alexametrics

Dinamika Pembelajaran Daring

Oleh ; Syaeful Khikayat

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, KONDISI pembelajaran pada masa pandemi harus dapat dimanfaatkan dengan perubahan pola berpikir, pola belajar, pola inteksi ilmiah yang lebih bermakna sehingga kekakuan dalam menyikapi masa Covid 19 dapat dimaksimalkan dengan produktivitas yang mencirikan kebermaknaan.

Pembelajaran lazimnya berlangsung di ruang kelas dengan jadwal tertentu berubah menjadi pembelajaran di ruang masing-masing dengan waktu yang tidak praktis sesuai jadwal pembelajaran. Kondisi ini lebih popular dengan istilah pembelajaran “daring” (pembelajaran dalam jaringan) yang sebelumnya juga sudah sangat familiar dan sering dilakukan, namun sebagai alternatif di antara beberapa bentuk pembelajaran yang lebih efektif.

Lamanya masa pembelajaran memunculkan banyak rasa, baik dari dosen, guru, siswa, bahkan sampai orang tua. Ragam komentar dan sumpah serapah yang terlontar di masyarakat dan seringnya pertanyaan pertanyaan yang muncul dari orang tua kepada sekolah yang kadang sampai bingung untuk menjawab seperti apa.

Respon pro-kontra terhadap bentuk pembelajaran daring ditemukan dalam varian komentar beberapa unsur, yaitu; siswa-mahasiswa, para orang tua dan guru-dosen pada ruang obrolan di berbagai media sosial facebook,Whatsapp, dan Instagram. Komentar setiap unsur tersebut memiliki pesan kuat yang mewakili pendapat mereka dalam menyikapi aktivitas belajar berbasis sistem pembelajaran daring selama masa pandemi.

Baca juga:  Balestro Solusi Meningkatkan Hasil Belajar Bernyanyi Lagu Daerah

Selain itu, terungkap pula ekspresi perasaan kejenuhan dan kebosanan yang ditengarai oleh keinginan untuk berinteraksi dengan komunitas belajar di sekolah, di antaranya dituangkan dalam bentuk status medsosos, nyanyian, puisi dan video berdurasi pendek untuk menyampaikan perasaan kerinduan mereka untuk bersua di sekolah kembali.

Dalam jurnal Universitas Ahmad Dahlan yang berjudul Pemanfaatan Teknologi Media Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, tanggal 2 Desember 2020 mengemukakan bahwa banyak sekali teknologi media pembelajaran yang berbentuk platform yang digunakan di setiap instansi pendidikan, pada tingkat sekolah maupun perguruan tinggi untuk mengefektifkan proses pembelajaran yang dilakukan.

Seperti Google Classroom, E-learning, YouTube, WAG, Edmodo, Zoom, Google Meet dan platform lainnya yang mampu menjadi penunjang fasilitas belajar dari rumah. Tahapan demi tahapan dalam perbaikan pembelajaran di lakukan demi berhasilnya pendidikan pada anak.

Baca juga:  Meningkatkan Pemahaman Matematika Menggunakan Pen Tablet

Uji coba sekolah tatap muka sudah di coba satu minggu anak bertemu dua kali dengan berangkat 50%. Pemanggilan orang tua kesekolah dalam 1 bulan dua kali guna bisa berkomunikasi langsung tentang pendidikan anaknya juga dilakukan. Setiap anggota inti keluarga dapat memediasi kebutuhan belajar dan interaksi personal, intrapersonal dan interpersonal lebih terwujud dalam suasana pendidikan keluarga.

Apakah karena kami sekolah di pedesaan dengan tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah atau minat sekolah anak yang memang kurang, banyak faktor yang menjadi tantangan kami para guru di daerah pinggiran. Para tenaga pendidik (guru-dosen) memiliki ruang komunikasi yang juga dimanfaatkan untuk mengekspresikan dan mendeskripsikan kesiapan mereka dalam mengawal program dan sistem penyelenggaraan pendidikan tetap berlangsung pada seluruh jenjang.

Sampai hari ini kami pihak sekolah pun belum bisa mendapatkan ijin tatap muka, walaupun segala aturan sudah dipenuhi agar anak bisa sekolah normal. Respon dan tanggapan beberapa unsur ini mengindikasikan bahwa perubahan itu adalah keniscayaan, setiap individu harus dapat menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan. Perubahan sistem pembelajaran di masa pandemi ini adalah wujud transformasi tidak terduga dari perkembangan dinamika pembelajaran pada seluruh jenjang di masa mendatang saat badai Covid 19 telah berlalu.

Baca juga:  Cara Menghadapi Sifat Malas Belajar Anak pada Mapel Pendidikan Agama Islam

Pada akhirnya, setiap individu diharapkan akan terbiasa dengan kondisi ini dan bahkan menjadikan momentum pandemi ini sebagai titik permulaan untuk membudayakan kebiasaan baru dan bernilai positif dalam dunia pendidikan, khususnya dalam kegiatan belajar dan pembelajaran.

Kajian ini menegaskan bahwa setiap perubahan dalam sistem pembelajaran dapat mendesain kondisi baru dan memiliki fase pembeda dengan kondisi sebelum dan yang akan datang maka setiap unsur terkait harus dapat menyesuaiakan dengan perubahan tersebut untuk mewujudkan keberhasilan pembelajaran secara komprehensif. Seperti di SMPN 3 Pengadegan. (bk1/zal)

Guru SMPN 3 Pengadegan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya