, mendengarkan cerita guru atau diskusi dalam kelas. Peserta didik menjadi lebih tertarik karena langsung melihat objek pembelajaran dan bangga karena daerah di sekelilingnya mempunyai peranan dalam sejarah yang sedang dipelajari.

Metode ini membuat peserta didik mendapatkan informasi langsung tentang segi positif dan negatifnya masa lalu. Berbagai langkah yang ditempuh dalam model pembelajaran ini adalah mengajak peserta didik untuk mengunjungi peninggalan sejarah. Sehingga mereka tahu lebih banyak dari apa yang tidak tertulis dalam buku pelajaran. Selain itu memberikan pengalaman langsung dengan menunjukkan bukti sejarah.

Baca juga:  Asesmen Nasional (AN): Cara Memotret Sistem Pendidikan secara Keseluruhan

Belajar sejarah dengan langsung melihat sumbernya bisa memberikan manfaat positif bagi peserta didik. Diantaranya menanamkan rasa bangga terhadap lingkungannya. Karena mempunyai peranan dalam sejarah. Sehingga mau menjaga dan melestarikan sumber sejarah terutama benda peninggalan sejarah. Dengan belajar dari sumber sejarah sosiofact tentu akan membuktikan jika tokoh-tokoh masyarakatnya mempunyai peranan yang selama ini tidak pernah tertulis dalam buku pelajaran. Sehingga menambah khasanah literasi budaya karena memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar langsung dengan obyek materi di lapangan.

Manfaat bagi guru yaitu menunjukkan bahwa di lingkungan tempat tinggal peserta didik bisa dijadikan sumber sejarah lokal. Dengan begitu, sekolah bisa menginventarisir peninggalan sejarah yang ada di sekitarnya. Sehingga bisa sama-sama menjaga dan melestarikan dengan ikut mendukung pelestarian cagar budaya lokal. (bk1/fth)

Guru SMA Negeri 1 Kajen, Kab. Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya