alexametrics

Pembelajaran Keterampilan Membaca Anekdot dengan Metode Pagu

Oleh : Makfud, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Cerita lucu sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Cerita itu dilakukan baik disengaja maupun tidak sengaja.

Cerita lucu yang disengaja berdasarkan pengalaman, untuk memberikan hiburan pada orang lain agar tertawa. Misalnya kita menceritakan orang lain yang berbuat tidak baik dengan bahasa sendiri yang mengandung kelucuan.

Kalau cerita yang tidak sengaja, kadang kita lakukan tidak ada unsur kesengajaan tapi mengandung kelucuan. Misalnya kita sedang serius bekerja, ada yang memanggil, kadang kita menjawab tidak sesuai panggilannya.

Pada pembelajaran anekdot, bisa menggunakan cerita humor yang terjadi masyarakat. Akan lebih menarik kalau cerita humor itu dialami oleh guru yang bersangkutan. Pembelajaran akan lebih menarik dan berkesan bagi siswa.

Pada pembelajaran anekdot ini, penulis akan akan menggunakan metode pagu atau pengalaman cerita guru. Dalam cerita ini, guru bisa menyajikan cerita baik humor maupun anekdot. Cerita humor lebih menekankan unsur kulucuannya, hanya untuk menghibur.

Baca juga:  Meningkatkan Kemampuan Menulis dengan Teknik Kata Kunci dan Media Gambar

Cerita anekdot mengandung kelucuan, sindiran kepada orang lain yang mengandung makna tertentu. Fungsinya untuk mengingatkan orang untuk berbuat yang yang baik.

Menurut Dananjaya (1997:11), “Anekdot adalah kisah fiksi lucu pribadi seseorang tokoh atau beberapa tokoh yang benar-benar ada.”

Tokoh yang disajikan bisa seseorang atau tokoh-tokoh yang terkenal. Maksud dibuat cerita anekdot itu untuk menyindir perihal seseorang berkaitan tingkah lakunya atau perbuatannya. Cerita itu benar-benar terjadi tidak direkayasa. Hanya ceritanya dibuat kocak atau lucu.

Cerita anekdot itu dimaksudkan dalam pembelajaran, untuk memberikan gambaran kepada siswa kisah-kisah lucu tapi mengandung pelajaran tertentu. Dengan metode pagu ini, siswa SMAN 1 Muntilan benar-benar respons terhadap materi anekdot yang diberikan guru. Hasilnya lebih baik dan siswa cepat paham dengan maksud cerita anekdot.

Baca juga:  Meningkatkan Pemahaman Pecahan Sederhana Melalui Media Konkret

Bandingkan dengan contoh cerita anekdot yang sudah ada di buku. Respons siswa kurang tertantang dengan materinya. Pengalaman cerita guru (pagu) tidak ada pada cerita yang lain. Memang cerita lucu banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun akan lebih menarik kalau yang bercerita guru sendiri. Pengalaman yang lucu dialami gurunya sendiri.

Menurut Graham (dalam Rahmanadia, 2010:2) kata anekdot digunakan memaknai kata “joke” dari bahasa Inggris yang bermakna suatu narasi atau percakapan yang lucu (humorous).

Cerita anekdot dapat berupa percakapan atau narasi yang mengandung hal-hal yang lucu. Tentu cerita itu dari ide atau pengalaman gurunya. Cerita anekdot berupa cerita yang menarik berdasarkan pengalaman pribadi guru. Cerita yang berupa dialog yang mengandung hal-hal yang lucu dari guru sendiri. Hal itu yang membuat menarik bagi siswa.

Kita bandingkan pembelajaran yang biasa yang belum menggunakan metode pagu. Siswa kurang tertarik dengan materi anekdot. Materinya sama tentang anekdot, siswa kurang antusias mengikuti pembelajaran teks anekdot. Penulis berpikir bagaimana agar pembelajaran anekdot lebih menarik bagi siswa. Kemudian penulis mencoba menggunakan metode pengalaman cerita guru (pagu) yang lucu, ternyata siswa lebih bergairah dalam mengikuti pembelajaran anekdot.

Baca juga:  Pembelajaran Bimbingan TIK lebih Menarik dengan Quizizz

Dari metode pagu, penulis terapkan pada kelas yang berbeda, ternyata hasilnya lebih baik. Siswa antusias mengikuti pembelajaran bahkan hasil pemahaman siswa maksimal. Termasuk penilaian teks anekdot baik nilai kognitifnya maupun nilai keterampilan.

Jadi pembelajaran dengan metode pagu dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap teks anekdot. Siswa progresnya meningkat dan hasil nilai juga meningkat. Siswa lebih tertantang untuk membuat cerita anekdot sendiri, berdasarkan pengalaman siswa yang menarik bahkan lucu. (*/lis)

Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Muntilan, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya