alexametrics

Membangun Budaya Literasi Bahasa Inggris dengan Enroment 30

Oleh : Kuswardani Satyayoga, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mengajar merupakan suatu kebanggaan bagi penulis. Dengan mengajar dapat membagi pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki selama menjalani hidup. Dari mengajar juga mendapat pengalaman menarik. Baik pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan.

Bertemu dengan berbagai murid dengan karakter yang berbeda-beda contohnya. Kendala dalam proses pembelajaran salah satu contoh yang kurang menyenangkan. Meskipun begitu sebagai pengajar yang sudah men-share pengetahuan lebih dari 20 tahun, itu harus menjadi trigger untuk berkembang lebih baik.

Kendala yang paling mencolok saat ini adalah kurangnya tingkat literasi di kalangan pembelajar. Berdasar berbagai macam penelitian dan survei tingkat literasi Indonesia masih sangat rendah. Survei PISA yang dilakukan di Indonesia menempatkan negara dengan kepulauan terbesar ini di posisi 74 dari 84 peserta.

Berarti berada diposisi 10 terbawah. Lebih lagi survei yang dilakaukan oleh EF English Profiency Index (EF EFD) yang dilakukan pada tahun 2020 mengenai tingkat literasi yang berhubungan dengan bahasa Inggris menempatkan Indonesia di posisi 74 dari 100.

Baca juga:  Tingkatkan Motivasi Belajar IPA melalui Metode Role Playing

Kita sangat jauh ketinggalan oleh tetangga Singapura di posisi 10, Philipina posisi 27 dan Malaysia di posisi 30. Jika tingkat literasi terus seperti ini maka akan berbahaya untuk ke depan.

Banyak pakar yang mengatakan membaca adalah jalan menuju kesuksesan. Tapi kenyataan malah sebaliknya, pelaksanaan literasi sangat minim.

Survei yang dilakukan Ahmad Rifai yang dilansir pada Kompas menjelaskan efek kurangnya literasi akan memunculkan generasi pemalas, tumbuh menjadi genenerasi yang kurang pengetahuan. Akan susah mendapat pekerjaan, susah bersosialisasi, susah mengembangkan potensi. Lebih parah adalah mereka tidak peduli terhadap lingkungan (https://www.kompas.com/skola/read/2020/05/13/063500969/apa-dampak-negatif-jika-generasi-muda-tidak-suka-membaca-buku-jawaban-tvri).

Oleh sebab itu guru harus berusaha menanamkan kebiasaan membaca kepada anak didik agar kejadian seperti di atas terminimalisasi. Sebagai pengajar bahasa Inggris yang kental dangan pembelajaran yang berhubungan dengan literasi ataupun membaca, penulis mempraktikan inovasi 30 enroment.

Baca juga:  Interview Games Permudah Belajar Asking for and Giving Information

Metode 30 enroment adalah cara untuk “memaksa” anak mau membaca. Ini metode atau cara yang penulis gunakan agar anak mau membaca dalam 30 menit.

Metode pembelajaran menurut Sutikno (2009) adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan.

Metode 30 enroment singkatan dari English reading movement in 30 minutes. Dalam teknik ini anak akan disediakan buku atau bacaan dalam bahasa Inggris. Mereka diminta untuk membaca selama 30 menit. Setelah itu diminta menuliskan resume dari apa yang mereka baca dalam satu paragraf dan nanti akan dipresentasikan di depan kelas.

Baca juga:  Belajar Siklus Air Mengasyikkan dengan Media Diorama

Prosedur yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut : pertama, guru menyiapkan bahan bacaan atau siswa membawa ataupun mencari bahan bacaan tersendiri. Selanjutnya siswa bertukar bacaan yang dibawa dengan teman sekelas. Siswa membaca bahan bacaan selama 30 menit.

Siswa membuat ringkasan atau resume bacaan tersebut dalam 1 paragraf dan diceritakan kepada teman di dekatnya atau teman sekelasnya. Dengan ini siswa akan terbiasa membaca dan terbiasa menyampaikan pendapat dalam bahasa Inggris. Harapannya, ke depan dimulai dengan membaca buku bahasa Inggris anak akan lebih tertarik membaca buku lain untuk menunjang pengetahuannya. (*/lis)

Guru Bahasa Inggris SMAN 3 Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya