alexametrics

Teknik Podomoro, Belajar Keseimbangan Ekosistem saat Pandemi Jadi Asyik

Oleh: Sri Rahayu, S. Pd. SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Saat ini pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Pembelajaran tatap muka (PTM) masih belum bisa dilakukan. Dengan pembelajaran yang dilakukan selama ini, baik secara daring maupun luring harus tetap berjalan untuk memenuhi hak anak menerima pelajaran dengan baik.

Maka dari itu guru kelas 6 di SDN Soronalan 1, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang menggunakan teknik podomoro dalam pembelajaran keseimbangan ekosistem.

Podomoro adalah sebuah teknik belajar berdasarkan time management yang diciptakan oleh Francesco Cirillo. Teknik podomoro membagi waktu belajar menjadi interval bernama “jendela kerja” selama 25 menit.

Setelah 25 menit, “jendela kerja” ini berakhir, lalu diselingi waktu istirahat. Waktu istirahat ini digunakan untuk menyegarkan kembali saraf otak dan juga tenaga untuk memulai belajar lagi.

Dalam pembelajaran keseimbangan ekosistem, waktu istirahat bisa juga digunakan untuk mengamati lingkungan sekitar yang terdiri dari beberapa bahkan banyak ekosistem yang menyusunnya.

Baca juga:  Dinamika Kepala Sekolah sebagai Manajer di Sekolah

Siswa diharuskan beristirahat selama 3-5 menit setelah timer berbunyi walaupun tugas atau materi yang dipelajari belum selesai.

Pada waktu istirahat ini siswa diperbolehkan mengakses smartphone atau hal lain. Apabila masih ada materi atau tugas yang harus dipelajari lagi maka kembali ke langkah yang kedua secara berulang hingga materi atau tugasmu selesai.

Siswa boleh menambah waktu istirahat hingga 15 sampai 30 menit setelah mengulangi belajar yang keempat kalinya. Cara belajar dengan teknik pomodoro ini banyak digunakan orang. Kenapa? Karena cara belajar pomodoro memang efektif untuk menghindari distraksi yang bisa mengganggu proses belajar.

Waktu istirahat dibuat singkat dimaksudkan agar siswa tidak kebablasan melakukan hal-hal lain yang bisa menyita waktu. Waktu fokus belajar hanya 25 menit ini ditujukan agar siswa tidak bosan dan menyegarkan otak agar tidak kelelahan.

Pembelajaran menyenangkan dibantu media pembelajaran dengan teknik podomoro yang relevan digunakan saat pandemi, membuat pembelajaran bermakna.

Baca juga:  Belajar Gerak Dasar Lari melalui Permainan Tradisional Bentengan

Fungsi media pembelajaran menurut Hamallik (2008: 49) untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang efektif, penggunaan media merupakan bagian integral dalam sistem pembelajaran. Media pembelajaran penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

Penggunaan media dalam pembelajaran adalah untuk mempercepat proses pembelajaran dan mambentuk siswa dalam upaya memahami materi yang disajikan oleh guru dalam kelas. Penggunaan media dalam pembelajaran dimaksudkan untuk mempertinggi mutu pendidikan. Maka siswa akan diberi pengertian dan konsep yang sebenarnya secara realistis dan teliti. Serta memberi pengalaman menyeluruh yang pada akhirnya memberi pengertian yang konkret.

Selanjutnya fungsi utama media pembelajaran adalah sebuah komponen atau alat bantu yang dapat meningkatkan efektifitas proses pembelajaran. Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman.

Baca juga:  Belajar Menyimak Iklan dengan Metode Cooperative Learning

Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu (Sudjana dalam Rusman, 2010: 1). Artinya, seluruh aktivitas anak memperhatikan sesuatu merupakan proses belajar. Berawal dari situ maka pembelajaran ekosistem di kelas 6 tidak terlepas dari interaksi siswa sendiri dengan orang lain maupun lingkungannya.

Dengan teknik podomoro, siswa belajar menyenangkan dan diberi waktu istirahat, maka pembelajaran lebih efektif dan efisien serta bermakna. Siswa tidak jenuh dengan pelajaran. Terutama untuk materi keseimbangan ekosistem yang sangat dekat dengan diri anak itu sendiri.

Siswa merasa nyaman dan enjoy dalam belajar. Dan itu sangat mendukung pada hasil belajar siswa. Hal tersebut dibuktikan dengan perolehan nilai siswa yang meningkat. Bahkan sebagian besar siswa tuntas dengan materi yang bermakna. (pm2/lis)

Guru SDN Soronalan 1, Kec. Sawangan, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya