alexametrics

Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di Masa Pandemi

Oleh: Usman Abdul Hakim,S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, DI awal pandemi, pemerintah menerapkan prinsip memprioritaskan kesehatan dan keselamatan dalam penyelenggaraan pendidikan dengan mempertimbangkan tumbuh kembang anak dan hak-hak anak.

Setelah lebih dari setahun sekolah tidak mengadakan kegiatan tatap muka,pembelajaran dilakukan secara daring.Ternyata pembelajaran daring banyak menimbulkan masalah bagi guru,siswa dan orang tua.Banyak keluhan yang datang dari orangtua siswa.

Mereka mengeluhkan sarana untuk pembelajaran daring,mulai dari handpon,paket kuota dan jaringan yang sulit dijangkau.Meskipun mereka mandapat bantuan kuota pendidikan dari pemerintah,namun hal tersebut tidak membuat pelaksanaan daring semakin mudah.

Dampak negatif dari pelaksanaan pembelajaran daring,anak-anak kehilangan semangat belajaran,kedisiplinan bahkan tanggung jawab tugas sekolah kebanyakan dikerjakan oleh orang tua sehingga guru lebih sulit untuk mengukur tingkat keberhasilan belajar siswa.

Orang tua juga merasa kesulitan dengan tugas-tugas yang diberikan guru,karena secara tidak langsung merekalah yang kemudian menjadi guru di rumah.Tidak sedikit mereka yang akhirnya bertengkar dengan anaknya. Melihat kondisi yang seperti ini,tentunya sangat memprihatinkan.Oleh karena itu pemerintah memutuskan melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

Baca juga:  Make A Match, Memudahkan Siswa Belajar Keberagaman di Indonesia

Alhamdulillah dari hasil verifikasi Dinas Pendidikan Kabupaten Pemalang,30 sekolah Dasar di Kecamatan Moga diperkenankan untuk mengadakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas. Maka sejak tanggal 1 September 2021 SDN 02 Sima mulai menyelenggarakan PTM terbatas.Hal ini tentunya sangat menggembirakan bagi guru,anak didik dan orang tua siswa.

Mereka menyambut dengan suka cita. Anak-anak mulai berangkat ke sekolah menggunakan pakaian seragam yang baru tentunya.Karena selama masa pandemi pakaian mereka tidak bisa dipakai.

Meskipun barangkat sekolah hanya 50% jumlah siswa,tidak membuat mereka patah semangat. Mereka bertekad untuk mengejar ketinggalan selama belajar daring.

Adapun bebrapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah agar dapat diverifikasi oleh dinas terkait diantaranya :Sekolah harus memiliki MOU dari Dinas Kesehatan,dalam hal ini Puskesmas Kecamatan sebagai mitra kerja samanya.

Sekolah harus memiliki ijin persetujuan dari orang tua siswa,jika mereka mengijinkan,maka pembelajaran dapat dilaksanakan.Tetapi jika mereka tidak mengijinkan,maka pembelajaranpun tidak bisa terselenggara.

Baca juga:  Asyik Belajar Listrik dengan Kentang

Tersedianya fasilitas yang ada disekolah seperti tempat cuci tangan,sabun cuci tangan dan tisyu yang ada disetiap kelas, adanya masker cadangan yang harus disediakan oleh sekolah minimal dua kali jumlah siswa di sekolah tersebut.

Hal ini dimaksudkan agar apanila siswa yang datang ke sekolah tidak memekai masker, maka mereka akan menggunakan masker yang disediakan oleh sekolah.

Setiap hari sebelum pembelajaran dimulai semua ruang kelas harus terlebih dahulu disemprot dengan cairan disinfektan.Sebelum memasuki halaman sekolah anak-anak harus dicek suhunya terlebih dahulu.Jika suhu anak lebih dari 37.50⁰C maka anak tersebut tidak diperkenankan masuk ke ruang kelas.

Sebelum masuk ke ruang kelas mereka harus cuci tangan terlebih dahulu ditempat cuci tangan yang sudah tersedia. Jumlah siswa yang mengikuti kegiatan tatap muka terbatas setiap hari hanya 50% dari jumlah total siswa keseluruhan.Kedatangannyapun antar kelas diberi jarak waktu kurang lebih 10 menit tiap kelasnya.

Baca juga:  Pembelajaran Cuaca lebih Asyik dengan Permainan KIM

Pelaksanaan pembelajaran berlangsung hanya 4 jam pelajaran atau 2 jam waktu yaitu 120 menit.Jarak tempat dudukpun dibatasi satu anak satu meja. Dalam pembelajaran di kelas tidak diperkenankan ada guru lain selain guru kelasnya.

Anak -anak diberi waktu untuk istirahat kurang lebih 15 menit, namun istirahat tersebut dilakukan di dalam kelas. Mereka tidak diperkenankan keluar kelas,oleh karena itu mereka diwajibkan membawa bekal dari rumah.

Ketika pembelajaran telah usai maka untuk pulangpun diatur secara bergiliran,sehingga masing-masing anak tidak bertemu lintas kelas.

Melalui PTM terbatas sedikit demi sedikit kita mengembalikan semangatt belajar yang telah hilang,juga mengembalikan rasa tanggung jawab yang telah bergantung pada orang tua.

Kita sudah jenuh berada dirumah. Semoga pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas bisa berjalan dengan lancar,biar kedaan kita tidak semakin terpuruk dan pandemi segera berlalu. (ra2/zal)

Guru SDN 02 Sima, Pemalang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya