alexametrics

Membangun Kemandirian Peserta Didik melalui WhatsApp

Oleh: Yuni Lestariningsih, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pandemi covid-19 telah mengubah kebiasaan belajar bagi peserta didik. Namun sayangnya, pergeseran pola pembelajaran dari tatap muka menjadi daring tidak sedikit turut membawa beberapa dampak negatif.

Salah satu dampak tersebut adalah menurunnya tingkat kedisiplinan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Di jenjang SMP, peserta didik cenderung belum memiliki pola belajar yang mandiri dan terstruktur. Hal ini tentu saja berpengaruh pada berbagai aspek dalam pembelajaran.

Dalam aspek sikap, pembelajaran jarak jauh membuat peserta didik kurang disiplin. Misalnya, peserta didik cenderung tidak tepat waktu dalam mengikuti kelas daring. Bahkan beberapa peserta didik menyepelekan kehadiran, dengan alasan karena tidak bertemu langsung dengan guru. Tidak sedikit diantara mereka yang merasa bahwa tidak ada konsekuensi terhadap ketidakdisiplinan.

Dalam hal pengumpulan tugas, beberapa peserta didik juga menunjukkan sikap yang kurang bertanggungjawab. Mereka tidak mengumpulkan tugas tepat waktu karena merasa tidak ditagih secara langsung oleh guru mata pelajaran.

Baca juga:  Pendidikan Didominasi Akal, Kesampingkan Hati Nurani

Selanjutnya, dari aspek kognitif, peserta didik kurang optimal dalam menyerap materi karena hanya belajar lewat teks dan video tanpa ada pendampingan dari guru. Selain itu, keragaman gaya belajar peserta didik belum tentu dapat terakomodasi dalam pembelajaran jarak jauh. Akibatnya, daya serap terhadap materi pembelajaran pun menurun.

Menilik permasalahan tersebut, guru Bimbingan dan Konseling memiliki peran penting untuk membantu peserta didik membangun kebiasaan belajar baru yang lebih mandiri, disiplin dan bertanggungjawab. Pasalnya, kemandirian belajar berkorelasi dengan prestasi belajar peserta didik.

Hal ini sejalan denhan hasil penelitian Ansori dan Herdiman (2019) yang menyatakan bahwa peserta didik yang memiliki kemandirian belajar terbukti memiliki prestasi belajar yang lebih baik.

Berangkat dari pemikiran tersebut, dalam kapasitas saya sebagai guru Bimbingan dan Konseling, maka turut bertanggung jawab dalam membantu meningkatkan kemandirian belajar peserta didik. Salah satu wujudnya adalah dengan memanfaaatkan media sosial berupa aplikasi WhatsApp.

Baca juga:  Metode Layanan Bimbingan dan Konseling Blended Learning di Era Industri 4.0

Aplikasi ini dipilih karena hampir semua peserta didik menggunakannya. Selain itu, aplikasi ini berbiaya murah dan praktis digunakan. Melalui WhatsApp akan memungkinkan untuk mendapatkan tanggapan yang cepat sehingga mempermudah komunikasi antara guru dengan peserta didik.

Berangkat dari pandangan di atas, maka guru Bimbingan dan Konseling dapat memanfaatkan WhatsApp untuk membangun kemandirian belajar melalui empat tahap. Pada tahap pertama, guru Bimbingan dan Konseling bekerjasama dengan guru mata pelajaran dan wali kelas untuk mengidentifikasi permasalahan yang dialami peserta didik.

Pada tahap kedua, guru Bimbingan dan Konseling membangun hubungan baik dengan orang tua guna mengeksplorasi kebiasaan peserta didik di rumah. Selanjutnya pada tahap ketiga, guru Bimbingan dan Konseling memantau kegiatan belajar peserta didik di rumah melalui aplikasi WhatsApp, baik di dalam grup maupun secara individu. Dan terakhir pada tahap keempat, guru Bimbingan dan Konseling akan memantau kedisiplinan dalam mengikuti pembelajaran daring beserta hasil belajarnya.

Baca juga:  Selesaikan Persamaan Linear Dua Variabel dengan Matriks

Mengacu pada penjelasan di atas, pada tahun pelajaran 2020/2021, empat tahap kegiatan tersebut telah saya lakukan dan terbukti membuahkan hasil yang positif. Menghadapi beberapa peserta didik yang bermasalah dalam hal kedisiplinan pengumpulan tugas, guru Bimbingan dan Konseling menggunakan WhatsApp untuk membangun kemandirian peserta didik.

Hasilnya di SMP Negeri 2 Salatiga, lebih dari 90% peserta didik berhasil melengkapi tagihan tugas di seluruh mata pelajaran. Dengan demikian, hasil ini membuktikan bahwa penggunaan media sosial WhatsApp sangat efektif untuk membangun dan memantau kebiasaan belajar baru yang lebih mandiri dan bertanggungjawab. (bk1/ton)

Guru BK SMP Negeri 2 Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya